Jamu Sebagai Warisan Budaya Sehat, What’s Next?


 Jamu Sebagai Warisan Budaya Sehat, What’s Next? Prof. Dr. Mangestuti Agil, MS, Apt, Guru Besar Fakultas Farmasi Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta. (Kompas.id)

Oleh: Prof. Dr. Mangestuti Agil, MS, Apt

HARI Jamu Nasional 27 Mei 2024 diperingati enam bulan sejak UNESCO menetapkan jamu sebagai warisan budaya sehat. Penetapan itu bermakna penting bagi jamu sebagai bagian dari sistem pengobatan tradisional Asia. Yaitu, bahwa jamu diakui perannya dalam sistem pengobatan  tradisional Indonesia untuk menyembuhkan, mempertahankan, dan meningkatkan keadaan sehat..

Penetapan itu memang tepat, terutama apabila ditelaah melalui dua faktor penting yang mendasari  kelahiran jamu. Yaitu, penerapan pola  hidup sehat dan penggunaan  jamu untuk mengatasi gangguan kesehatan ringan. Kedua faktor itu dapat dilacak melalui berbagai peninggalan manuskrip, tembang, puisi, cerita rakyat, yang  menyampaikan petunjuk cara hidup sehat dari pemimpin masyarakat, pemuka agama, dan tabib pada masanya.   Yaitu, hidup sederhana dan tidak berlebihan, menjaga keharmonisan hubungan  di dalam diri sendiri,  dengan alam sekitar, dan dengan Sang Pencipta. Anjuran ini ternyata sesuai dengan prinsip sistem pengobatan tradisional Asia lain. Yaitu prinsip holistik dalam menjaga harmonisasi dan keseimbangan tubuh, pikiran dan jiwa (body, mind, and spirit ) untuk mendapatkan keadaan sehat. Prinsip ini sudah diakui dan diterapkan dalam praktek pengobatan barat saat ini, yaitu yang populer dengan sebutan pola hidup sehat.

Aneka  ramuan yang tertulis pada  manuskrip  kuno, misalnya Serat Kawruh Bab Jampi-Jampi Jawi,  menguraikan penggunaannya untuk  mengatasi gangguan kesehatan ringan dalam kehidupan sehari-hari, seperti sakit kepala, nyeri, demam, sesak napas, batuk pilek, diare,  alergi. Dalam ilmu pengobatan barat, gangguan kesehatan ringan diartikan sebagai sinyal terdapatnya gangguan fungsi organ tubuh yang mengganggu kesehatan. Yaitu yang disebut sebagai pengobatan diri sendiri, yang merupakan tindakan pencegahan sebelum mencari pertolongan tenaga kesehatan Respons itu harus diberikan sedini mungkin untuk mencegah  disharmoni  fungsi organ tubuh yang dapat menyebabkan gangguan kesehatan  yang lebih kompleks  Dalam ilmu kedokteran, proses itu berlangsung dengan cara menjaga harmonisasi komunikasi  jaringan antar sel dalam tubuh. Hippocrates (lahir 460 SM),  Bapak Kedokteran Dunia,  menyatakan, bahwa tubuh manusia mempunyai kekuatan penyembuhan alamiah yang menjadi dasar utama bagi pengobatan diri sendiri.  Makin dini gangguan kesehatan diatasi, maka makin besar kesempatan setiap orang untuk mendapatkan keadaan tidak mudah  jatuh sakit.

Urgensi  perpaduan  penerapan pola  hidup sehat dan upaya mengatasi gangguan kesehatan ringan secara dini dapat lebih dipahami melalui pandangan Deepak Chopra dalam bukunya berjudul “Self Healing” (2019).   Ia menyatakan, bahwa perpaduan itu  menentukan  kekuatan imunitas  tubuh  dalam melawan  penyakit.  Menurutnya, kekuatan sistem imun akan terjaga   ketika terbentuk  harmonisasi  antar unsur pembentuk pola hidup sehat, yaitu kelengkapan nutrisi, kecukupan istirahat, olah tubuh, dan pengendalian stres. Jadi, kekuatan imunitas adalah penentu bagi tercapainya kesehatan jasmani dan rohani  yang prima, yaitu yang  berkaitan dengan baik buruknya kualitas hidup. .

Keragaman Ramuan Jamu

Beberapa fakta mendukung peran jamu bagi masyarakat. Indonesia mendapat karunia keragaman hayati yang menjadi sumber bahan baku berharga bagi aneka ragam ramuan jamu. Secara turun temurun masyarakat sudah menggunakan berbagai tanaman di sekitar kehidupan mereka  untuk pengobatan diri sendiri. Para peracik jamu menciptakan dan  menyimpan resep ramuan asli, dan berbagai industri jamu membuat berbagai produk berbasis resep asli dengan teknik modern. Jamu gendong dari Jawa Tengah adalah contoh nyata upaya pengobatan diri sendiri  melalui interaksi langsung antara peracik, penjual dan konsumen.

Fakta itu makin  menguatkan keyakinan, bahwa minum jamu sebagai  bagian dari tradisi dapat dipandang sebagai  modal dasar Bangsa Indonesia untuk mempertahankan kesehatan. Dan, modal dasar ini  memudahkan Bangsa Indonesia melaksanakan konsep “back to nature”, yaitu menggunakan bahan alam sebagai bahan obat untuk tujuan kesehatan.

What’s next? langkah apa yang sudah dilakukan? Apakah jamu sudah dapat berdiri sejajar dengan sistem pengobatan tradisional Asia lain, seperti Ayurveda India, Traditional Chinese Medicine Tiongkok, Kampo medicine Jepang? Profesi kesehatan sudah menerima dan menggunakan pengobatan tradisional sebagai bagian dari pengobatan alternatif dan komplementer. PemerintahTiongkok, India dan Jepang  menunjukkan komitmen tinggi bagi pengembangan pengobatan tradisional mereka. Kerjasama praktisi kedokteran barat dan timur di negara itu berlangsung sangat harmonis. Perpaduan praktek pengobatan modern dan tradisional  di Jepang dan Tiongkok  sudah melangkah menuju pelayanan integratif (integrative care). India sudah memadukan penyelenggaraan rumah sakit berkonsep barat dan konsep timur secara harmonis. Praktisi obat tradisional India dan Tiongkok adalah sarjana lulusan sekolah pengobat tradisional yang mempunyai ijin praktek resmi. Di Jepang, praktek pengobatan tradisional sudah menggunakan bahan baku herbal terstandar, resep ramuan yang ditetapkan pemerintah, dan pemberian subsidi bagi obat tradisional.

Jadi, apabila ingin berdiri sejajar dengan obat tradisional Asia, pembenahan dan penataan ulang untuk pengembangan jamu  berbasis ilmiah perlu segera dilakukan.  Yaitu, paling sedikit  meliputi penyediaan bahan baku obat alam terstandar,  uji aktivitas, uji preklinik dan klinik, penataan ijin produksi dan distribusi,  penetapan resep standar, penetapan kualifikasi peracik dan pengobat tradisional. Belajar tentang pengelolaan sistem obat tradisional dengan pihak India, Tiongkok dan Jepang perlu dipertimbangkan.  Pembenahan dan penataan itu diperlukan oleh praktisi  pelayanan kesehatan tradisional dalam meresepkan jamu bagi pasien mereka.

Kini tibalah saatnya bagi Pemerintah Indonesia untuk meningkatkan peran  nyata, yang akan meningkatkan kepercayaan dan kewaspadaan masyarakat dalam menggunakan jamu secara baik dan benar. Inilah  yang akan menjaga peran jamu sebagai warisan budaya sehat. Jangan tunda!

Prof. Dr. Mangestuti Agil, MS, Apt, Guru Besar Fakultas Farmasi Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta.

 

 

                                               

 

 

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Herbal Medicine Terbaru