Sabtu, 17 Januari 2026

Riset Frugal Consumer: Makan Tabungan, Ketahanan Finansial Keluarga Rentan


 Riset Frugal Consumer: Makan Tabungan, Ketahanan Finansial Keluarga Rentan Riset Inventure–Alvara 2025 terhadap 600 responden menunjukkan tren yang kurang menggembirakan. (Tangkapan Layar Riset Inventure–Alvara 2025)

JAKARTA, ARAHKITA.COM - Perlambatan ekonomi yang berkepanjangan mulai terasa nyata di rumah tangga Indonesia. Gejala dormant economy membuat banyak keluarga harus merombak strategi keuangan mereka. Dalam paparan Business Outlook 2026: Winning in The Era of Dormant Economy yang dipaparkan di Jakarta, Selasa (9/12/2025), terungkap bagaimana masyarakat kini berada dalam mode bertahan.

Riset Inventure–Alvara 2025 terhadap 600 responden menunjukkan tren yang kurang menggembirakan. Pendapatan, tabungan, hingga investasi mengalami tekanan simultan dan membuat ketahanan finansial keluarga semakin rentan.

Tabungan Tergerus, Investasi Melemah

Survei mencatat 35% responden mengalami penurunan tabungan, sementara hanya 10% yang tabungannya bertambah. Tekanan lebih berat tampak pada pos investasi: 40% responden menyatakan investasinya menurun, dan hanya 7% yang mengalami kenaikan.

Kondisi ini menggambarkan pergeseran prioritas. Masyarakat tidak lagi fokus pada akumulasi aset jangka panjang, melainkan memastikan kebutuhan harian terpenuhi dan alur kas tetap aman. Pengeluaran yang tidak mendesak dipangkas, sementara ruang untuk berinvestasi mulai menyempit.

Pendapatan Stabil, tapi Tidak Lagi Cukup

Di sisi pendapatan, tekanan ekonomi juga terasa. Mayoritas responden (55%) menyebut pendapatannya stabil dan masih cukup. Namun, 14% mengaku pendapatannya stagnan tetapi tidak lagi mencukupi kebutuhan—menjadi kelompok terbesar kedua dalam survei. Indikasinya jelas: pendapatan yang tidak naik tidak mampu mengejar laju kenaikan biaya hidup.

Lahirnya Frugal Consumer di Tengah Dormant Economy

Yuswohady, Managing Partner Inventure, menilai perubahan ini sebagai transisi besar dalam pola konsumsi. “Penurunan tabungan, merosotnya investasi, dan pendapatan stagnan membuat masyarakat masuk ke mode bertahan. Konsumen kini menjadi frugal consumer—lebih hemat, kritis, dan menuntut nilai. Mereka membeli berdasarkan urgensi dan manfaat, bukan keinginan,” ujarnya.

Hasannudin Ali, CEO Alvara Research Center, menambahkan bahwa pola ini merupakan respons logis terhadap tekanan ekonomi. “Ketahanan finansial rumah tangga mulai rentan. Ketika pendapatan tidak berbanding lurus dengan naiknya biaya hidup, masyarakat mengalihkan fokus ke perlindungan arus kas harian. Perilaku frugal menjadi strategi adaptif untuk menjaga stabilitas ekonomi keluarga.”

Pola Konsumsi 2026: Hemat, Selektif, dan Value-Oriented

Kombinasi penurunan tabungan, melemahnya investasi, dan pendapatan yang stagnan melahirkan norma konsumsi baru. Frugal consumer kian dominan dan menjadi penanda bahwa pasar bergerak ke arah yang lebih efisien. Keputusan belanja kini lebih berfokus pada kebutuhan esensial dan produk dengan nilai manfaat yang jelas.

Tahun 2026 pun diprediksi sebagai fase ketika masyarakat semakin berhitung, semakin selektif, dan semakin menuntut value-for-money atas setiap rupiah yang dikeluarkan.

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Finansialku Terbaru