Loading
Guru Besar Hukum Internasional Universitas Indonesia (UI) Hikmahanto Juwana (dua dari kiri), Direktur The Indonesia Intelligence Institut Ridlwan Habib (paling kanan) dalam Forum Kramat di Kantor PBNU, Jakarta, Jumat (9/1/2026). /ANTARA/Lintang Budiyanti Prameswari.
JAKARTA, ARAHKITA.COM — Guru Besar Hukum Internasional Universitas Indonesia (UI) Hikmahanto Juwana menilai Presiden Prabowo Subianto perlu memperkuat langkah diplomasi Indonesia dalam merespons konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Venezuela.
Menurut Hikmahanto, situasi tersebut membuka ruang strategis bagi Indonesia untuk tampil lebih aktif, terutama karena sikap negara-negara dunia terhadap konflik ini terbelah. Ada yang mengecam keras, sementara sebagian lainnya justru mendukung langkah AS.
Dalam konteks itu, Hikmahanto menilai Indonesia tidak cukup hanya menyampaikan “keprihatinan”. Ia mendorong Prabowo memainkan peran lebih konkret melalui diplomasi ulang-alik (shuttle diplomacy), yakni upaya memfasilitasi komunikasi antara pihak yang bertikai tanpa harus mempertemukan mereka secara langsung.
“Banyak negara mengutuk, tapi ada juga yang mendukung. Indonesia jangan hanya berhenti di posisi prihatin. Ini peluang Presiden Prabowo melakukan shuttle diplomacy,” ujar Hikmahanto dalam Forum Kramat di Kantor PBNU, Jakarta, Jumat (9/1/2026).
Dorong De-eskalasi, Indonesia Punya Modal Strategis
Hikmahanto juga menekankan bahwa Indonesia seharusnya mendorong penurunan eskalasi konflik, apalagi Indonesia telah ditetapkan sebagai Presiden Dewan Hak Asasi Manusia PBB untuk tahun 2026.
Ia menilai posisi Indonesia di forum global dapat menjadi kekuatan tambahan untuk mendorong penyelesaian damai yang lebih terukur.“Kalau ada peluang, peluang itu bisa dimainkan. Indonesia bisa mendorong de-eskalasi serangan, sehingga kita punya nilai di mata dunia,” lanjutnya dikutip Antara.
Ridlwan Habib: Prabowo Bisa Bangun Kepemimpinan Global
Pandangan serupa disampaikan Direktur The Indonesia Intelligence Institute, Ridlwan Habib. Ia menilai Prabowo memiliki peluang membangun citra kepemimpinan global, mengingat sejarah Indonesia yang pernah menjadi motor diplomasi dunia lewat Konferensi Asia-Afrika 1955.
Ridlwan menilai aktivitas Prabowo yang kerap melakukan kunjungan luar negeri semestinya dibarengi dengan sikap yang lebih tegas di panggung internasional, termasuk dalam konflik AS–Venezuela.
Ia bahkan menyebut masyarakat Indonesia menaruh harapan besar agar Prabowo berani bersuara lantang menghadapi dinamika geopolitik global, termasuk pada era Presiden AS Donald Trump yang dikenal kontroversial.
“Kita berharap pemimpin kita berani bersuara keras, mengecam, mengutuk, atau apa pun, supaya publik bangga punya pemimpin yang berwibawa dan berani,” ujarnya.