Sabtu, 15 Agustus 2026

QRIS Makin Digemari, Nilai Transaksi Sentuh Rp600 Triliun dalam Enam Bulan


 QRIS Makin Digemari, Nilai Transaksi Sentuh Rp600 Triliun dalam Enam Bulan Pelaku UMKM menyediakan transaksi digital Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) untuk memudahkan transaksi konsumen di salah satu stan pameran pusat perbelanjaan di Kuta, Kabupaten Badung, Bali, Minggu (7/6/2026) ANTARA/Dewa Ketut Sudiarta Wiguna

NUSA DUA, BALI, ARAHKITA.COM – Penggunaan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) terus menunjukkan pertumbuhan yang sangat pesat. Bank Indonesia (BI) mencatat volume transaksi QRIS mencapai 12,55 miliar transaksi sepanjang semester pertama 2026. Angka tersebut melonjak 100,12 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Deputi Gubernur Bank Indonesia, Filianingsih Hendarta, mengatakan capaian tersebut memperlihatkan bahwa QRIS tidak lagi sekadar menjadi alat pembayaran digital, tetapi telah berkembang menjadi fondasi penting dalam ekosistem ekonomi digital Indonesia.

"QRIS menjadi gerbang ekonomi digital sekaligus pengubah keadaan bagi ekonomi dan keuangan digital nasional," ujar Filianingsih di sela Prima Executive Gathering 2026 di Nusa Dua, Kabupaten Badung, Bali, Kamis (6/8/2026).

Tak hanya dari sisi jumlah transaksi, nilai transaksi QRIS juga mencatat pertumbuhan yang mengesankan. Hingga akhir Juni 2026, total nilai transaksi mencapai Rp600,69 triliun, meningkat 89,52 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Pertumbuhan tersebut menunjukkan semakin banyak masyarakat yang menjadikan pembayaran digital sebagai bagian dari aktivitas sehari-hari. Transaksi menggunakan kode QR kini dianggap lebih praktis, cepat, aman, dan efisien dibandingkan penggunaan uang tunai.

Hingga pertengahan tahun 2026, QRIS telah digunakan oleh sekitar 66 juta pengguna dan diterima di 44,86 juta merchant di seluruh Indonesia.

Bank Indonesia menargetkan jumlah pengguna QRIS mencapai 70 juta orang dan merchant sebanyak 47 juta hingga akhir tahun 2026. Dengan capaian saat ini, target tersebut dinilai berada di jalur yang sangat positif.

Dari sisi volume transaksi, BI menargetkan 17 miliar transaksi QRIS sepanjang 2026. Artinya, dalam enam bulan pertama saja, hampir tiga perempat target tahunan telah berhasil dicapai.

Salah satu faktor utama yang mendorong pertumbuhan QRIS adalah semakin banyaknya pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang memanfaatkannya sebagai sarana pembayaran.

Melalui satu kode QR yang dapat dicetak secara sederhana, pedagang kini bisa menerima pembayaran dari berbagai aplikasi perbankan maupun dompet digital tanpa harus memasang banyak kode pembayaran berbeda.

Kondisi ini tidak hanya mempermudah transaksi, tetapi juga mempercepat perluasan inklusi keuangan, sehingga semakin banyak masyarakat dan pelaku usaha yang terhubung dengan layanan keuangan formal.

Filianingsih menjelaskan, kekuatan utama QRIS terletak pada sistem yang terintegrasi dan memiliki interoperabilitas tinggi. Satu kode QR dapat digunakan oleh berbagai aplikasi pembayaran dari bank maupun penyedia jasa pembayaran lainnya dikutip Antara.

Sebelum QRIS diterapkan secara nasional, setiap penyedia layanan pembayaran menggunakan kode berbeda. Akibatnya, para pedagang harus memasang banyak stiker pembayaran di tempat usahanya. Kini, seluruh layanan pembayaran digital dapat menggunakan satu standar nasional yang lebih sederhana dan efisien.

Ekosistem QRIS juga terus berkembang. Saat ini sistem tersebut didukung oleh 96 bank, 60 lembaga nonbank, serta empat lembaga switching yang memproses transaksi pembayaran.

Keterlibatan berbagai pelaku industri tersebut menunjukkan bahwa sistem pembayaran digital Indonesia semakin terintegrasi dan siap mendukung pertumbuhan ekonomi digital nasional di masa depan.

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Ekonomi Terbaru