Loading
Presiden Venezuela Nicolas Maduro menyampaikan pidato dalam konferensi pers di Caracas, Venezuela, 15 September 2025. ANTARA/Handout via Xinhua/Kepresidenan Venezuela
CARACAS, ARAHKITA.COM – Pemerintah Venezuela menyatakan kesiapan untuk membuka dialog serius dengan Amerika Serikat terkait upaya pemberantasan perdagangan narkoba. Pernyataan ini disampaikan Presiden Nicolas Maduro dalam pidato yang disiarkan televisi nasional pada Kamis (1/1/2025).
Maduro menegaskan bahwa isu narkoba seharusnya dibahas secara objektif dan berbasis data, bukan narasi sepihak. Ia menilai tuduhan bahwa Venezuela menjadi pusat produksi narkoba tidak sepenuhnya dipercaya, bahkan oleh sebagian kalangan di Amerika Serikat sendiri. Menurutnya, dialog yang jujur dan setara menjadi jalan terbaik bagi kedua negara.
Tak hanya soal keamanan, Maduro juga menyinggung peluang kerja sama ekonomi. Ia menyatakan Venezuela terbuka menerima investasi dari perusahaan AS, termasuk di sektor energi, apabila Washington membutuhkan pasokan minyak dari Caracas. Kerja sama semacam ini, menurutnya, bisa menjadi titik temu di tengah hubungan bilateral yang selama ini tegang.
Sinyal keterbukaan tersebut diperkuat oleh Wakil Presiden sekaligus Menteri Perminyakan Delcy Rodríguez. Pada Desember 2025, ia mengonfirmasi bahwa kapal tanker milik Chevron telah meninggalkan Venezuela secara legal untuk mengirim minyak mentah ke AS.
Di sisi lain, Venezuela kembali mengkritik kehadiran militer AS di kawasan Karibia. Selama beberapa bulan terakhir, Washington mempertahankan operasi militernya di sekitar perairan Venezuela dengan alasan memerangi jaringan narkoba internasional. Namun, pemerintah Caracas menilai langkah tersebut sebagai tekanan politik dan upaya terselubung untuk menggoyang stabilitas pemerintahan dikutip Antara.
Militer AS sebelumnya mengklaim telah menenggelamkan sekitar 30 kapal yang disebut sebagai kapal penyelundup narkoba di wilayah Karibia dan Pasifik timur. Operasi tersebut dilaporkan menewaskan lebih dari 100 orang, sebuah angka yang menuai sorotan dan kecaman dari berbagai pihak.
Dengan dinamika ini, tawaran dialog dari Venezuela menjadi sinyal bahwa Caracas masih membuka ruang diplomasi, meski ketegangan geopolitik dan perbedaan kepentingan dengan Washington belum sepenuhnya mereda.