Kamis, 29 Januari 2026

Krisis Politik Memanas, Oposisi Ajukan Mosi Pemakzulan terhadap Presiden Macron


 Krisis Politik Memanas, Oposisi Ajukan Mosi Pemakzulan terhadap Presiden Macron Jean-Luc Melenchon, pemimpin partai oposisi kanan La France Insoumise. ANTARA/Anadolu/aa.

PARIS, ARAHKITA.COM – Situasi politik di Prancis kian panas. Pemimpin partai kiri jauh France Unbowed (LFI), Jean-Luc Mélenchon, mengumumkan bahwa pihak oposisi resmi mengajukan mosi pemakzulan terhadap Presiden Emmanuel Macron.

Dalam konferensi pers di Lille, Prancis utara, Sabtu (6/9/2025), Mélenchon menegaskan bahwa Macron sudah tidak layak memimpin. “Dia harus mundur,” ujarnya tegas.

Selain menyerang kebijakan dalam negeri, Mélenchon juga menyinggung sikap pemerintah terkait konflik Gaza. Menurutnya, jika LFI memegang kekuasaan, Angkatan Laut Prancis akan dikerahkan untuk mengawal armada bantuan kemanusiaan Global Sumud Flotilla yang menuju Gaza.

Bayrou di Ujung Tanduk

Tak hanya Macron, pemerintahan Perdana Menteri Francois Bayrou juga berada dalam posisi genting. Senin mendatang, parlemen akan menggelar pemungutan suara mosi percaya yang berpotensi menjatuhkan pemerintahannya.

Bayrou sebelumnya mengajukan rencana penghematan besar dalam kerangka anggaran 2026, termasuk pemotongan hampir 44 miliar euro (sekitar Rp839,56 triliun). Kebijakan itu ditujukan untuk menekan utang publik Prancis yang sudah mencapai 113 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).Namun, langkah tersebut menuai perlawanan keras. Partai-partai oposisi lintas spektrum—mulai dari kiri jauh (LFI), Partai Sosialis, hingga kanan jauh National Rally (RN)—sepakat menolak kebijakan Bayrou.

Defisit dan Ancaman Kekacauan

Prancis kini mencatat salah satu defisit anggaran tertinggi di Uni Eropa, yakni 5,8 persen. Bayrou memperingatkan negara berada di ambang krisis utang. Ia mendesak parlemen memilih “tanggung jawab daripada kekacauan.”

Meski begitu, sejarah politik terbaru menunjukkan bahwa krisis anggaran bisa menjatuhkan pemerintahan. Pada Desember lalu, kabinet Michel Barnier tumbang setelah parlemen menolak rancangan anggaran 2025. Kala itu, partai kiri dan kanan bersatu mendorong mosi tidak percaya.

Dengan kondisi saat ini, ancaman kejatuhan Bayrou dan bahkan posisi Macron sebagai presiden makin nyata. Prancis pun menghadapi salah satu fase paling rapuh dalam dinamika politiknya dikutip Antara.

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Internasional Terbaru