Alarm Iklim Makin Nyaring, Emisi Dunia Capai 57,7 Miliar Ton pada 2024


 Alarm Iklim Makin Nyaring, Emisi Dunia Capai 57,7 Miliar Ton pada 2024 Ilustrasi - Warga menggunakan payung saat cuaca terik di kawasan Bundaran HI, Jakarta, Rabu (15/10/2025). ANTARA FOTO/Sulthony Hasanuddin/aa.

TOKYO, ARAHKITA.COM – Dunia kembali menghadapi peringatan serius. Laporan terbaru Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang dirilis Selasa (4/11/2025) menyebutkan bahwa emisi gas rumah kaca global melonjak 2,3 persen pada 2024, mencapai rekor tertinggi 57,7 miliar ton. Angka ini menegaskan bahwa upaya global menekan pemanasan bumi masih jauh dari jalur yang aman.

Menurut Program Lingkungan PBB (UNEP), peningkatan tersebut membuat target Perjanjian Iklim Paris 2015—untuk menahan kenaikan suhu global di bawah 1,5 derajat Celcius dibanding era pra-industri—semakin sulit dicapai. Jika tren ini berlanjut tanpa aksi nyata, suhu bumi bisa melonjak hingga 2,8 derajat Celcius sebelum abad ini berakhir.

“Ini akan sangat sulit dibalikkan. Dunia membutuhkan pengurangan emisi yang lebih cepat dan signifikan untuk meminimalkan dampaknya terhadap kehidupan dan ekonomi,” tulis laporan UNEP tersebut.

Bahkan dalam skenario optimistis, di mana seluruh negara memenuhi janji iklimnya hingga 2035, suhu rata-rata global tetap diproyeksikan naik antara 2,3 hingga 2,5 derajat Celcius. Jika Amerika Serikat menarik diri sepenuhnya dari kesepakatan Paris, suhu bumi bisa bertambah panas 0,1 derajat lebih tinggi.

China Masih Jadi Penyumbang Terbesar

Pada 2024, China mencatatkan emisi karbon terbesar di dunia, yaitu 15,6 miliar ton, disusul Amerika Serikat (5,9 miliar ton), India (4,4 miliar ton), Uni Eropa (3,2 miliar ton), dan Rusia (2,6 miliar ton).

Kelompok G20, yang berisi negara-negara dengan ekonomi terbesar di dunia, menyumbang 77 persen dari total emisi global. Karena itu, UNEP mendesak agar negara-negara anggota G20 menunjukkan komitmen dan langkah lebih ambisius dalam menekan emisi.

Waktu Kian Menipis

Untuk menjaga suhu global tetap di bawah ambang batas 1,5°C, dunia harus memangkas 55 persen emisi dari level 2019 pada tahun 2035. Namun, jika semua target nasional saat ini tercapai, pengurangan yang dihasilkan hanya sekitar 15 persen—jauh dari cukup.

Selama satu dekade sejak Perjanjian Paris disepakati, penurunan suhu global masih belum signifikan. “Komunitas internasional harus mempercepat aksi iklim, tapi kemauan politik masih menjadi hambatan terbesar,” tulis laporan itu dikutip Antara.

Semua mata kini tertuju pada Konferensi Perubahan Iklim PBB (COP30) yang akan digelar di Brasil bulan ini. Pertemuan tersebut diharapkan bisa menghasilkan langkah konkret untuk memperkuat kesepakatan global menekan laju krisis iklim yang semakin nyata.

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Internasional Terbaru