Jerman akan gunakan ruang bawah tanah, stasiun metro dll untuk perlindungan. (The Guardian)
JAKARTA, ARAHKITA.COM - pemerintah Jerman sedang menyiapkan rencana besar untuk memperluas dan mengaktifkan kembali jaringan bunker antibom sebagai antisipasi potensi serangan militer dari Rusia.
Kepala Kantor Federal Perlindungan Sipil dan Bantuan Bencana (BBK), Ralph Tiesler, mengatakan negara tersebut saat ini belum siap menghadapi kemungkinan konflik besar dalam empat tahun ke depan.
“Dulu kami merasa perang tidak mungkin terjadi. Tapi kini, skenarionya berubah. Kami harus bersiap,” ujar Tiesler kepada Süddeutsche Zeitung, seperti dikutip The GuardianMinggu (8/6).
Jerman memiliki sekitar 2.000 bunker sisa Perang Dingin, namun hanya 580 yang masih berfungsi dengan kapasitas menampung 480.000 orang, hanya 0,5 persen dari populasi. Sebagai perbandingan, Finlandia memiliki ruang perlindungan untuk 85 persen populasinya.
Tiesler mengusulkan penggunaan ruang publik seperti stasiun bawah tanah, garasi, dan basement gedung pemerintah sebagai tempat perlindungan darurat. Rencana menyeluruh diperkirakan akan diajukan akhir musim panas 2025.
Ia juga menekankan perlunya sistem peringatan yang lebih baik, seperti sirene, aplikasi darurat, dan rambu lokasi bunker yang jelas. Keamanan siber dari sistem peringatan juga akan diperkuat untuk mencegah serangan digital.
Total anggaran yang dibutuhkan untuk revitalisasi perlindungan sipil diperkirakan mencapai €10 miliar dalam empat tahun, dan €30 miliar dalam dekade mendatang. Dana ini akan bersaing dengan alokasi untuk militer, infrastruktur strategis, dan keamanan siber.
Tiesler juga mendorong masyarakat untuk menyiapkan persediaan darurat minimal untuk 3–10 hari, termasuk makanan, air, dan kebutuhan medis, sebagai langkah antisipatif terhadap potensi krisis energi atau bencana lainnya.
Langkah ini diambil di tengah meningkatnya kekhawatiran atas agresi militer Rusia, setelah serangan besar-besaran di kota Kharkiv, Ukraina, yang menewaskan tiga orang dan melukai puluhan lainnya.