Indonesia Dorong Digitalisasi Perdagangan dan Ekonomi Hijau di Forum APEC 2026


 Indonesia Dorong Digitalisasi Perdagangan dan Ekonomi Hijau di Forum APEC 2026 Wakil Menteri Perdagangan RI Dyah Roro Esti Widya Putri memberikan paparan saat The 32nd APEC Ministers Responsible for Trade (MRT) Meeting sesi kedua bertema "Foster New Engines of Innovative and Dynamic Trade and Investment Cooperation" di Suzhou, Tiongkok, Jumat (23/5/2026). ANTARA/HO-Kemendag

JAKARTA, ARAHKITA.COM – Indonesia menegaskan pentingnya digitalisasi perdagangan dan ekonomi hijau sebagai mesin baru pertumbuhan ekonomi kawasan dalam Forum Pertemuan Menteri Perdagangan APEC 2026.

Di tengah kondisi ekonomi global yang masih dibayangi ketegangan geopolitik, perubahan iklim, dan gangguan rantai pasok dunia, Indonesia menilai kerja sama antarnegera perlu diperkuat agar kawasan tetap tangguh dan mampu menghadapi tantangan masa depan.

Hal tersebut disampaikan Wakil Menteri Perdagangan RI, Dyah Roro Esti Widya Putri dalam sesi kedua The 32nd APEC Ministers Responsible for Trade (MRT) Meeting bertema Foster New Engines of Innovative and Dynamic Trade and Investment Cooperation di Suzhou, Tiongkok, Jumat (23/5/2026).

Menurut Roro Esti, transformasi digital dan transisi hijau kini sedang mengubah pola perdagangan dan investasi global. Karena itu, seluruh negara anggota APEC perlu memperkuat kolaborasi agar manfaat pertumbuhan ekonomi dapat dirasakan secara lebih inklusif.

“Transformasi digital dan transisi hijau tengah membentuk ulang pola perdagangan dan investasi global. Oleh karena itu, kerja sama yang lebih kuat diperlukan agar manfaatnya dapat dirasakan secara luas dan inklusif oleh seluruh ekonomi,” ujar Roro.

AI dan Digitalisasi Jadi Penggerak Baru

Indonesia menilai perkembangan teknologi, termasuk kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI), membuka peluang besar dalam meningkatkan efisiensi perdagangan lintas negara.

Teknologi digital dinilai mampu menekan biaya transaksi, mempercepat proses bisnis, hingga memperkuat konektivitas perdagangan global.

Indonesia sendiri mencatat pertumbuhan ekonomi digital yang terus meningkat. Nilai gross merchandise value (GMV) ekonomi digital nasional bahkan diperkirakan mendekati 100 miliar dolar AS pada 2025 dan menjadi salah satu motor pertumbuhan ekonomi nasional.

Pemerintah juga terus mengembangkan pemanfaatan AI melalui inisiatif TradeAI untuk mendukung fasilitasi perdagangan. Program ini diarahkan untuk menyederhanakan proses kepabeanan, mengurangi biaya logistik, dan meningkatkan efisiensi perdagangan lintas batas.

Tak hanya itu, Indonesia juga fokus pada tiga prioritas utama dalam transformasi digital, yakni memperluas infrastruktur digital, meningkatkan keterampilan digital masyarakat melalui pelatihan dan transfer teknologi, serta memperkuat digitalisasi UMKM agar mampu menembus pasar global.

Program seperti UMKM Go Digital dan UMKM BISA Ekspor disebut menjadi bagian penting dalam strategi tersebut.

Indonesia juga menekankan pentingnya tata kelola data dan ekonomi digital yang tetap memberikan ruang kebijakan bagi setiap negara, sekaligus memperkuat harmonisasi standar perdagangan digital di kawasan.

Menurut Roro Esti, pengembangan AI harus dilakukan dengan mengedepankan prinsip keamanan, kepercayaan, dan inklusivitas.

Ekonomi Hijau dan Industri EV Jadi Fokus

Selain transformasi digital, Indonesia juga menilai ekonomi hijau menjadi sumber pertumbuhan baru yang semakin strategis di kawasan Asia Pasifik.

Pemerintah terus mendorong transformasi hijau yang terintegrasi dengan pembangunan industri dan perdagangan nasional.

Di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, pembangunan ekonomi diarahkan agar tetap selaras dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat, penguatan sumber daya manusia, dan prinsip keberlanjutan.

Indonesia juga telah meratifikasi Paris Agreement dan berkomitmen menurunkan emisi gas rumah kaca pada 2030.

Komitmen tersebut diwujudkan melalui penguatan hilirisasi mineral kritis dan pengembangan ekosistem industri baterai serta kendaraan listrik atau electric vehicle (EV).

Sebagai salah satu calon pusat industri EV di kawasan ASEAN, Indonesia menyambut positif penguatan kerja sama regional melalui inisiatif APEC EV Supply Chain.

Pemerintah menilai kebijakan industri yang mendorong peningkatan nilai tambah dan pengolahan domestik penting agar manfaat ekonomi dapat dirasakan secara lebih adil dan berkelanjutan dikutip Antara.

Indonesia juga mengingatkan bahwa transisi hijau memerlukan dukungan pembiayaan, transfer teknologi, akses energi bersih, dan penguatan kapasitas yang lebih merata, terutama bagi negara berkembang.

Dalam forum tersebut, Indonesia menegaskan bahwa upaya dekarbonisasi global tidak boleh berubah menjadi hambatan perdagangan baru.

Kebijakan karbon, menurut pemerintah, perlu diterapkan secara transparan, nondiskriminatif, dan tetap sejalan dengan aturan perdagangan internasional.

Melalui forum APEC MRT 2026, Indonesia kembali menegaskan komitmennya untuk memperkuat kerja sama perdagangan kawasan yang lebih tangguh, inklusif, dan berkelanjutan melalui penguatan digitalisasi dan ekonomi hijau.

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Green Economy Insight Terbaru