Loading
Menteri Lingkungan Hidup Mohammad Jumhur Hidayat saat kunjungan kerja ke Polda Riau (ANTARA/Ho-Polra Riau)
JAKARTA, ARAHKITA.COM – Pemerintah Indonesia terus memperkuat diplomasi lingkungan dan energi hijau di tingkat global. Menteri Lingkungan Hidup Jumhur Hidayat mendukung langkah strategis Duta Besar RI untuk Kazakhstan merangkap Tajikistan, Fadjroel Rachman, dalam mendorong pembahasan Nota Kesepahaman (MoU) antarpemerintah yang melibatkan Indonesia, Kazakhstan, dan Tajikistan.
Dalam siaran pers KBRI Astana yang diterima di Jakarta, Senin (11/5/2026), disebutkan bahwa rencana tersebut menjadi tindak lanjut dari sejumlah pertemuan terkait isu air, perubahan iklim, dan energi hijau yang sebelumnya digelar di Kazakhstan dan Tajikistan. Inisiatif ini juga berkaitan dengan agenda besar Regional Ecological Summit 2026 di Kazakhstan.
Jumhur menilai ketiga negara memiliki kesamaan visi dalam menghadapi tantangan lingkungan global. Menurutnya, Indonesia, Kazakhstan, dan Tajikistan sama-sama memiliki kepentingan besar dalam pengelolaan air, pengurangan emisi karbon, hingga pengembangan energi ramah lingkungan.
Ia mencontohkan beberapa peluang kerja sama yang dinilai potensial, mulai dari pengelolaan sampah menjadi energi listrik, dekarbonisasi smelter, hingga pengembangan pembangkit listrik tenaga air (PLTA) berskala besar di Indonesia seperti proyek Kayan di Kalimantan Utara dan Mamberamo di Papua.
“Kesamaan agenda ini menjadi modal penting untuk membangun kerja sama Selatan-Selatan di bidang lingkungan yang saling menguntungkan,” ujar Jumhur dikutip Antara.
Menurut dia, kerja sama tersebut tidak berhenti pada tataran wacana. Pemerintah saat ini mulai merumuskan ruang lingkup MoU government to government (G to G) yang mencakup transfer teknologi, investasi hijau, hingga proyek percontohan di sektor energi bersih.
Sementara itu, Fadjroel menyoroti besarnya potensi kerja sama di bidang PLTA. Ia mengingatkan bahwa hubungan bilateral terkait pengelolaan air sebenarnya telah mulai dibangun sejak pertemuan Presiden Joko Widodo dengan Perdana Menteri Tajikistan Kokhir Rasulzoda pada ajang World Water Forum 2024 di Bali.
Menurut Fadjroel, peluang ekonomi hijau ini juga semakin terbuka setelah adanya Free Trade Agreement antara Indonesia dan Eurasian Economic Union yang ditandatangani pada 21 Desember 2025.
Tajikistan sendiri dikenal memiliki pengalaman panjang dalam pembangunan bendungan dan sistem hidroelektrik di kawasan pegunungan. Negara itu memiliki Bendungan Norak dengan kapasitas 3.000 megawatt (MW) serta Bendungan Rogun yang disebut sebagai bendungan tertinggi di dunia dengan kapasitas mencapai 3.780 MW.
Karena itu, Fadjroel berharap Menteri Lingkungan Hidup dapat menghadiri berbagai forum internasional mendatang di Kazakhstan dan Tajikistan, termasuk The 2026 UN Water Conference di Uni Emirat Arab dan Konferensi Perubahan Iklim PBB atau UNFCCC COP31 2026 di Turkiye.
Selain memperkuat diplomasi lingkungan, ketiga negara juga membuka peluang kerja sama investasi hijau yang melibatkan BUMN ketenagalistrikan maupun sektor swasta.
“Ini bukan sekadar diplomasi biasa. Dunia bergerak cepat menuju energi hijau dan ekonomi sirkular. Indonesia, Kazakhstan, dan Tajikistan memiliki peluang untuk bergerak bersama menuju masa depan yang lebih baik,” kata Fadjroel.