Loading
Direktur Pascasarjana Hubungan Internasional Universitas Paramadina, Ahmad Khoirul Umam. (Foto: Dok. Humas Universitas Paramadina)
JAKARTA, ARAHKITA.COM — Ketegangan geopolitik global kembali meningkat setelah Amerika Serikat mengambil langkah keras terhadap Venezuela. Situasi ini dinilai bukan sekadar konflik dua negara, melainkan sinyal babak baru persaingan kekuatan besar yang berpotensi merembet ke kawasan lain.
Direktur Pascasarjana Hubungan Internasional Universitas Paramadina, Ahmad Khoirul Umam, menilai Indonesia perlu meningkatkan kewaspadaan strategis agar tidak terseret ke pusaran konflik global yang dampaknya bisa menyasar energi, perdagangan, hingga stabilitas keamanan kawasan.
Menurut Umam, ada tiga pekerjaan rumah utama yang harus segera diperkuat: kedaulatan energi, ketahanan ekonomi, serta konsistensi politik luar negeri bebas aktif.
“Indonesia harus membaca perkembangan ini dengan jernih. Penguatan kedaulatan energi, ketahanan ekonomi, dan konsistensi politik luar negeri bebas aktif menjadi kunci agar tidak terjebak dalam pusaran konflik kekuatan besar,” ujarnya dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Minggu (11/1/2026).
Venezuela Dinilai Bukan Akhir dari Operasi GeopolitikUmam memandang Venezuela kemungkinan bukan target terakhir dalam rangkaian operasi geopolitik dan militer AS. Ia menilai eskalasi ini menandai fase baru politik global: negara yang kaya sumber daya strategis dan tidak sejalan dengan kepentingan Washington akan berada dalam posisi rentan.
“Venezuela hanyalah satu bab dalam narasi yang lebih besar. Operasi militer serupa sangat mungkin diarahkan ke negara atau wilayah lain yang memiliki nilai strategis energi dan posisi tawar ekonomi-politik,” kata Umam.Ia menyebut beberapa wilayah yang dianggap punya kerentanan serupa karena posisi strategisnya, mulai dari Greenland, Iran, Kolombia, Chili, hingga sejumlah negara di kawasan Selatan Global.
Demonstrasi Kekuatan dan Perang Psikologis
Lebih jauh, Umam menilai langkah AS juga bisa dibaca sebagai demonstrasi kekuatan militer dan politik untuk menegaskan kapasitas koersif global, meski pengaruh ekonomi-politik AS secara relatif dinilai mengalami penurunan.
Dalam konteks ini, operasi militer tidak hanya bertujuan menguasai ruang strategis, tetapi juga sebagai bentuk perang psikologis: menciptakan efek gentar, meningkatkan tekanan diplomatik, dan mengirim pesan bahwa tatanan global masih diharapkan bergerak sesuai kepentingan Washington.
Namun, Umam mengingatkan strategi koersif seperti ini memiliki risiko tinggi.
Jika eskalasi terus berlanjut, dunia bisa menyaksikan konflik lintas kawasan yang mendorong munculnya perimbangan kekuatan, perlawanan asimetris, hingga konsolidasi blok alternatif—yang ujungnya meningkatkan instabilitas keamanan global.
AS: Operasi untuk Batasi Pendanaan Narkoterorisme
Sebelumnya, Wakil Presiden AS JD Vance menyatakan operasi militer di Venezuela bertujuan membatasi pendanaan narkoterorisme, sekaligus memberi Washington kendali yang lebih besar terhadap sumber daya energi global.
Dalam wawancara dengan Salem News Channel pada Selasa (6/1/2026), Vance menyebut AS menginginkan “yang terbaik” bagi rakyat Venezuela maupun warga Amerika Serikat.
“Siapa pun pemimpin negara itu nantinya, dia harus mau bekerja sama dengan Amerika Serikat,” kata Vance dikutip Antara.
Ia juga menuding kebijakan Venezuela sebelumnya memberi peluang bagi pesaing asing memperoleh akses energi murah, sementara pemasukan negara tersebut diduga digunakan untuk mendukung aktivitas yang dinilai mengancam kepentingan AS.
Trump Klaim Ada Kesepakatan Penyerahan Minyak
Presiden AS Donald Trump juga mengumumkan bahwa otoritas sementara Venezuela disebut telah menyepakati penyerahan 30 hingga 50 juta barel minyak kepada Amerika Serikat.
Sementara itu, pada 3 Januari lalu, AS dilaporkan melancarkan serangan besar ke Venezuela dan menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro beserta istrinya, Cilia Flores, untuk dibawa ke New York.
Trump menyatakan keduanya akan diadili atas dugaan keterlibatan dalam narko-terorisme dan disebut sebagai ancaman, termasuk bagi kepentingan AS.
Di tengah situasi tersebut, Umam menekankan bahwa Indonesia harus tetap fokus membangun daya tahan nasional. Dalam peta geopolitik yang cepat berubah, langkah paling aman bukan memilih blok, melainkan memperkuat fondasi dalam negeri agar Indonesia tidak mudah “terseret arus” konflik global.