Loading
Arsip foto - Warga berekreasi bersama keluarga di Pantai Lagoon, Taman Impian Jaya Ancol, Jakarta, Kamis (1/5/2025). ANTARA FOTO/JASMINE NADHYA THANAYA.
Perencana keuangan sekaligus pendiri DNA Finance Indonesia, Aliyah Natasya, menegaskan bahwa liburan merupakan bagian yang wajar dalam perencanaan keuangan keluarga. Namun, keputusan berlibur harus disesuaikan dengan kemampuan finansial yang dimiliki.
"Liburan bukan hal yang tabu untuk dibicarakan dalam perencanaan keuangan keluarga, yang menjadi masalah bukan liburannya, tapi caranya," kata Aliyah,Jumat (5/6/2026).
Pastikan Dana Darurat Tetap Aman
Salah satu hal utama yang perlu diperiksa sebelum merencanakan liburan adalah ketersediaan dana darurat. Menurut Aliyah, dana darurat tidak boleh digunakan untuk membiayai perjalanan wisata.
"Dana darurat 100 persen utuh. Sebelum memesan tiket pesawat, pastikan dana darurat minimal setara tiga sampai enam bulan pengeluaran rumah tangga tidak tersentuh," ujarnya.
Dana darurat berfungsi sebagai perlindungan ketika terjadi kondisi tak terduga, seperti kehilangan pekerjaan, sakit, atau kebutuhan mendesak lainnya.
Prioritaskan Biaya Pendidikan Anak
Selain dana darurat, keluarga juga perlu memastikan seluruh kebutuhan pendidikan anak telah terpenuhi sebelum mengalokasikan anggaran untuk rekreasi.
Aliyah mengingatkan agar biaya daftar ulang sekolah, pembelian seragam, dan kebutuhan buku untuk semester berikutnya sudah dibayar lunas terlebih dahulu.
"Bukan hampir lunas, bukan sudah sebagian, biaya daftar ulang, seragam baru, dan buku semester berikutnya harus sudah terbayar penuh sebelum anggaran liburan disentuh," katanya.
Pisahkan Dana Liburan dari Kebutuhan Harian
Menurut Aliyah, keluarga yang memiliki kondisi keuangan sehat biasanya telah menyiapkan dana khusus untuk liburan jauh hari sebelumnya. Dana tersebut dikumpulkan secara bertahap dan dipisahkan dari anggaran kebutuhan rutin rumah tangga.
Dengan cara ini, kegiatan rekreasi tidak mengganggu kebutuhan pokok maupun rencana keuangan lainnya.
Hindari Berlibur dengan Utang
Aliyah juga mengingatkan masyarakat agar tidak menggunakan pinjaman online, layanan paylater, maupun kartu kredit yang tidak dapat dilunasi dalam satu siklus tagihan untuk membiayai liburan.
"Jika sumber dana liburan berasal dari pinjaman online, cicilan paylater, atau kartu kredit yang tidak bisa dilunasi dalam satu billing cycle, itu bukan liburan. Itu adalah utang yang dirayakan," tegasnya.
Selain itu, ia menyarankan keluarga memperhatikan rasio cicilan terhadap pendapatan. Jika total cicilan bulanan sudah melebihi 35 persen dari penghasilan, maka rencana liburan besar sebaiknya ditunda.
"Jika total cicilan bulanan Anda melebihi sepertiga penghasilan, maka liburan besar harus masuk daftar tunggu, bukan daftar rencana," ujar Aliyah.
Liburan Setelah Kebutuhan Utama Terpenuhi
Aliyah menekankan bahwa keputusan berlibur sebaiknya diambil setelah seluruh kebutuhan pokok keluarga, biaya pendidikan, serta perlindungan keuangan seperti tabungan dan dana darurat terpenuhi.
Dengan perencanaan yang matang, liburan dapat menjadi momen berkualitas bersama keluarga tanpa menimbulkan tekanan keuangan setelahnya.