Ketegangan Meningkat, PM Kamboja dan Thailand Temui Malaysia Bahas Sengketa Perbatasan


  Ketegangan Meningkat, PM Kamboja dan Thailand Temui Malaysia Bahas Sengketa Perbatasan Arsip foto - Perdana Menteri Kamboja Hun Manet (Kanan) dan Perdana Menteri Thailand yang berkunjung Paetongtarn Shinawatra pada peringatan 75 tahun hubungan diplomatik antara kedua negara di Phnom Penh, Kamboja (23/4/2025). ANTARA/Xinhua/Nitola/aa.

KUALA LUMPUR, ARAHKITA.COM – Perdana Menteri Kamboja Hun Manet dan Penjabat Perdana Menteri Thailand Phumtham Wechayachai dijadwalkan bertemu di Kuala Lumpur, Malaysia, pada Senin (28/7/2025). Pertemuan ini akan membahas eskalasi konflik perbatasan yang kian memanas di antara kedua negara Asia Tenggara tersebut.

Menteri Luar Negeri Malaysia, Mohamad Hasan, menyampaikan bahwa baik Thailand maupun Kamboja telah sepakat untuk tidak melibatkan negara lain dalam penyelesaian konflik ini. Mereka memberikan kepercayaan penuh kepada Malaysia sebagai mediator.

“Saya sudah berbicara dengan Menlu Thailand dan Kamboja. Keduanya meminta Malaysia menjadi penengah dan tidak ingin pihak luar ikut campur,” ujar Hasan kepada kantor berita Bernama, Minggu (27/7/2025).

Malaysia saat ini memegang posisi sebagai Ketua Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN). Dalam kapasitas ini, menurut Hasan, Malaysia harus bertindak sebagai fasilitator penyelesaian konflik yang dianggap sebagai masalah internal kawasan Asia Tenggara.

Kementerian Luar Negeri Thailand pun telah mengonfirmasi rencana pertemuan tersebut.

“Memang benar akan ada pertemuan besok, sesuai yang beredar di media. Itu yang bisa saya sampaikan untuk saat ini,” kata juru bicara Kemlu Thailand, Nikondet Phalangkun, dalam konferensi pers di Bangkok.

Sementara itu, peran Amerika Serikat sempat disebut-sebut dalam proses diplomasi ini. Presiden AS Donald Trump sebelumnya menghubungi para pemimpin Thailand dan Kamboja. Namun, kedua negara akhirnya lebih memilih pendekatan regional melalui mediasi Malaysia. AS sendiri diketahui menolak bernegosiasi dengan negara-negara yang tengah terlibat konflik bersenjata, termasuk dalam hal tarif dagang.

Sengketa Perbatasan Kian Memanas

Ketegangan antara Thailand dan Kamboja kembali meningkat sejak bentrokan bersenjata yang terjadi pada 24 Juli lalu. Insiden tersebut menyebabkan sejumlah korban jiwa dan luka-luka, termasuk dari kalangan sipil.

Bentrokan ini merupakan lanjutan dari insiden pada 28 Mei lalu, di mana terjadi konflik bersenjata antara personel militer kedua negara di wilayah netral yang masih disengketakan. Seorang tentara Kamboja dilaporkan tewas dalam kejadian tersebut dikutip Antara.

Sengketa perbatasan ini memiliki akar sejarah panjang. Pemetaan wilayah antara Thailand dan Kamboja yang dibuat pada masa kolonial Prancis tahun 1907 menjadi sumber utama perbedaan persepsi batas negara. Beberapa area dianggap tidak jelas karena sulit diakses dan tidak ditetapkan secara tegas.

Setelah merdeka dari Prancis pada 1953, Kamboja mengklaim sejumlah wilayah yang dipersengketakan. Thailand, di sisi lain, lebih memilih jalur perundingan bilateral dalam menyelesaikan konflik. Sementara Kamboja kerap merujuk Mahkamah Internasional, lembaga yang yurisdiksinya tidak diakui sepenuhnya oleh Thailand.

Malaysia di Tengah Diplomasi ASEAN

Sebagai pemimpin ASEAN tahun ini, Malaysia menghadapi ujian berat dalam menjaga stabilitas regional. Konflik perbatasan seperti ini bukan hanya berisiko memperkeruh hubungan dua negara anggota, tetapi juga mengganggu komitmen ASEAN dalam menjaga perdamaian dan kerja sama kawasan.

Dengan rencana pertemuan antara dua pemimpin negara yang berseteru, harapan solusi damai masih terbuka lebar. Diplomasi regional kini diuji: mampukah ASEAN menjaga keutuhan dan stabilitasnya tanpa campur tangan pihak luar?

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Internasional Terbaru