Loading
Arsip - Sejumlah warga memeriksa puing-puing sebuah bangunan yang hancur akibat serangan udara Israel sehari sebelumnya di kota selatan Tayr Debba, Lebanon, Jumat (7/11/2025). (ANTARA/Xinhua/Ali Hashisho/aa.)
BEIRUT, ARAHKITA.COM — Ketegangan di perbatasan kembali meningkat setelah jet tempur Israel melancarkan serangan udara ke sejumlah wilayah di Lebanon bagian selatan dan timur pada Jumat waktu setempat. Informasi ini disampaikan seorang sumber militer Lebanon yang menyebutkan bahwa rangkaian serangan tersebut menyasar berbagai titik permukiman dan area strategis.
Menurut sumber tersebut, kawasan Jarmaq, Jbaa, Barij, Rihan, Ansar–Zrarieh, Tebnine, Zelaya, hingga lembah Wadi-Humein dan Roumine mengalami gempuran udara dalam skala besar. Ledakan dan aktivitas militer dilaporkan berlangsung intens sepanjang hari.
Militer Israel kemudian mengonfirmasi bahwa mereka menargetkan sejumlah lokasi yang diklaim sebagai infrastruktur militer Hizbullah, termasuk fasilitas pelatihan pasukan khusus Unit Radwan—sayap elite dari kelompok Syiah Lebanon tersebut.
Di sisi lain, pemerintah Lebanon menegaskan bahwa serangan udara ini kembali menunjukkan pola pelanggaran kedaulatan yang terus dilakukan Israel. Padahal, hingga kini masih berlaku kesepakatan gencatan senjata yang disetujui pada November 2024.
Lebanon juga menyoroti keberadaan pasukan Israel di lima titik strategis di wilayah selatan, termasuk bagian utara Desa Ghajar, yang mereka sebut sebagai bentuk pendudukan dan pelanggaran terang-terangan terhadap Resolusi Dewan Keamanan PBB 1701 dilansir Antara.
Sementara itu, Israel bersikeras bahwa operasi militernya hanya menyasar fasilitas Hizbullah dan tidak ditujukan pada warga sipil. Pihaknya juga kembali menegaskan bahwa mereka akan melanjutkan serangan untuk melemahkan kemampuan militer Hizbullah, termasuk memburu para petinggi kelompok tersebut.
Kondisi ini membuat situasi perbatasan Lebanon–Israel kembali berada pada titik kritis, memunculkan kekhawatiran akan potensi eskalasi konflik yang lebih luas.