Sabtu, 15 Agustus 2026

BI: Ketidakpastian Global Meningkat, Indonesia Perlu Perkuat Sinergi Kebijakan Ekonomi


 BI: Ketidakpastian Global Meningkat, Indonesia Perlu Perkuat Sinergi Kebijakan Ekonomi Ilustrasi- Foto udara jalur peti kemas di Dermaga Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta. ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat/nym.

JAKARTA, ARAHKITA.COM – Bank Indonesia (BI) menilai meningkatnya ketidakpastian ekonomi global menuntut respons kebijakan yang lebih kuat dan terkoordinasi. Sinergi antara kebijakan fiskal dan moneter dinilai menjadi kunci untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional sekaligus mendorong pertumbuhan yang berkelanjutan.

Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, mengatakan situasi global kembali memanas setelah meningkatnya eskalasi konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran pada awal Juli 2026. Kondisi tersebut berdampak pada terganggunya jalur pelayaran di Selat Hormuz, salah satu jalur distribusi energi paling penting di dunia.

Akibatnya, rantai pasok perdagangan internasional ikut terganggu. Harga minyak mentah dan berbagai komoditas global kembali naik sehingga memicu tekanan terhadap inflasi di banyak negara.

Perkembangan tersebut juga dikutip dari Antara, yang menyoroti bahwa meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah telah memengaruhi arus perdagangan energi dunia serta memperbesar kekhawatiran pasar terhadap stabilitas ekonomi global.

Dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI secara daring di Jakarta, Rabu, Perry menjelaskan bahwa kondisi global yang semakin tidak menentu membuat banyak bank sentral memilih kebijakan moneter yang lebih ketat.

Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan ekonomi dunia pada 2026 hanya sekitar 3 persen, sementara inflasi global meningkat hingga sekitar 4,5 persen. Di Amerika Serikat, suku bunga acuan The Fed diperkirakan naik lebih cepat pada triwulan IV 2026 sebagai respons terhadap tekanan inflasi yang terus meningkat.

Di sisi lain, imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS juga mengalami kenaikan. Yield US Treasury tenor 10 tahun tercatat mencapai 4,56 persen, sedangkan tenor dua tahun berada di level 4,18 persen per 20 Juli 2026. Kenaikan tersebut diperkirakan masih berlanjut seiring membesarnya defisit fiskal Amerika Serikat.

Situasi itu mendorong investor global mengalihkan dananya dari negara berkembang menuju aset-aset yang dianggap lebih aman (safe haven) di Amerika Serikat. Dampaknya, dolar AS kembali menguat terhadap berbagai mata uang dunia, termasuk mata uang negara berkembang.

Meski tekanan global meningkat, Bank Indonesia menilai perekonomian Indonesia masih menunjukkan daya tahan yang cukup baik. Pertumbuhan ekonomi tetap ditopang oleh kuatnya permintaan domestik.

Pada triwulan II 2026, konsumsi pemerintah meningkat seiring percepatan realisasi berbagai program prioritas nasional, termasuk pencairan gaji ke-13 bagi aparatur sipil negara (ASN) serta penyaluran bantuan sosial kepada keluarga penerima manfaat.

Konsumsi rumah tangga juga tetap terjaga berkat berbagai stimulus pemerintah, seperti bantuan pangan, potongan tarif transportasi, program makan bergizi, hingga pelatihan vokasi nasional.

Sementara itu, investasi masih didukung oleh pembangunan infrastruktur dan proyek-proyek dalam Program Kerja Prioritas Nasional (PKPN). Namun, Bank Indonesia menilai investasi swasta masih perlu terus diperkuat agar menjadi sumber pertumbuhan ekonomi yang lebih berkelanjutan.

Dari sektor eksternal, BI mendorong peningkatan kinerja ekspor agar Indonesia dapat memanfaatkan tingginya harga komoditas dunia meskipun prospek pertumbuhan ekonomi global sedang melambat.

Beberapa sektor usaha juga masih mencatatkan kinerja positif, antara lain industri pengolahan, konstruksi, transportasi, dan pergudangan. Pertumbuhan sektor-sektor tersebut didukung oleh berlanjutnya berbagai proyek pemerintah.

Ke depan, pemerintah bersama Bank Indonesia akan terus mengoptimalkan pelaksanaan program-program prioritas untuk memperkuat struktur ekonomi nasional serta menciptakan sumber pertumbuhan baru yang lebih berkelanjutan.

Bank Indonesia juga menegaskan akan terus memperkuat bauran kebijakan moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran yang bersinergi dengan kebijakan pemerintah guna menjaga stabilitas ekonomi sekaligus mendorong pertumbuhan.

"Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2026 tetap berada pada kisaran 4,9 persen hingga 5,7 persen," ujar Perry Warjiyo.

Editor : Patricia Aurelia

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Ekonomi Terbaru