Dolar Menguat, Rupiah Terhempas


 Dolar Menguat, Rupiah Terhempas Ilustrasi Dolar (InfoexNews)

JAKARTA, ARAHKITA.COM - Sejumlah mata uang pasar berkembang terpukul oleh apresiasi Dolar begitu tajam pasca komentar hawkish dari Ketua Dewan Gubernur Federal Reserve Jerome Powell yang mendukung ekspektasi kenaikan suku bunga AS tahun ini.

Rupiah mengalami tekanan jual luar biasa saat perdagangan dimulai kembali pascalibur panjang Idulfitri. USDIDR kembali bergerak ke atas level psikologis 14000. Karena faktor penggerak di balik depresiasi Rupiah adalah faktor eksternal, mata uang Indonesia dapat semakin tergelincir di jangka pendek hingga menengah.

Lukman Otunuga, Research Analyst FXTM menegaskan perlu kita perhatikan bahwa kombinasi apresiasi Dolar, ekspektasi kenaikan suku bunga AS, dan ketidakpastian geopolitik sepertinya akan terus menekan mata uang pasar berkembang. Bank Indonesia mungkin saja terpaksa melakukan intervensi pasar guna melindungi Rupiah apabila Dolar terus menguat.

"Para trader teknikal akan terus mengamati bagaimana USDIDR bereaksi di atas level psikologis 14000. Breakout di atas 14.250 dapat membuka jalan menuju 14.750 di jangka pendek,"kata Lukman.

Lebih lanjut Lukman menjelaskan emas terpukul berkali-kali oleh Dolar yang menguat secara umum di hampir sepanjang pekan perdagangan ini. Kita mungkin mengira bahwa situasi perdagangan internasional yang semakin tegang dapat membuat emas menguat, tapi nyatanya harga emas tetap tertekan.

Komentar hawkish Jerome Powell di Forum ECB kata Lukman semakin memperburuk keadaan logam mulia ini. Harga emas terperosok hingga mencapai level terendah baru untuk 6 bulan.

Ketidakpastian karena ketegangan perdagangan global lanjut Lukman mungkin mengangkat harga emas di masa mendatang, tapi investor sepertinya lebih khawatir dengan apresiasi Dolar dan ekspektasi kenaikan suku bunga Fed. Dari sisi teknis saja, emas sangat bearish di grafik harian. Penurunan berkelanjutan di bawah $1280 dapat membuka jalan menuju $1260.

Menurut Lukman dolar menguat ke level tertinggi tahunan karena ekspektasi pasar bahwa Federal Reserve akan meningkatkan suku bunga AS setidaknya dua kali lagi tahun ini. Di samping faktor fundamental, aspek teknis tetap sangat bullish. Harga mendekati level tertinggi 11 bulan pada saat laporan ini dituliskan.

Secara konsisten tambah Lukman ditemukan level tertinggi yang lebih tinggi (HH) dan level terendah yang lebih tinggi (HL) sementara harga secara tegas berada di atas 200 SMA harian. Penutupan harian yang tegas di bawah 95.00 dapat menyebabkan apresiasi lebih lanjut menuju 95.35 kemudian 96.00.

Sementara soal komoditas minyak mentah Lukman menyebut ada nuansa ketidakpastian yang semakin besar menjelang rapat OPEC di hari Jumat.

"Pasar mengevaluasi kembali apakah kenaikan produksi masih mungkin terjadi. Arab Saudi dan Rusia menekan OPEC dan sekutunya untuk meningkatkan produksi, tapi anggota lain seperti Iran, Irak, dan Venezuela menolak langkah itu,"jelas Lukman.

Iran kata Lukman sudah menyatakan akan menolak kesepakatan untuk meningkatkan produksi, jadi rapat negara-negara penghasil minyak di Wina kali ini mungkin akan terpecah. Apa pun hasil rapat OPEC kali ini, harga minyak sangat mungkin akan terkena dampaknya.

 

 


Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Ekonomi Terbaru