Loading
Kerusuhan di Den Haag 30 Orang Ditangkap Dua Polisi Terluka Kaldera News
JAKARTA, ARAHKITA.COM - Sedikitnya 30 orang ditangkap dalam kerusuhan yang pecah di Den Haag, Belanda, pada Sabtu, 20 September 2025.
Aksi unjuk rasa menentang kebijakan imigrasi pemerintah itu berujung bentrokan dengan aparat, menyebabkan dua petugas polisi terluka dan kerusakan di sejumlah titik kota.
Wali Kota Den Haag, Jan van Zanen, menyebut insiden tersebut sebagai ledakan kekerasan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Ia menegaskan bahwa demonstrasi damai terpaksa dibubarkan demi menjaga keselamatan para peserta.
Dalam keterangannya kepada surat kabar Algemeen Dagblad, van Zanen menjelaskan bahwa para perusuh datang dari berbagai wilayah di Belanda. Mereka menyerang polisi, kuda polisi, hingga jurnalis yang meliput aksi tersebut.
Kepala Kepolisian Den Haag, Karin Krukkert, membenarkan bahwa sekitar 30 orang telah ditangkap. Sebagian besar ditahan karena melakukan kekerasan terhadap petugas. Beberapa orang telah dibebaskan, namun polisi masih membuka kemungkinan penangkapan tambahan. Dua petugas yang mengalami luka dilaporkan sudah dalam kondisi membaik.
Kerusuhan, dilansir Antara, terjadi saat ribuan orang turun ke jalan untuk menolak kebijakan imigrasi pemerintah. Aksi tersebut berlangsung di sejumlah titik kota dan dengan cepat berubah menjadi bentrokan. Para demonstran membakar mobil polisi dan melempar batu ke arah aparat. Polisi menanggapi dengan menggunakan meriam air untuk membubarkan massa.
Ketegangan tak berhenti setelah unjuk rasa dibubarkan. Sejumlah kelompok agresif tetap berkumpul di sekitar stasiun dan terus memprovokasi petugas. Aparat akhirnya melakukan pengejaran dan penangkapan di berbagai sudut kota. Polisi yang dilengkapi pentungan dikerahkan untuk menangani situasi.
Selain menyerang aparat, para perusuh juga merusak fasilitas umum. Kaca jendela lantai dasar kantor pusat Partai Demokrat 66 (D66) dipecahkan, dan tempat sampah di pintu masuk dibakar. Saksi mata menyebut bahwa kelompok massa di sekitar kantor D66 meneriakkan tuntutan agar pusat-pusat penampungan pengungsi di Belanda ditutup.
Perdana Menteri Belanda, Dick Schoof, mengecam keras aksi kekerasan tersebut. Ia menyatakan bahwa serangan terhadap polisi dan perusakan kantor partai politik adalah tindakan yang tidak dapat diterima.