Selasa, 27 Januari 2026

Film Greenland 2: Migration, Kisah Bertahan Hidup yang Berangkat dari Fakta Sains


 Film Greenland 2: Migration, Kisah Bertahan Hidup yang Berangkat dari Fakta Sains Film Greenland 2: Migratio tayang di bioskop Indonesia. (Instagram/@greenlandmovie)

JAKARTA, ARAHKITA.COM – Sutradara Ric Roman Waugh mengungkap ironi di balik fenomena benda langit yang melintas dekat Bumi, sebuah peristiwa yang sejatinya bukan hal langka dan telah lama dipantau ilmuwan. Fakta tersebut bahkan sudah diketahui jauh sebelum film “Greenland” (2020) diproduksi.

“Yang lucu, saat kami mengerjakan film pertama, saya sebenarnya bisa menunjukkan sekitar 400 objek ATLAS lain yang juga melintas sangat dekat dengan Bumi dan semuanya terlacak,” kata Waugh dalam wawancara yang dikutip dari Gizmodo, Rabu (7/1/2026).

Waugh merujuk pada sistem ATLAS (Asteroid Terrestrial-impact Last Alert System) yang mendeteksi berbagai objek antariksa, termasuk objek antarbintang 3I/ATLAS yang tercatat melintas dekat Bumi pada 2025. Menurutnya, minimnya kesadaran publik bukan karena kurangnya informasi, melainkan karena manusia kerap menggantungkan diri pada harapan.

“Kita harus mendefinisikan apa itu ‘dekat Bumi’. Ada yang jaraknya masih ribuan hingga jutaan mil, tapi ada juga yang jauh lebih dekat,” ujarnya.

Ia menilai ketakutan manusia terhadap ancaman kosmik berkaitan erat dengan kesadaran akan rapuhnya eksistensi manusia di alam semesta. Karena itu, film menjadi medium aman untuk merasakan skenario ekstrem tanpa harus mengalaminya secara nyata.

“Entah kita mau mengakuinya atau tidak, kita semua takut pada betapa kecilnya diri kita dan hal-hal yang bisa membahayakan kita. Film memberi kesempatan untuk melihat bagaimana situasi itu berkembang tanpa harus mengalaminya langsung,” tutur Waugh.

Melalui “Greenland 2: Migration”, Waugh ingin menyampaikan pesan optimistis tentang kekuatan solidaritas manusia. Ia mengaitkannya dengan keberanian masyarakat dunia untuk kembali beraktivitas setelah pandemi COVID-19.

“Setelah COVID-19, kita sempat bertanya, apakah kita akan terus bersembunyi atau berani keluar dan kembali menjalani hidup. Semangat itulah yang mendorong Greenland 2,” jelasnya.

Dalam membangun dunia fiksi film tersebut, Waugh menegaskan bahwa ia tidak berniat membuat film dokumenter. Namun, pendekatan visual tetap berpijak pada fenomena nyata, seperti kebakaran hutan di Australia dan California, serta kondisi ekosistem di kawasan Hutan Merah Chernobyl.

Referensi tersebut digunakan untuk membayangkan kondisi Bumi pasca-bencana, ketika sistem keamanan nuklir gagal dan radiasi menyebar ke atmosfer setelah hantaman komet.

Sekuel ini masih berfokus pada keluarga Garrity, yang diperankan oleh Gerard Butler dan Morena Baccarin. Jika film pertama berkutat pada upaya mencari perlindungan, kali ini misi mereka berkembang menjadi perjalanan menuju kawah bekas tumbukan komet.

Perjalanan itu mengandung pesan filosofis tentang perbedaan antara sekadar bertahan hidup dan benar-benar menjalani hidup kembali. Meski dipenuhi gambaran bencana seperti radiasi, banjir, dan badai dahsyat, Waugh menegaskan sudut pandang kemanusiaan tetap menjadi inti cerita.

“Judul Migration merujuk pada naluri dasar semua spesies untuk berpindah, mencari tempat tinggal baru, dan membangun komunitas,” kata Waugh.

Ia kembali memilih Gerard Butler karena kemampuannya memerankan sosok pahlawan yang manusiawi dan penuh kerentanan. Menurutnya, karakter dengan kekurangan justru lebih mudah terhubung dengan penonton.

“Kami sengaja menghindari karakter yang terasa plastik—kebal peluru dan tanpa cela. Penonton lebih percaya pada manusia yang punya kelemahan dan konflik batin,” ujarnya.

Film “Greenland 2: Migration” dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia mulai 7 Januari 2026.

Editor : M. Khairul

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Hiburan Terbaru