Senin, 05 Oktober 2026

OPEC+ Tahan Produksi Minyak November 2026, Tujuh Negara Sepakat Pertahankan Batas Pasokan


 OPEC+ Tahan Produksi Minyak November 2026, Tujuh Negara Sepakat Pertahankan Batas Pasokan OPEC+ memutuskan mempertahankan target produksi minyak November 2026 sebesar 31,01 juta barel per hari.. (Net)

MOSKOW, ARAHKITA.COM – Aliansi negara-negara penghasil minyak OPEC+ memutuskan untuk tidak mengubah target produksi minyak mentah pada November 2026. Keputusan tersebut diambil oleh tujuh negara anggota dalam pertemuan pada Minggu (4/10/2026), di tengah dinamika pasokan energi dan ketidakpastian pasar minyak dunia.

Ketujuh negara yang menyepakati kebijakan tersebut adalah Arab Saudi, Rusia, Irak, Kuwait, Kazakhstan, Aljazair, dan Oman. Mereka sepakat mempertahankan tingkat produksi yang sebelumnya telah ditetapkan untuk September 2026 sebagai acuan produksi November mendatang.

Keputusan ini menunjukkan bahwa OPEC+ memilih mempertahankan kebijakan produksi secara hati-hati sembari terus memantau perkembangan pasar energi internasional.

Dalam pernyataan resminya, OPEC menyebutkan bahwa ketujuh negara tersebut tetap berkomitmen menjaga stabilitas pasar minyak global serta memastikan kepatuhan terhadap kesepakatan produksi yang telah ditetapkan dalam kerangka Deklarasi Kerja Sama atau Declaration of Cooperation (DoC).

Produksi Minyak Capai 31,01 Juta Barel Per Hari

Sebelumnya, tujuh negara tersebut telah meningkatkan batas produksi minyak secara bertahap. Pada September 2026, penyesuaian produksi mencapai tambahan 188.000 barel per hari, di luar mekanisme kompensasi bagi negara-negara yang sebelumnya memproduksi minyak melebihi kuota.

Dengan penyesuaian tersebut, batas produksi gabungan ketujuh negara mencapai sekitar 31,01 juta barel per hari.

Peningkatan itu sekaligus menandai berakhirnya proses penghapusan bertahap pembatasan produksi sukarela yang sebelumnya diberlakukan oleh kelompok negara tersebut.

Meski demikian, kebijakan peningkatan produksi tidak berarti seluruh negara harus langsung menghasilkan minyak sesuai batas maksimum yang ditetapkan. Realisasi produksi tetap dipengaruhi kapasitas masing-masing negara, kondisi operasional, serta situasi distribusi dan ekspor.

Selain itu, OPEC+ masih menerapkan mekanisme kompensasi bagi negara yang pernah memproduksi minyak di atas ketentuan. Perpanjangan periode kompensasi hingga Desember 2026 menjadi bagian dari upaya memastikan seluruh anggota memenuhi komitmen produksi.

Situasi Geopolitik Masih Membayangi Pasokan Minyak

Keputusan mempertahankan target produksi juga berlangsung ketika pasar energi global menghadapi berbagai tantangan, terutama ketidakpastian geopolitik dan gangguan distribusi minyak.

Laporan Reuters pada 4 Oktober 2026 menyoroti bahwa sejumlah produsen minyak di kawasan Teluk masih menghadapi hambatan ekspor akibat konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Kondisi tersebut membuat sebagian negara produsen belum dapat memaksimalkan produksi sesuai target yang ditetapkan.

Situasi ini memperlihatkan bahwa besarnya kuota produksi tidak selalu berbanding lurus dengan jumlah minyak yang benar-benar tersedia di pasar internasional. Kelancaran jalur pelayaran, keamanan infrastruktur energi, dan kemampuan ekspor turut menentukan pasokan aktual.

Karena itu, keputusan OPEC+ mempertahankan target produksi dapat dilihat sebagai langkah menjaga kesinambungan kebijakan di tengah kondisi pasar yang masih penuh ketidakpastian.

JMMC Pantau Kepatuhan Negara Produsen

Selain membahas kebijakan produksi, pertemuan Komite Pemantau Tingkat Menteri Bersama atau Joint Ministerial Monitoring Committee (JMMC) OPEC+ juga meninjau perkembangan produksi minyak mentah negara-negara peserta.

Dalam pertemuan yang berlangsung pada Minggu (4/10/2026), JMMC mengevaluasi data produksi untuk Juli dan Agustus 2026. Komite mencatat adanya tingkat kepatuhan secara keseluruhan dari negara-negara OPEC maupun non-OPEC yang tergabung dalam Deklarasi Kerja Sama.

JMMC tidak menetapkan perubahan baru terhadap parameter kesepakatan produksi yang sedang berlaku. Komite juga menegaskan pentingnya menjaga keamanan jalur pelayaran internasional dan infrastruktur energi agar distribusi minyak dunia tidak terganggu.

Serangan terhadap fasilitas energi maupun gangguan pada jalur perdagangan internasional dinilai berpotensi meningkatkan volatilitas pasar dan menghambat ketersediaan pasokan.

Dengan demikian, pengawasan terhadap produksi dan kepatuhan anggota tetap menjadi bagian penting dari strategi OPEC+ dalam menjaga keseimbangan pasar.

Pertemuan Berikutnya Digelar November

OPEC+ memastikan tujuh negara tersebut akan terus mengadakan pertemuan setiap bulan untuk mengevaluasi kondisi pasar minyak dunia dan menentukan langkah produksi selanjutnya.

Pertemuan berikutnya dijadwalkan berlangsung pada 1 November 2026. Sementara itu, JMMC akan kembali menggelar pertemuan pada 29 November 2026 untuk meninjau perkembangan pasar serta kepatuhan negara-negara peserta terhadap kesepakatan produksi.

Melalui evaluasi berkala tersebut, OPEC+ berupaya menjaga fleksibilitas kebijakan produksi agar dapat menyesuaikan diri dengan perubahan permintaan, ketersediaan pasokan, dan perkembangan geopolitik.

Bagi pasar energi global, keputusan mempertahankan target produksi November menjadi sinyal bahwa negara-negara produsen utama masih mengedepankan kehati-hatian. Perkembangan kebijakan berikutnya akan menjadi perhatian pelaku industri, pemerintah, dan konsumen energi di berbagai negara.

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Ekonomi Terbaru