Disney Kuasai Box Office 2025: Ini Strategi yang Bisa Membuatnya Tetap Nomor 1 di 2026


 Disney Kuasai Box Office 2025: Ini Strategi yang Bisa Membuatnya Tetap Nomor 1 di 2026 Ilustrasi Logo Disney. (ANTARA/thewaltdisneycompany.com)

JAKARTA, ARAHKITA.COM - Disney seperti belum kehabisan bensin. Di saat industri film masih berusaha pulih total, The Walt Disney Company justru tampil sebagai raja box office domestik sepanjang 2025. Bukan cuma soal satu-dua film sukses, tapi tentang strategi besar: Disney punya “mesin” yang terus memproduksi film dengan daya tarik kuat, fanbase solid, dan nilai jual global.

Buktinya terlihat jelas dari data penjualan tiket. Sepanjang 2025, pendapatan box office di Amerika Serikat dan Kanada naik sekitar 4% dibanding 2024 dan mencapai US$ 9,05 miliar. Dari total angka itu, Disney menyumbang porsi paling besar: US$ 2,49 miliar atau sekitar 27,5%. Artinya, lebih dari seperempat uang tiket bioskop domestik mengalir ke kantong Disney.

Di belakang Disney, ada dua pesaing yang masih bisa mengejar: Warner Bros. Discovery dengan pendapatan sekitar US$ 1,9 miliar (21%), serta Universal sekitar US$ 1,7 miliar (19,7%). Jika digabung, tiga studio ini menguasai hampir 70% pasar box office domestik. Menariknya, tidak ada studio lain yang sanggup menembus angka US$ 1 miliar atau menyumbang lebih dari 7% pendapatan. Jaraknya jauh.

Kenapa Tiga Studio Besar Ini Mendominasi?

Salah satu penjelasannya sederhana: mereka punya “sub-brand” yang kuat. Disney misalnya punya Marvel, juga label animasi dan live-action yang sudah mapan. Warner Bros. punya New Line, sementara Universal punya Illumination. Dengan beberapa “mesin” sekaligus di bawah satu payung besar, studio-studio ini bisa menembak berbagai segmen penonton—dari anak-anak, remaja, sampai penggemar film aksi dan sci-fi. 

Kunci Disney: IP Populer yang Sudah Punya Basis Fans

Keunggulan Disney makin terasa karena portofolionya ditopang oleh kekayaan intelektual (IP) yang sudah terkenal. Empat film Disney sukses masuk dalam daftar 10 film terlaris domestik 2025, di antaranya:

  • remake live-action “Lilo & Stitch”
  • kelanjutan kisah kota hewan favorit publik lewat “Zootopia 2”
  • rilisan baru Marvel Cinematic Universe seperti “Fantastic Four: First Steps”
  • dan film ketiga “Avatar” yang kembali jadi magnet besar
  • Inilah alasan mengapa Disney sulit diganggu: film-film mereka tidak datang dari nol. Judulnya sudah familier, karakternya dikenal, bahkan sebagian penonton punya keterikatan emosional sejak kecil. Efeknya terasa dari sisi pemasaran—biaya promosi jadi lebih efisien karena “brand awareness” sudah ada duluan.

Tidak mengherankan jika tren 2025 menunjukkan satu fakta kuat: sembilan dari 10 film terlaris domestik berasal dari IP yang sudah ada. Satu-satunya judul orisinal yang masuk daftar hanya “Sinners” dari Warner Bros dilansir cnbc.com.

2026: Tahun “Pesta Sekuel” dan Disney Punya Amunisi Paling Besar

Banyak yang bertanya: apakah dominasi film IP akan jenuh? Jawabannya justru mengarah sebaliknya. Tahun 2026 diprediksi makin padat oleh film-film franchise, dan Disney terlihat siap menyapu pasar sekali lagi.

Disney akan merilis film Star Wars pertama di bioskop sejak 2019 lewat “The Mandalorian and Grogu”, yang memanfaatkan popularitas luar biasa karakter Grogu dari serial Disney+. Setelah itu, agenda Disney seperti “buffet” blockbuster:

  • “Toy Story 5” (Juni)
  • film live-action “Moana” (Juli)
  • dan yang paling ditunggu banyak fans, “Avengers: Doomsday” (Desember)

Ada juga film Spider-Man baru yang dijadwalkan tayang pada 2026. Meski secara box office keuntungan besar lebih banyak ditahan Sony, Disney tetap diuntungkan lewat posisi Spider-Man di semesta MCU serta ladang pemasukan raksasa yang tidak kalah penting: merchandise.

Bukan Cuma Disney: 2026 Juga Penuh Pesaing Berat

Tahun 2026 juga tampaknya akan menjadi arena perang film besar lintas studio. Warner Bros. bersiap lewat “Supergirl” dan “Dune: Part Three”. Universal membawa “pasukan keluarga” seperti “Minions 3”, “The Super Mario Galaxy Movie”, dan “The Odyssey”. Lionsgate menjanjikan perhatian besar lewat “Hunger Games: Sunrise on the Reaping”, sementara Sony menyiapkan film “Jumanji” terbaru.

Hal inilah yang membuat optimisme di industri meningkat. Jadwal rilis 2026 dipenuhi film franchise kelas atas yang ramah keluarga, kuat di fanbase, dan siap mendorong penonton kembali rutin ke bioskop. Di saat bersamaan, genre lain seperti horor, komedi, dan film indie juga punya peluang mencuri perhatian—baik sebagai kejutan box office maupun film yang viral lewat word of mouth.

Jadi, bagaimana Disney mempertahankan posisi teratas?

Jika disimpulkan, setidaknya ada tiga “kartu As” Disney untuk tetap memimpin box office 2026:

  • IP kuat yang berlapis-lapis

Disney punya Star Wars, Pixar, animasi klasik, Marvel, dan Avatar. Ini bukan satu jalur—ini jalan tol bercabang.

  • Fanbase global dan lintas generasi

Film Disney bukan cuma untuk satu usia. Ada penonton anak, remaja, dewasa, bahkan orang tua yang nostalgia.

  • Ekosistem Bisnis yang Mendukung Film

Disney bukan hanya menjual tiket. Mereka juga punya Disney+, merchandise, theme park, lisensi karakter, dan kolaborasi brand. Film jadi pusat dari banyak pintu pemasukan.

Dengan amunisi sebesar itu, bukan tidak mungkin Disney bukan hanya mempertahankan posisi puncak—tapi justru memperlebar jarak.

 

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Hiburan Terbaru