Trump Peringatkan: Israel Bisa Kehilangan Dukungan AS Jika Nekat Caplok Tepi Barat


 Trump Peringatkan: Israel Bisa Kehilangan Dukungan AS Jika Nekat Caplok Tepi Barat Donald Trump memperingatkan bahwa Israel bisa kehilangan seluruh dukungan Amerika Serikat. (Antaranews/AntaraXinhuaHu)

JAKARTA, ARAHKITA.COM – Mantan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kembali melontarkan pernyataan tegas terkait konflik di Timur Tengah. Dalam wawancaranya dengan harian Time, Trump menegaskan bahwa Israel akan kehilangan seluruh dukungan Amerika Serikat jika tetap nekat mencaplok wilayah Tepi Barat, Palestina.

Trump mengatakan, rencana pencaplokan itu tidak akan terjadi karena dirinya sudah memberikan komitmen kepada negara-negara Arab. Ia menilai, langkah itu justru akan merusak kepercayaan dan dukungan yang telah dibangun selama ini.

“Israel akan kehilangan semua dukungan dari Amerika Serikat jika mereka melakukan itu,” tegas Trump ketika ditanya mengenai kemungkinan aneksasi Tepi Barat.

Trump Klaim Bisa Pulihkan Perdamaian Timur Tengah

Trump juga menambahkan bahwa selama ia memimpin, situasi di Timur Tengah bisa lebih stabil, namun ia mengingatkan bahwa kedamaian tersebut bisa cepat berakhir jika presiden berikutnya gagal mendapatkan rasa hormat dari pihak-pihak yang terlibat.

“Jika seorang presiden yang buruk berkuasa, semuanya bisa berakhir begitu saja. Tapi jika presiden dihormati, perdamaian yang indah dan jangka panjang bisa tercipta,” ujarnya dikutip dari Antara.

Sebelumnya, pada September lalu, Trump sudah menegaskan tidak akan memberi izin kepada Israel untuk mencaplok Tepi Barat. Menurut laporan Axios, Gedung Putih bahkan sudah memperingatkan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu bahwa kebijakan yang terus memicu konflik hanya akan membuat Israel semakin terisolasi di dunia internasional.

Rencana Perdamaian Trump: Gencatan Senjata dan Pembebasan Sandera

Trump juga mengajukan rencana perdamaian Gaza berisi 20 poin pada 29 September. Rencana tersebut menyerukan gencatan senjata segera, dengan syarat pembebasan sandera dalam waktu 72 jam, serta pembentukan pemerintahan teknokrat di Gaza yang diawasi oleh badan internasional di bawah kepemimpinannya.

Langkah ini kemudian mendapat sambutan positif. Pada 9 Oktober, Israel dan Hamas sepakat menjalankan tahap pertama rencana tersebut untuk mengakhiri konflik bersenjata yang telah berlangsung dua tahun di Jalur Gaza.

Beberapa hari kemudian, tepatnya pada 13 Oktober, Trump bersama Presiden Mesir Abdel Fattah El-Sisi, Emir Qatar Tamim bin Hamad Al Thani, dan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menandatangani deklarasi gencatan senjata di Gaza.

Sebagai bagian dari kesepakatan itu, Hamas membebaskan 20 sandera Israel, sementara Israel setuju membebaskan lebih dari 1.900 tahanan Palestina yang ditahan di berbagai fasilitas penjara.

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Internasional Terbaru