Menteri Agama Nasaruddin Umar (tengah) saat konferensi pers persiapan gelaran International Grand Imam Conference (IGIC) yang berlangsung di Masjid Istiqlal, Rabu (23/9/2026). ANTARA/Asep Firmansyah
GLOBAL HARMONY | INTER FIDEI
JAKARTA, ARAHKITA.COM - Menteri Agama Nasaruddin Umar mendorong pengembangan diplomasi keagamaan atau religious diplomacy sebagai pendekatan baru dalam membangun perdamaian global.
Menurut Nasaruddin, pendekatan tersebut dapat membuka ruang dialog yang lebih luas karena tidak hanya bertumpu pada aspek formal dan legal, tetapi juga mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan yang bersifat universal.
“Kita tahu bahwa diplomasi yang kita kembangkan selama ini sangat formal dan terlalu legal-formalistik sehingga pada akhirnya sering menemui jalan buntu. Nah, kita mencoba menggunakan pendekatan spiritual diplomacy karena kita sangat yakin bahwa humanity is only one, there is no other,” ujar Nasaruddin di Masjid Istiqlal, Jakarta, Rabu (23/9/2026).
Pernyataan tersebut disampaikan Nasaruddin dalam konferensi pers persiapan International Grand Imam Conference (IGIC) 2026 yang akan berlangsung pada 25-28 September 2026.
IGIC 2026 akan digelar di tiga lokasi, yakni Masjid Istiqlal, Hotel Bidakara, dan Hotel Sahid, Jakarta.
Sekitar 500 peserta diperkirakan menghadiri forum tersebut. Dari jumlah itu, sebanyak 47 peserta merupakan imam masjid dari 39 negara.
Baca juga:
Seruan Paus Leo XIV: Perdamaian Bukan Pilihan, tapi Kewajiban Global yang Mengikat Umat ManusiaNasaruddin mengatakan penyelenggaraan IGIC juga menjadi bagian dari soft diplomacy yang dikembangkan Indonesia melalui pendekatan keagamaan.
Ia menilai nilai-nilai kemanusiaan dapat menjadi titik temu bagi masyarakat dari berbagai latar belakang, termasuk perbedaan kewarganegaraan, etnis, jenis kelamin, agama, maupun keyakinan.
“Kalau kita mau jujur, sebenarnya lebih mudah mempertemukan titik-titik persamaan agama daripada mencari perbedaannya,” ujar Imam Besar Masjid Istiqlal tersebut.
Agama sebagai Kekuatan Pemersatu
Nasaruddin menjelaskan, pada dasarnya agama memiliki pesan universal mengenai perdamaian dan penolakan terhadap kekerasan.
Karena itu, nilai-nilai tersebut dapat dikembangkan menjadi kekuatan untuk memperkuat hubungan antarmanusia di tengah berbagai perbedaan.
Ia menekankan pentingnya menempatkan agama sebagai kekuatan yang mempersatukan, bukan justru menjadi sumber perpecahan.
“Kita akan menekankan agama sebagai kekuatan sentripetal, yaitu kekuatan untuk mempersatukan, bukan kekuatan sentrifugal, yaitu kekuatan untuk memecah belah,” kata Nasaruddin.
Menurut dia, pendekatan tersebut menjadi semakin penting ketika berbagai persoalan global membutuhkan ruang dialog yang tidak hanya bersifat politik, tetapi juga menyentuh aspek kemanusiaan dan spiritual.
Masjid Jadi Ruang Dialog Kemanusiaan
Dalam gagasan diplomasi keagamaan yang akan dibawa ke IGIC 2026, masjid dinilai memiliki posisi strategis.
Selain berfungsi sebagai tempat ibadah, masjid dapat menjadi ruang perjumpaan berbagai kelompok masyarakat untuk membicarakan persoalan-persoalan kemanusiaan.
“Masjid, sama seperti rumah ibadah lainnya, adalah tempat pertemuan antara hamba dan Tuhan. Karena itu, masjid juga merupakan meeting point untuk membicarakan persoalan-persoalan kemanusiaan yang sangat mendasar,” ujar Nasaruddin.
Gagasan tersebut akan menjadi salah satu pembahasan dalam International Grand Imam Conference 2026 yang mengusung tema “Masjid Harmony, Religious Diplomacy, and Global Peace.”
Forum ini diharapkan tidak berhenti pada diskusi, tetapi menghasilkan gagasan yang dapat diterapkan oleh para imam dan komunitas keagamaan di berbagai negara.
Hasil IGIC 2026
Dua keluaran utama yang ditargetkan dari penyelenggaraan IGIC 2026 adalah Jakarta Understanding dan International Grand Imams Forum.
Keduanya diharapkan menjadi pedoman bagi para imam dari berbagai negara dalam mengembangkan hasil pembahasan forum di lingkungan dan wilayah masing-masing.
Melalui forum tersebut, diplomasi keagamaan diharapkan dapat berkembang sebagai salah satu ruang dialog internasional yang menempatkan nilai kemanusiaan, perdamaian, dan persatuan sebagai titik temu.
Dengan demikian, agama tidak hanya hadir sebagai bagian dari kehidupan spiritual masyarakat, tetapi juga dapat mengambil peran dalam membangun komunikasi dan hubungan antarmanusia di tengah tantangan perdamaian global.