Selasa, 27 Januari 2026

AS Tarik Diri Lagi dari Perjanjian Paris, Upaya Global Lawan Krisis Iklim Terancam


 AS Tarik Diri Lagi dari Perjanjian Paris, Upaya Global Lawan Krisis Iklim Terancam Arsip - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menunjukkan dokumen "Dewan Perdamaian" (Board of Peace) yang ditandatanganinya di sela-sela acara World Economic Forum (WEF) 2026 di Congress Hall, Davos, Swiss, Kamis (22/1/2026). ANTARA/Xinhua/Lian Yi/aa.

TOKYO, ARAHKITA.COM – Amerika Serikat kembali mengambil langkah kontroversial di panggung global. Pada Selasa (27/1/2026), pemerintah Amerika Serikat secara resmi menarik diri dari Perjanjian Paris, kesepakatan internasional utama dalam upaya menahan laju pemanasan global.

Keputusan ini merupakan realisasi dari janji kampanye Donald Trump, yang sejak awal kembali menjabat sudah menyatakan penolakannya terhadap kerja sama iklim global. Penarikan ini menandai kali kedua Amerika Serikat keluar dari Perjanjian Paris setelah langkah serupa dilakukan pada November 2020, di akhir masa jabatan Trump sebelumnya.

Sebagai negara penghasil emisi gas rumah kaca terbesar kedua di dunia setelah China, keluarnya Amerika Serikat dipandang akan memberi dampak signifikan terhadap upaya kolektif menekan krisis iklim. Banyak pihak menilai langkah ini dapat memperlambat pencapaian target global untuk membatasi kenaikan suhu bumi maksimal 1,5 derajat Celcius di atas level pra-industri.

Padahal, Amerika Serikat sempat kembali bergabung dengan Perjanjian Paris pada 2021, tak lama setelah Joe Biden dilantik sebagai presiden. Namun, perubahan arah kebijakan kembali terjadi seiring kembalinya Trump ke Gedung Putih pada Januari 2025.

Penarikan diri terbaru ini diperkirakan akan berlaku setidaknya hingga sisa masa kepresidenan Trump saat ini, yakni sekitar tiga tahun ke depan. Kondisi tersebut dinilai semakin menyulitkan komunitas internasional dalam menjaga konsistensi aksi iklim global.

Dalam pidatonya di Majelis Umum PBB pada September tahun lalu, Trump kembali menegaskan sikap skeptisnya terhadap isu perubahan iklim. Ia bahkan menyebut krisis iklim sebagai “penipuan terbesar yang pernah dilakukan terhadap dunia,” pernyataan yang menuai kritik luas dari berbagai negara dan aktivis lingkungan.

Tak berhenti di situ, awal bulan ini Trump juga mengisyaratkan rencana Amerika Serikat untuk keluar dari Konvensi Kerangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim—kerangka hukum yang menjadi fondasi lahirnya Perjanjian Paris sejak diadopsi pada 1992 dikutip Antara.

Langkah menjauh dari kerja sama iklim dan multilateralisme ini diprediksi akan membuat proses kembalinya Amerika Serikat ke forum iklim global di masa depan menjadi lebih panjang dan rumit, terutama jika harus menunggu pergantian pemerintahan.

Sebagai catatan, Perjanjian Paris yang diadopsi pada 2015 dan mulai berlaku setahun kemudian telah diratifikasi oleh hampir 200 negara dan wilayah. Kesepakatan ini menjadi tonggak penting karena untuk pertama kalinya seluruh negara—baik maju maupun berkembang—diwajibkan menetapkan target pengurangan emisi gas rumah kaca demi masa depan bumi yang lebih berkelanjutan.

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Green Economy Insight Terbaru