Loading
Di hadapan sekitar 500 petani, Presiden menekankan pentingnya mengembangkan teknologi dan kemampuan wirausaha petani. (Okezone.com)
INDRAMAYU, ARAHKITA.COM - Presiden RI Joko Widodo mengatakan peran petani akan semakin penting dan strategis di masa datang, sehingga harus terus dikembangkan bersamaan dengan kemajuan digitalisasi teknologi pertanian.
"Kita tidak lagi bisa berdiam diri, tenang duduk-duduk melihat sektor pertanian seperti saat ini. Tetapi sudah saatnya memperbaiki diri berbenah agar produktivitas petani meningkat," kata Presiden Joko Widodo di sela kunjungan kerja meluncurkan Program Kewirausahaan Petani dan Digitalisasi Pertanian di Kecamatan Sliyeg, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, Kamis (7/6/2018).
Presiden Jokowi didampingi Menteri BUMN Rini Soemarno, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto, Wakil Ketua Komisi VI DPR RI, Dito Ganinduto, sejumlah direksi BUMN.
Menurut Presiden, peran petani sangat strategis di seluruh belahan bumi termasuk di Indonesia, karena pangan akan menjadi salah satu komoditas yang menjadi rebutan negara-negara di dunia.
"Untuk itu keharusan melakukan digitalisasi pertanian yang didukung kemampuan kewirausahaan petani, menjadi faktor utama memenangkan persaingan dan kompetisi utamanya di bidang pangan," tegas Jokowi.
Di hadapan sekitar 500 petani, Presiden menekankan pentingnya mengembangkan teknologi dan kemampuan wirausaha petani saat pascapanen karena disitulah banyak keuntungan yang dapat diperoleh para petani.
"Jadi kalau petani kita masih seperti saat ini hanya menjual gabah, percaya kepada sampai kapan pun tidak akan ada peningkatan kesejahteraan petani," kata Presiden sebagaimana dilaporkan Antara.
Pada kesempatan itu, Presiden mengunjungi langsung Mitra Badan Usaha Milik Desa Bersama (MBB) Sliyeg yang juga merupakan mitra binaan PT Telkom Indonesia Tbk.
MBB memiliki satu BUMDes Kecamatan (terdiri atas 14 BUMDes) dan satu Perkumpulan Gabungan Kelompok Tani/Gapoktan (yang terdiri dari 127 Poktan dan 7009 Petani) dengan produksi padi tercatat 54.000 ton per tahun dengan total luas lahan sebesar 4.384 hektare.
MMB Sliyeg merupakan salah satu pilot project kewirausahaan petani yang menerapkan sistem digitalisasi pertanian di mana digitalisasi dilakukan dengan sebuah aplikasi "Logistik Tani"/LOGTAN.
Sementara itu, Menteri BUMN Rini Soemarno mengatakan program digitalisasi pertanian memudahkan mengintegrasikan empat siklus pertanian (pratanam, tanam, panen, pasca panen) sehingga akan meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan petani.
"Melalui MBB ini diharapkan para petani yang sebelumnya hanya sebagai penanam yang menghasilkan padi saja, harapannya juga bisa menjadi wirausaha yang unggul," kata Rini.
Digitalisasi sistem pertanian diinisiasi oleh PT Telkom bekerja sama dengan pemerintah daerah, PT Jasindo, PT Askrindo dan Himpunan Bank Negara (Himbara), PT Pupuk Indonesia, PT Syang Hiang Seri/SHS, PT Pertani (Persero), dan PT Permodalan Nasional Madani (PNM) Persero, PT Pegadaian dan Perum Bulog dan PT Pupuk Indonesia Pangan.
Direktur Utama Telkom Alex J. Sinaga menjelaskan program layanan kewirausahaan petani dan digitalisasi sistem pertanian dilakukan melalui sistem yang terintegrasi dengan Kartu Tani, dimana data menjadi acuan dari Kementerian Pertanian mengenai pertanian di Indramayu, khususnya di Kecamatan Sliyeg.
Program Layanan Kewirausahaan Petani ini akan diterapkan di sembilan wilayah di Jawa Barat antara lain Indramayu, Karawang, Majalengka, Ciamis, dan Cianjur.
"Kami berharap digitalisasi sistem pertanian bisa mendorong petani untuk memaksimalkan dan mempermudah bisnis yang berkaitan dengan petani dan pertanian," ujar Alex.