Loading
Ilustrasi - Pulau dan bendera Australia. (ANTARA/pixabay/pri.)
SYDNEY, ARAHKITA.COM — Terobosan di dunia medis datang dari Australia. Para peneliti memulai uji klinis manusia terhadap obat eksperimental yang dikembangkan dari racun laba-laba jaring corong (funnel-web), salah satu laba-laba paling berbahaya di dunia. Obat ini berpotensi menjadi solusi baru untuk mengurangi dampak serangan jantung dan stroke.
Uji klinis fase 1 tersebut bertujuan menilai keamanan, tolerabilitas, serta dosis IB409—kandidat obat yang dikembangkan perusahaan bioteknologi Infensa Bioscience. Penelitian ini melibatkan kolaborasi dengan University of Queensland (UQ), salah satu pusat riset biomedis terkemuka di Australia.
Dari Racun Mematikan Menjadi Harapan Medis
IB409 berawal dari Hi1a, sebuah protein alami yang ditemukan dalam racun laba-laba funnel-web asal Fraser Island. Menurut Glenn King, profesor di Institut Biosains Molekuler UQ, hasil praklinis menunjukkan temuan yang “sangat menjanjikan”.
Hi1a diketahui mampu menghambat kematian sel yang terjadi akibat kekurangan oksigen—kondisi kritis yang muncul saat serangan jantung dan stroke. Dalam berbagai uji praklinis, molekul ini terbukti melindungi jaringan jantung dan meniru skenario pengobatan di kondisi dunia nyata.
Untuk memastikan kelayakan sebagai obat, tim peneliti kemudian memodifikasi Hi1a menjadi IB409, sebuah peptida mini yang lebih stabil dan cocok dikembangkan sebagai terapi medis.
Potensi Mengubah Standar Pengobatan
CEO Infensa sekaligus peneliti UQ, Mark Smythe, menegaskan bahwa hingga kini belum ada obat yang secara spesifik dapat mencegah kerusakan jaringan akibat serangan jantung dan stroke.
“Jika uji klinis fase 1 dan tahap lanjutan membuktikan IB409 aman serta efektif, obat ini berpotensi meningkatkan kualitas hidup jutaan penderita penyakit jantung di seluruh dunia,” ujarnya dikutip Antara.
Meski masih berada pada tahap awal, penelitian ini menandai langkah penting dalam pemanfaatan sumber alam ekstrem—bahkan yang mematikan—menjadi inovasi penyelamat nyawa. Dunia medis kini menanti hasil lanjutan dari uji klinis IB409.