Loading
Menteri Luar Iran Seyed Abbas Araghchi berbicara saat upacara pembukaan First Caspian Governor's Forum di bagian utara kora Rasht, Iran, Selasa (18/11/2025). ANTARA/Xinhua/Shadati/aa.
BEIRUT, ARAHKITA.COM – Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan negaranya siap menghadapi kemungkinan perang apabila dipaksa masuk dalam konflik terbuka. Pernyataan itu disampaikan Araghchi saat tiba di Bandar Udara Internasional Rafik Hariri, Beirut, Kamis (8/1/2026), dalam rangka kunjungan resmi ke Lebanon.
Dalam pernyataannya kepada media, Araghchi menekankan bahwa Iran tidak punya agenda untuk memulai perang. Namun, menurutnya, Teheran sudah menyiapkan diri apabila konfrontasi dianggap tak terhindarkan.
“Kami siap menghadapi skenario apa pun. Kami tidak menginginkan perang, tetapi kami sepenuhnya siap untuk itu,” ujar Araghchi, dikutip dari Kantor Berita Nasional Lebanon.
Iran: Negosiasi Bisa Dilakukan, tapi Bukan di Bawah Tekanan
Meski menyatakan kesiapan menghadapi konflik, Araghchi menegaskan Iran masih membuka pintu diplomasi. Ia menilai negosiasi harus berjalan dengan prinsip saling menghormati dan tidak disertai tekanan.
Menurut Araghchi, proses perundingan tidak akan pernah efektif jika dilakukan melalui ancaman atau instruksi sepihak.
“Negosiasi tidak dapat berjalan di bawah tekanan atau perintah,” katanya.
Singgung AS dan Israel: “Upaya Menghadapi Iran Selalu Gagal”
Saat ditanya mengenai ancaman Amerika Serikat dan Israel, Araghchi menyampaikan bahwa berbagai tekanan yang pernah diarahkan terhadap Iran sebelumnya tidak membuahkan hasil. Ia memperingatkan, langkah serupa di masa depan akan berakhir dengan kegagalan yang sama.
Pernyataan itu muncul di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, yang dalam dua tahun terakhir disebut Iran semakin tajam akibat eskalasi serangan lintas wilayah.
Kunjungan ke Lebanon: Bahas Ketegangan Regional
Araghchi tiba di Lebanon memimpin delegasi ekonomi untuk kunjungan selama dua hari. Ia dijadwalkan bertemu sejumlah tokoh politik serta pejabat senior pemerintahan Lebanon.
Ia menyampaikan bahwa tujuan utama kunjungan tersebut ialah melakukan konsultasi dengan sekutu-sekutu Iran di Lebanon terkait kondisi regional yang dinilai kian sensitif.
Araghchi memperingatkan kawasan Timur Tengah menghadapi tantangan serius dan belum pernah terjadi sebelumnya. Ia juga menyinggung “ancaman yang semakin meningkat” dari Israel.
Menurutnya, Israel selama dua tahun terakhir melakukan serangan terhadap sejumlah negara di wilayah tersebut, termasuk Iran dan Lebanon. Ia menyoroti pula bahwa Israel masih menduduki sebagian wilayah Lebanon dan disebut berulang kali melanggar kesepakatan gencatan senjata dilansir Antara.
Iran Ingin Perluas Kerja Sama Ekonomi dengan Lebanon
Selain isu keamanan kawasan, Araghchi juga membahas hubungan bilateral Iran–Lebanon. Ia menilai hubungan kedua negara telah terbangun kuat dalam bidang politik, ekonomi, maupun budaya.
Karena itu, Teheran disebut ingin memperluas kolaborasi, terutama pada sektor ekonomi. Araghchi juga memastikan pihaknya akan bertemu Menteri Perekonomian Lebanon untuk membahas opsi memperkuat hubungan dagang dan komersial.
Di akhir pernyataannya, Menlu Iran menegaskan kembali dukungan Iran terhadap kedaulatan, persatuan, dan keutuhan wilayah Lebanon.