Berdoa dan Menulis Lagu Perdamaian


 Berdoa dan Menulis Lagu Perdamaian Ilustrasi - Sejumlah warga mengikuti kegiatan doa untuk perdamaian dunia di Gong Perdamaian Dunia, Kertalangu, Denpasar Senin (14/3/2022). (Foto: detik.com)

GLOBAL HARMONY | VOICES OF PEACE

Oleh: Simply da Flores

DI BANYAK tempat, jutaan doa telah dipanjatkan demi perdamaian dan keadilan bagi seluruh umat manusia. Namun perang, konflik, dan kekerasan masih saja terjadi. Pertanyaannya: apakah doa dan seruan damai itu sia-sia?

Begitu pula lagu-lagu perdamaian, dari yang diciptakan para musisi jalanan hingga penyanyi dunia. Meski nyanyian harapan terus menggema, penderitaan manusia tak serta-merta hilang. Namun di balik semua itu, ada makna yang jauh lebih dalam.

Doa: Kekuatan Sunyi yang Menggerakkan

Daripada larut dalam kegelapan, lebih mulia bila kita menyalakan “sebatang lilin” kecil: doa. Dari agama apa pun, di mana pun berada, doa adalah energi yang membentuk pribadi agar memilih menjadi pembawa damai—bukan sumber kekerasan, bukan pemicu permusuhan.

Kekuatan doa bukan terletak pada hasil instan atau perubahan drastis. Doa mengubah hati kita terlebih dahulu. Ia membuat kita sadar bahwa menjadi bagian dari solusi jauh lebih penting daripada mengeluhkan masalah.

Pada akhirnya, sisanya kita serahkan kepada Sang Maha Damai, yang bekerja dengan cara yang tidak selalu bisa kita pahami sepenuhnya.

Lagu Damai Para Penyanyi Jalanan

Ketika menjadi pengamen, saya dan beberapa kawan sempat nyanyikan lagu perdamaian. Di masa perang AS–Irak, saya dan teman-teman menyanyikan lagu perdamaian ciptaan rekan sesama pengamen. Meski sederhana, lagu itu menjadi bentuk doa kecil bagi dunia—dinyanyikan dari sudut jalan dengan harapan dapat menghibur sekaligus mengetuk nurani.

Teks lagunya sebagai berikut:

"Berbagai bencana, kini menimpa dunia

Kemiskinan kelaparan mewarnai kehidupan

Manusia seakan kini tak peduli lagi

Berbuat sesuatu sekehendak seleranyaButir-butir logam, kini mencabut nyawa

Beterbangan di antara jerit tangis korbannya

Tetes-tetes dara terus mengalir sudah

Membasahi alam jagat raya

Hai, kau manusia ciptaan Yang Kuasa

Masihkah ada cinta kasih pada sesama

Hentikan segera segala bentuk pertikaian dunia

Damailah kita, satu dalam kehidupan ini

Damailah damai duniaDamailah damai semua"

Saya coba menulis dalam bahasa Inggris dan merekam dengan beberapa teman.  Teks lagunya sebagai berikut:

"Come every body, we are one

Come all the nations, we build the peace

Come all the countries, make a better day

This is not a dream, but we really need

For humans being, for we are all

Every day we knowthere are people cryingbecause they have no food, they have no water

Poor people more and more

Wars and conflicts are going on

Global warming we can't stop

Who will care for our lifeHands in hands, lets we join

Give your heart for building harmony

Stop the wars, fight injustice

Make a better day, Peace for all"

Hemat saya, Perdamaian dan Keadilan adalah panggilan asli bagi setiap pribadi, keluarga, komunitas, suku bangsa dan negara di dunia. Kita semua manusia adalah sesama saudara. Maka, mari menjadi pelaku damai dan keadilan. Mulai dengan doa dan tindakan nyata dalam hidup sehari-hari. Bukan hanya mengutuk kegelapan kemanusiaan, permusuhan dan perang. 

Di dunia internasional, kita mengenal “Imagine” dari John Lennon dan “We Are the World” yang dipelopori Michael Jackson dan Bob Geldof. Lagu-lagu itu bukan sekadar musik; ia adalah seruan agar manusia bersatu, saling merangkul, dan peduli pada tragedi kemanusiaan. Doa dan musik, dalam caranya yang sunyi, selalu menemukan jalan untuk menyentuh hati.

Menjadi Lilin di Tengah Kegelapan

Perdamaian dan keadilan adalah panggilan universal bagi setiap manusia, tanpa memandang latar belakang. Kita semua adalah saudara setanah dunia. Karena itu, mari menjadi lilin kecil yang menerangi sekitar—melalui doa, melalui kepedulian, dan melalui tindakan nyata.

Jangan hanya mengutuk kegelapan. Jadilah cahaya yang membawa harapan. Dunia membutuhkan lebih banyak pembawa damai. Dan itu bisa dimulai dari diri kita sendiri.

Penulis: Aktivis Sosial dan Budaya. Tinggal di Jakarta

 

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Global Harmony Terbaru