Loading
Remaja Afghanistan Secara Ajaib Selamat Setelah Sembunyi di Roda Pesawat. (Pixabay)
JAKARTA, ARAHKITA.COM - Seorang remaja laki-laki berusia 13 tahun asal Afghanistan selamat secara ajaib setelah menempuh penerbangan selama 94 menit dengan bersembunyi di dalam ruang roda pendaratan pesawat komersial.
Remaja tersebut diketahui menyelinap ke Bandara Internasional Kabul dan naik pesawat Kam Air tujuan New Delhi, India.
Insiden ini terjadi pada Minggu pagi ketika remaja asal Kunduz itu berhasil masuk ke area terbatas bandara dan menyusup ke kompartemen roda belakang pesawat. Ia hanya membawa sebuah speaker merah kecil dan disebut ingin melarikan diri ke Iran, namun secara tidak sengaja justru menaiki penerbangan ke India.
Pesawat mendarat di Bandara Internasional Indira Gandhi, New Delhi, sekitar pukul 10.20 waktu setempat. Remaja itu ditemukan sedang berkeliaran di area terbatas Terminal 3 oleh staf maskapai sebelum akhirnya diserahkan kepada Pasukan Keamanan Industri Pusat (CISF). Ia kemudian dibawa untuk diperiksa oleh pihak imigrasi India.
“Pemeriksaan keamanan menemukan satu unit speaker audio merah di dekat roda pendaratan belakang,” ungkap pihak keamanan dalam pernyataan resmi seperti dilaporkan The Independent.
Setelah proses interogasi awal, remaja tersebut dipulangkan ke Kabul dengan menggunakan penerbangan Kam Air yang sama pada pukul 12.30 siang, hanya dua jam setelah ia tiba di India.
Insiden ini memicu kekhawatiran serius soal celah keamanan di Bandara Kabul dan menjadi sorotan otoritas India. Pakar penerbangan menilai bahwa kelangsungan hidup dalam ruang roda pesawat sangat jarang terjadi.
“Setelah roda pesawat ditarik, pintu akan tertutup dan menciptakan ruang tertutup. Jika area tersebut sedikit bertekanan dan bersuhu stabil, itu bisa menjelaskan bagaimana ia bisa bertahan hidup,” jelas pakar penerbangan Mohan Ranganathan kepada media lokal.
Ranganathan menambahkan bahwa pada ketinggian jelajah sekitar 30.000 kaki, suhu bisa turun hingga -60°C dengan kadar oksigen yang sangat rendah. Dalam kondisi normal, manusia tidak dapat bertahan lebih dari beberapa menit tanpa perlindungan di ketinggian tersebut.
Menurut data Administrasi Penerbangan Federal AS (FAA), dari 128 kasus penumpang gelap antara tahun 1947 hingga 2020, lebih dari 75 persen berakhir dengan kematian akibat hipotermia, hipoksia, atau cedera mekanis.
Kasus terbaru ini mengingatkan kembali pada peristiwa tragis di Januari lalu, ketika dua remaja ditemukan tewas di kompartemen roda pesawat JetBlue di Bandara Fort Lauderdale, Florida.
Hingga saat ini, pihak Kam Air dan otoritas Bandara Kabul belum memberikan keterangan resmi terkait bagaimana remaja tersebut bisa menembus sistem keamanan dan menyelinap ke dalam pesawat.