Loading
Kerugian Perampokan di Museum Louvre Capai Sekitar Rp1,74 Triliun. (Pixabay)
JAKARTA, ARAHKITA.COM - Kerugian akibat perampokan besar di Museum Louvre, Prancis, diperkirakan mencapai hampir €90 juta atau sekitar Rp1,74 Triliun. Insiden ini menjadi salah satu kasus pencurian paling berani di negara itu dalam beberapa dekade terakhir.
Pihak berwenang kini memburu komplotan kriminal yang mencuri delapan perhiasan bersejarah milik Napoleon dari galeri Apollo pada Minggu pagi.
Jaksa Paris, Laure Beccuau, mengatakan kerugian sementara diperkirakan sekitar €88 juta. Presiden sekaligus Direktur Louvre, Laurence des Cars, dilaporkan The Guardian, dijadwalkan menghadapi komite budaya parlemen untuk menjelaskan bagaimana pencuri bisa menembus sistem keamanan museum dalam waktu hanya tujuh menit.
Empat pelaku dilaporkan memanjat ke lantai satu menggunakan tangga dari lift furnitur sebelum memecahkan jendela dan kabur dengan membawa permata berharga. Museum segera ditutup setelah kejadian dan tetap tidak beroperasi selama dua hari. Belum diketahui kapan museum akan dibuka kembali.
Menteri Kebudayaan Prancis, Rachida Dati, menegaskan sistem keamanan Louvre berfungsi dengan baik saat kejadian. Namun, sebagian dana renovasi akan dialihkan untuk memperbarui sistem keamanan, termasuk pemasangan kamera CCTV baru. Pihak museum juga membantah tudingan bahwa etalase penyimpanan perhiasan sudah usang, dan menyebut sistem pengamanannya telah diperbarui pada 2019.
Tim investigasi khusus dari BRB, unit kepolisian yang menangani perampokan besar, kini memimpin penyelidikan bersama Kantor Pusat Pemberantasan Perdagangan Benda Budaya. Sejumlah bukti forensik telah ditemukan, termasuk rompi keselamatan dengan jejak DNA, sepeda motor, dan plat nomor kendaraan yang digunakan para pelaku.
Salah satu perhiasan yang tertinggal, yakni mahkota milik Permaisuri Eugénie, istri Napoleon III, diharapkan dapat menjadi petunjuk penting bagi polisi. Beccuau mengatakan pencuri kemungkinan tidak akan mendapat keuntungan besar jika mencoba membongkar perhiasan tersebut, karena nilainya justru akan hilang.
Pemerintah Prancis tidak akan menerima kompensasi asuransi atas perhiasan yang hilang karena negara bertindak sebagai penanggung sendiri. Menurut juru bicara pemerintah, langkah ini diambil untuk menghindari biaya premi yang sangat tinggi, meski risiko pencurian tetap rendah.
Kasus Louvre bukan satu-satunya perampokan museum di Prancis dalam dua bulan terakhir. Beberapa museum lain, termasuk Museum Nasional Adrien Dubouché di Limoges, juga mengalami pencurian benda bersejarah. Pada kasus terpisah, seorang perempuan asal Tiongkok ditangkap di Barcelona dan diekstradisi ke Prancis setelah mencuri emas senilai lebih dari satu juta dolar dari Museum Sejarah Alam Paris pada September lalu.