Loading
Donald Trump menjawab pertanyaan dari anggota media selama pertemuan dengan para eksekutif minyak dan gas di Ruang Timur Gedung Putih pada 9 Januari 2026 di Washington DC. (Foto: Getty Images)
WASHINGTON, ARAHKITA.COM — Ketegangan baru kembali muncul di kawasan Karibia. Presiden Amerika Serikat Donald Trump melontarkan peringatan keras kepada Kuba: segera buat “kesepakatan” dengan Washington, atau bersiap menghadapi dampak besar.
Ancaman itu disampaikan Trump setelah operasi militer Amerika di Venezuela pada 3 Januari yang berujung pada penangkapan pemimpin Venezuela, Nicolás Maduro, dalam serangan di Caracas. Situasi ini bukan hanya mengguncang Venezuela, tetapi juga menyeret Kuba ke pusaran konflik baru.
Dalam unggahan di Truth Social pada Minggu, Trump menyinggung hubungan lama Kuba dan Venezuela yang selama bertahun-tahun dikenal saling menguntungkan: Venezuela memasok minyak, sementara Kuba disebut memberi dukungan keamanan.
Trump bahkan menulis dengan nada tegas bahwa masa itu sudah berakhir.
“Tidak akan ada lagi minyak atau uang yang masuk ke Kuba—nol. Saya sangat menyarankan mereka membuat kesepakatan, sebelum terlambat,” tulis Trump di Truth Social dikutip dari BBC.com.
Menurut laporan yang dikutip, Venezuela selama ini diyakini mengirim sekitar puluhan ribu barel minyak per hari ke Kuba, pasokan yang sangat krusial bagi negara pulau tersebut untuk menjaga listrik tetap menyala dan roda ekonomi tetap bergerak.
Kuba dan Minyak Venezuela: Urat Nadi yang Terancam Putus
Kuba sudah lama berada dalam tekanan ekonomi—mulai dari pembatasan perdagangan, sanksi, hingga persoalan struktural di sektor energi. Dalam kondisi seperti itu, dukungan energi dari Venezuela menjadi “napas tambahan” yang penting.
Karena itulah, ketika Trump menyebut aliran minyak dan uang Venezuela akan dihentikan, pesannya terasa seperti ultimatum: Kuba harus memilih jalan diplomasi ala Trump—atau bersiap menghadapi babak baru krisis energi.
Trump Juga Singgung Korban Warga Kuba di Venezuela
Dalam pernyataannya, Trump juga menyinggung dampak operasi militer AS di Caracas. Pemerintah Kuba menyebut 32 warganya tewas dalam operasi tersebut. KMPH
Trump mengeklaim sebagian dari mereka berada di Venezuela untuk mendukung rezim Maduro. Ia menyebut Venezuela kini tak lagi membutuhkan perlindungan dari pihak-pihak yang selama ini berada di lingkaran kekuasaan Maduro.
Trump juga menegaskan, setelah Maduro ditangkap, Venezuela kini berada dalam “perlindungan” Amerika Serikat.
Pemerintah Kuba Belum Menjawab, tapi Sebelumnya Sudah Bersuara Keras
Hingga kini, pemerintah Kuba belum mengeluarkan respons terbaru atas ancaman Trump. Namun sebelumnya, Presiden Kuba Miguel Díaz-Canel mengecam operasi Amerika di Venezuela dan menyebut korban dari pihak Kuba sebagai “pejuang pemberani” yang menghadapi apa yang mereka sebut sebagai intervensi imperial.
Bagi Havana, isu ini bukan sekadar geopolitik biasa. Ini menyangkut dua hal yang sensitif sekaligus:
Marco Rubio Ikut Mengeraskan Nada
Tekanan terhadap Kuba juga muncul dari sisi diplomasi. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio—tokoh politik keturunan Kuba-Amerika—ikut mengirim sinyal panas. Ia menyebut jika dirinya berada di posisi pemimpin Kuba, ia akan merasa khawatir karena “mereka sedang dalam masalah besar”.
Dalam dinamika yang lebih provokatif, Trump bahkan memposting ulang pesan di media sosial yang menyiratkan bahwa Rubio bisa menjadi presiden Kuba. Trump menambahkan komentar singkat: “Kedengarannya bagus!”
Pernyataan semacam ini tentu berpotensi memperbesar ketegangan politik, karena menyentuh isu yang sangat sensitif bagi Kuba: campur tangan kekuatan asing terhadap kepemimpinan nasionalnya.
Dampaknya Mulai Terasa: Krisis Bahan Bakar dan Listrik Memburuk
Selain pernyataan politik, ada tekanan lain yang berjalan di lapangan: pasokan energi. Taktik Washington dalam menindak jaringan distribusi minyak Venezuela—termasuk penyitaan kapal tanker tertentu—disebut memperburuk kondisi bahan bakar dan listrik di Kuba.
Dengan kata lain, situasi ini bukan sekadar perang kata-kata. Jika aliran minyak benar-benar terhambat, Kuba berpotensi menghadapi gelombang pemadaman listrik dan gangguan ekonomi yang lebih luas.