Selasa, 27 Januari 2026

Langit Terasa Runtuh Ketika Diaspora Palestina Kehilangan 117 Keluarganya di Gaza


 Langit Terasa Runtuh Ketika Diaspora Palestina Kehilangan 117 Keluarganya di Gaza Adel Abu Lebdeh, kehilangan 117 kerabat di Jalur Gaza. (Foto Antaranews)

BAGI Adel Abu Lebdeh, langit seperti runtuh ketika mengetahui 117 kerabatnya tewas dalam serangan-serangan udara Israel di Jalur Gaza.

Dia hanyalah satu dari sekian banyak diaspora Palestina yang kehilangan orang-orang terkasih akibat agresi Israel di wilayah kantong itu, yang telah kehilangan lebih dari 42.000 orang dan melukai lebih dari 98.000 lainnya.

“Saya kehilangan keluarga saya,” katanya dengan air mata bercucuran, sambil menceritakan dampak perang tersebut terhadap komunitas Palestina di Hamilton, Kanada.

Bagi pria yang mengaku keturunan Palestina-Kanada itu, kehilangan kerabat bukan hanya tragedi pribadi, tetapi juga mengubah cara dia memandang kehidupan.

"Kehilangan itu mengubah pemahaman kami pada kehidupan. Hidup serasa tidak penting lagi," katanya dikutip Antara dari Anadolu.

Dia mengatakan bahwa duka yang dirasakannya semakin dalam karena lebih dari 11 keluarga Palestina di Hamilton, Kanada juga memiliki kisah serupa.

“Saya kehilangan sekitar 117 anggota keluarga, sanak-saudara, paman, keponakan, dan sepupu,” katanya. Menurut dia, impian dan masa depan mereka kini telah direnggut.

Seraya menahan tangis, Abu Lebdeh bercerita tentang beberapa keponakannya yang baru lulus kuliah dan tewas dalam serangan udara Israel beberapa bulan kemudian.

Dia ingat komunikasi terakhir lewat telepon dengan sepupunya di Gaza.

"Esoknya, rumahnya dibom. Saya tak sempat mengucapkan selamat tinggal," katanya. Pengeboman itu menurunkan 17 kerabat Abu Lebdeh, menghapus nama mereka dari daftar kehidupan.

“Mereka semua memiliki masa depan yang baik. Sayangnya, mereka sudah tiada,” ujarnya.

Dia juga mengatakan ada keluarga lain di Hamilton yang kehilangan lebih dari 250 kerabat di Gaza.

“Ini adalah Holocaust baru yang terjadi di depan mata dunia,” katanya sambil terisak. Abu Lebdeh begitu mengecam ketidakpedulian masyarakat dunia terhadap genosida yang sedang berlangsung di Gaza.

“Dunia menyaksikannya, dan mereka seolah setuju atau diam karena punya kepentingan, atau mungkin terbiasa melihat pembunuhan massal,” ujarnya.

Dia mengkritik kelambanan komunitas internasional, terutama mereka yang disebutnya memiliki “sistem politik yang korup.”

Abu Lebdeh juga menyesali hilangnya persatuan di antara negara-negara Muslim.

"Sayangnya, sejak kekaisaran Ottoman runtuh dan umat terbelah menjadi entitas-entitas kecil dalam Perjanjian Sykes-Picot, definisi umat mungkin sudah tidak ada lagi."

Kanada Di sisi yang Salah dalam Sejarah

Abu Lebdeh menggambarkan diamnya negara-negara tetangga Palestina, seperti Mesir dan Yordania, sebagai bentuk keterlibatan mereka dalam kekejaman tersebut.

“Mereka tidak hanya diam, tetapi juga terlibat dalam genosida yang sedang dialami saudara-saudara kita di Gaza dan di seluruh Palestina, dan sekarang menuju Lebanon juga,” katanya.

Menurut dia, meski banyak orang di dunia berada di pihak yang benar-benar mendukung Gaza, sistem politik yang menguasai dunia berada di pihak yang salah, di sisi sejarah yang salah.

Abu Lebdeh mengungkapkan kekecewaannya terhadap sikap Kanada, terutama Perdana Menteri Justin Trudeau.

"Sangat membidik bagi Trudeau yang berada di sisi sejarah yang salah," katanya.

Dia mengecam sikap Kanada terhadap resolusi PBB tentang pendapat hukum dari Mahkamah Internasional soal konsekuensi hukum yang timbul dari kebijakan dan praktik Israel di wilayah Palestina yang mereka duduki.

Abu Lebdeh menyoroti perbedaan yang mencolok antara Trudeau dan ayahnya, mantan PM Pierre Trudeau, yang dikenal pro-Palestina.

"Dia (Justin Trudeau) seperti ungkapan ungkapan 'buah jatuh tak jauh dari pohonnya' dan dia memilih sisi sejarah yang salah, membawa seluruh Kanada ke sisi sejarah yang salah."

Abu Lebdeh menilai pemerintah Kanada berperan dalam genosida di Gaza dengan memberi Israel bantuan militer dan dukungan politik.

Namun, Abu Lebdeh mengaku masih berharap agar pemerintah Kanada meninjau kembali sikap mereka terhadap Israel. Baginya, dampak konflik ini tidak hanya terkait dengan masa kini, tetapi juga masa depan.

Dia juga mengungkapkannya tentang generasi Muslim Kanada yang akan datang.

"Bagaimana perasaan mereka ketika membaca sejarah?" katanya, Merujuk pada sikap pemerintah Kanada terhadap genosida.

Ketika lahir terus jatuhan di Gaza, Abu Lebdeh bertabrakan dengan dunia, terutama Kanada, untuk berpihak pada kemanusiaan sebelum semuanya menjadi terlambat.

Editor : Lintang Rowe

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Feature Terbaru