Loading
Parlemen Venezuela secara resmi melantik Delcy Rodrguez sebagai presiden sementara Venezuela. (Antaranews)
KOTA MEKSIKO, ARAHKITA.COM – Pemerintah Venezuela meningkatkan langkah diplomasi di tengah memanasnya konflik dengan Amerika Serikat. Presiden sementara Venezuela, Delcy Rodríguez, mengatakan dirinya telah berbicara langsung dengan Presiden Brasil Luiz Inácio Lula da Silva, Presiden Kolombia Gustavo Petro, dan Perdana Menteri Spanyol Pedro Sánchez untuk membahas situasi terbaru yang disebut Caracas sebagai agresi ilegal.
Dalam pernyataan melalui akun Telegram, Jumat (9/1/2026), Rodríguez menegaskan komunikasi tersebut dilakukan untuk merespons apa yang ia sebut sebagai tindakan “kriminal, melanggar hukum, dan tidak sah” terhadap Republik Bolivarian Venezuela.
Rodríguez menyebut ketiga pemimpin itu sepakat bahwa kerja sama bilateral harus terus diperluas, namun tetap berpijak pada hukum internasional serta penghormatan terhadap kedaulatan negara. Menurutnya, prinsip tersebut penting untuk meredam eskalasi dan mencegah konflik meluas menjadi krisis regional.
Ia juga mengklaim telah menyampaikan laporan rinci mengenai serangan bersenjata di wilayah Venezuela yang disebut mengakibatkan lebih dari 100 korban jiwa, termasuk warga sipil dan personel militer.
Tak hanya itu, Rodríguez turut menuding adanya pelanggaran serius terhadap hukum internasional, termasuk dugaan pelanggaran imunitas Presiden Venezuela Nicolás Maduro dan istrinya Cilia Flores, yang di Venezuela dikenal sebagai figur penting dalam pemerintahan dilansir Antara.
Ketegangan meningkat setelah pada 3 Januari 2026, Amerika Serikat melancarkan operasi militer di Venezuela. Pemerintah Caracas menolak operasi itu dan menyebutnya sebagai bentuk agresi terhadap kedaulatan negara.
Sejumlah laporan internasional menyebut dalam operasi tersebut, Maduro dan Flores ditangkap lalu dibawa ke New York. Di Amerika Serikat, keduanya menghadapi proses hukum terkait dugaan keterlibatan dalam jaringan narkotika.
Presiden AS Donald Trump juga menyatakan Maduro dan Flores akan diadili atas tuduhan “narko-terorisme” serta diklaim sebagai ancaman keamanan.
Menanggapi situasi itu, Caracas meminta pertemuan darurat Dewan Keamanan PBB untuk membahas operasi militer tersebut dan dampaknya terhadap stabilitas kawasan.
Di sisi domestik, Mahkamah Agung Venezuela kemudian menetapkan pengalihan sementara tugas kepala negara kepada Wakil Presiden Delcy Rodríguez. Ia dilantik sebagai presiden sementara di hadapan Majelis Nasional pada 5 Januari 2026.
Reaksi internasional pun muncul. Rusia menyatakan solidaritas terhadap rakyat Venezuela dan menyerukan pembebasan Maduro serta pencegahan eskalasi lebih lanjut. Sementara China juga mendorong pembebasan segera Maduro dan Flores, sekaligus menekankan pentingnya penghormatan terhadap hukum internasional.