Senior Vice President AutoFlight, Jia Xie (Kellen) memberikan keterangan resmi terkait pengembangan transportasi udara masa depan berbasis energi listrik atau Electric Vertical Take-Off and Landing (eVTOL) di Indonesia pada Rabu (12/8/2026). (ANTARA/Azmi Samsul M)
TANGERANG, ARAHKITA.COM — Indonesia dinilai memiliki potensi besar untuk mengembangkan dan mengoperasikan Electric Vertical Take-Off and Landing (eVTOL), teknologi transportasi udara berbasis energi listrik yang diproyeksikan menjadi bagian dari mobilitas masa depan.
Penilaian tersebut disampaikan Senior Vice President AutoFlight, Jia Xie (Kellen), saat berkunjung ke Cengkareng Helipot, Tangerang, Banten, Rabu (12/8/2026).
Menurut Jia Xie, kondisi geografis Indonesia yang terdiri dari ribuan pulau menjadi salah satu alasan kuat mengapa teknologi eVTOL memiliki peluang untuk berkembang di Indonesia.
“Saya melihat peluang yang sangat besar untuk eVTOL di Indonesia karena kondisi geografis dengan kepulauan,” kata Jia Xie.
Menjawab Tantangan Mobilitas Antarpulau
Indonesia memiliki wilayah yang membentang sekitar 6.000 kilometer dari barat ke timur dengan jumlah penduduk sekitar 270–275 juta jiwa. Kondisi geografis tersebut membuat kebutuhan terhadap sistem transportasi yang mampu menghubungkan wilayah secara cepat dan efisien menjadi semakin penting.
Di sinilah eVTOL dinilai dapat memainkan peran.
Berbeda dengan moda transportasi darat yang harus mengikuti kondisi jalan maupun medan geografis, eVTOL dapat terbang secara vertikal dan bergerak langsung menuju tujuan. Teknologi ini berpotensi memangkas waktu perjalanan sekaligus mengatasi berbagai hambatan geografis, terutama untuk konektivitas antarpulau dan wilayah yang sulit dijangkau.
Jia Xie menilai karakteristik Indonesia sangat sesuai dengan keunggulan tersebut.
Selain fleksibilitas perjalanan, eVTOL juga menawarkan sejumlah kelebihan dibandingkan helikopter konvensional, mulai dari potensi biaya perawatan yang lebih rendah, tingkat kebisingan yang lebih kecil, hingga pengoperasian yang dinilai lebih sederhana.
“Jadi, dalam hal keunggulan eVTOL dibandingkan dengan helikopter, kami berpikir bahwa eVTOL terutama dalam hal penghematan biaya akan menjadi cara yang lebih efisien bagi orang-orang untuk bepergian,” jelasnya dikutip Antara.
AutoFlight Siapkan Kolaborasi di Indonesia
Peluang pengembangan eVTOL di Indonesia juga mulai diarahkan melalui kerja sama dengan pelaku industri penerbangan nasional.
Jia Xie mengatakan AutoFlight akan menjajaki kolaborasi pengembangan teknologi transportasi udara bersama Whitesky Aviation Group, perusahaan yang bergerak di bidang kedirgantaraan.
Kolaborasi tersebut diharapkan dapat menjadi bagian dari langkah untuk memperkenalkan sekaligus mengembangkan ekosistem mobilitas udara berbasis listrik di Indonesia.
Namun, Indonesia bukan menjadi pasar pertama yang dijajaki AutoFlight. Teknologi eVTOL yang dikembangkan perusahaan tersebut sebelumnya telah diperkenalkan dan diuji di sejumlah negara.
Jia Xie menyebut produk AutoFlight telah dikirim ke Jepang dan sejumlah uji terbang berhasil dilakukan.
Pengujian dan penerbangan serupa juga telah dilakukan di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, Kazakhstan di kawasan Asia Tengah, hingga Panama.
Menuju Era Baru Mobilitas Udara
Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa teknologi eVTOL mulai bergerak dari sekadar konsep menuju tahap pengujian dan penerapan di berbagai negara.
Bagi Indonesia, teknologi ini memiliki peluang untuk menjadi alternatif dalam menjawab tantangan konektivitas, khususnya di negara kepulauan.
Meski demikian, pengembangan eVTOL tentu membutuhkan kesiapan ekosistem, mulai dari regulasi, infrastruktur, keselamatan penerbangan, hingga kesiapan teknologi dan sumber daya manusia.
Jika berbagai aspek tersebut dapat dipersiapkan secara bertahap, eVTOL berpotensi menjadi salah satu pilihan transportasi udara baru yang mendukung mobilitas masyarakat Indonesia di masa depan.
Dengan karakter Indonesia sebagai negara kepulauan, langit bukan lagi sekadar ruang yang dilewati pesawat. Ke depan, ruang udara berpotensi menjadi bagian penting dari jaringan transportasi yang menghubungkan kota, pulau, dan wilayah-wilayah yang selama ini memiliki keterbatasan konektivitas.