Loading
JAKARTA, ARAHKITA.COM - Sedikitnya 40.000 orang menjadi korban penembakan di Amerika Serikat sepanjang 2025. Dari jumlah tersebut, lebih dari 14.600 orang meninggal dunia, sementara sekitar 26.100 lainnya mengalami luka-luka. Data awal ini dirilis oleh Gun Violence Archive pada Kamis, 1 Januari.
Gun Violence Archive mencatat sedikitnya 407 insiden penembakan massal selama 2025. Dalam definisi GVA, penembakan massal adalah peristiwa penembakan yang menyebabkan empat orang atau lebih tewas atau terluka, tidak termasuk pelaku penembakan. Organisasi nirlaba yang berdiri sejak 2013 ini bertujuan menyediakan akses publik terhadap data akurat mengenai kekerasan senjata api di Amerika Serikat.
Data tersebut juga menunjukkan dampak serius kekerasan senjata api terhadap anak-anak dan remaja. Sepanjang 2025, sebanyak 224 anak berusia 11 tahun ke bawah tewas akibat tembakan senjata api, sementara 461 anak lainnya dalam kelompok usia yang sama mengalami luka-luka. Di kalangan remaja berusia 12 hingga 17 tahun, tercatat 1.030 kematian dan 2.733 korban luka akibat insiden penembakan.
Statistik kematian terkait senjata api yang dihimpun GVA mencakup kasus pembunuhan, pembunuhan disengaja, penggunaan senjata api untuk membela diri, serta kecelakaan penembakan. Namun, data tersebut tidak memasukkan kasus bunuh diri. Mengutip perkiraan awal dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat, GVA melaporkan bahwa lebih dari 24.000 orang meninggal dunia akibat bunuh diri menggunakan senjata api pada 2025.
Media lokal, dilansir Antara, melaporkan bahwa meskipun jumlah korban tewas dan luka akibat penembakan menurun selama empat tahun berturut-turut sejak 2021, tingkat kekerasan senjata api di AS masih tergolong tinggi. Sepanjang 2025, lebih dari 40.000 orang tewas atau terluka akibat penembakan, di luar kasus bunuh diri. Angka tersebut setara dengan rata-rata lebih dari 110 korban setiap hari akibat kekerasan senjata api di Amerika Serikat.