PLN Dorong Transmisi Hijau, Jadi Penghubung Energi Terbarukan dari Daerah ke Pusat Beban


 PLN Dorong Transmisi Hijau, Jadi Penghubung Energi Terbarukan dari Daerah ke Pusat Beban Salah satu narasumber memberikan pemaparan dalam seminar diseminasi bertajuk Engineering Development Roadmap for Green Transmission in Supporting Accelerated Renewable Energy Development di Jakarta. (Antara/HO/PLN)

JAKARTA, ARAHKITA.COM – PT PLN menegaskan bahwa pembangunan transmisi hijau (green transmission) menjadi salah satu fondasi penting dalam mempercepat transisi energi di Indonesia. Infrastruktur ini akan menghubungkan daerah yang memiliki potensi energi terbarukan melimpah dengan wilayah yang menjadi pusat konsumsi listrik.

Vice President of Transmission and Distribution Technology and Engineering PT PLN, Buyung, mengatakan transmisi hijau merupakan bagian tak terpisahkan dari transformasi sistem kelistrikan nasional menuju energi yang lebih bersih dan berkelanjutan.

"Transmisi hijau mendukung penyaluran energi dari wilayah yang memiliki potensi energi terbarukan tinggi menuju daerah-daerah dengan kebutuhan listrik yang besar," ujar Buyung dalam keterangannya di Jakarta, Jumat (3/7/2026).

Menurutnya, tantangan transisi energi tidak hanya terletak pada pembangunan jaringan listrik, tetapi juga pada kemampuan sistem dalam mengelola karakteristik energi terbarukan yang berbeda dengan pembangkit konvensional.

Energi yang berasal dari matahari maupun angin, misalnya, bersifat intermiten atau tidak selalu tersedia karena sangat bergantung pada kondisi alam.

"Karena sifatnya tidak selalu tersedia, tantangannya adalah bagaimana sistem kelistrikan tetap mampu memasok listrik secara andal dan berkesinambungan kepada masyarakat," jelasnya.

Untuk menjawab tantangan tersebut, PLN menyusun roadmap enjiniring sebagai panduan pengembangan teknologi, inovasi, serta penguatan sistem transmisi di masa depan.

Buyung menjelaskan, jaringan listrik nasional ke depan harus lebih fleksibel dan adaptif. Digitalisasi pun bukan lagi sekadar pelengkap, melainkan menjadi kebutuhan utama agar sistem mampu membaca perubahan beban listrik, mengelola variasi pasokan energi terbarukan, serta merespons dinamika kebutuhan secara cepat.

"Kita tidak bisa lagi hanya mengandalkan sistem lama. Masa depan kelistrikan Indonesia harus lebih terkendali dan siap menuju smart grid," katanya.

Dalam jangka panjang, PLN juga mengembangkan visi Indonesia Supergrid, yakni sistem jaringan listrik yang menghubungkan berbagai pulau besar di Indonesia. Melalui konsep ini, potensi energi terbarukan dari Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, hingga Sumatera dapat dimanfaatkan secara lebih optimal untuk memenuhi kebutuhan listrik di pusat-pusat beban seperti Jawa dan Sumatera.

"Potensi energi yang dimiliki pulau-pulau besar harus mampu memberikan manfaat maksimal bagi seluruh Indonesia," ujar Buyung dikutip Antara.

Meski demikian, ia mengakui pembangunan Indonesia Supergrid bukan pekerjaan yang mudah. Dibutuhkan kajian teknis yang matang, dukungan pembiayaan, regulasi yang kuat, kesiapan teknologi, hingga kolaborasi lintas kementerian, lembaga, akademisi, dan pelaku industri.

Sementara itu, Inspektur Ketenagalistrikan Ahli Madya, Nanda Avianto Wicaksono, menegaskan bahwa pembangunan transmisi hijau harus berjalan secara cepat sekaligus tetap mengutamakan aspek keamanan, keandalan, dan efisiensi ekonomi.

Menurutnya, sinkronisasi seluruh pemangku kepentingan menjadi syarat utama agar proyek strategis tersebut dapat berjalan sesuai target.

"Dari sisi regulasi, yang paling penting adalah menghubungkan seluruh stakeholder, mulai dari badan usaha, pemerintah, akademisi hingga lembaga pengembangan lainnya," ujarnya dalam Seminar Diseminasi bertajuk Engineering Development Roadmap for Green Transmission in Supporting Accelerated Renewable Energy Development.

Ia menambahkan, masuknya berbagai teknologi baru akan membuat struktur usaha ketenagalistrikan semakin kompleks. Karena itu, regulasi harus mampu beradaptasi tanpa mengesampingkan prinsip keselamatan maupun keandalan sistem.

Selain itu, aspek keekonomian juga menjadi perhatian penting. Infrastruktur transmisi membutuhkan investasi yang sangat besar sehingga setiap proyek harus memiliki kelayakan ekonomi agar dapat direalisasikan.

Senada dengan itu, Ketua Tim Kajian Roadmap Enjiniring Bidang Transmisi Hijau, Prof. Dermawan Wibisono, mengatakan Indonesia membutuhkan peta jalan yang jelas agar target transisi energi tidak berhenti sebagai komitmen semata.

Menurutnya, roadmap yang rinci akan menjadi panduan dalam menerjemahkan target menjadi langkah-langkah nyata, termasuk dalam menyiapkan sumber daya manusia yang akan menjalankan transformasi tersebut.

"Selama ini kita sering menetapkan target besar, tetapi belum cukup rinci menyiapkan SDM yang akan mewujudkannya. Karena itu, skenario pengembangan sumber daya manusia harus segera disusun," kata Dermawan.

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Green Economy Insight Terbaru