Sabtu, 15 Agustus 2026

IHSG Berpotensi Sideways, Pasar Tunggu Keputusan Suku Bunga Bank Indonesia


 IHSG Berpotensi Sideways, Pasar Tunggu Keputusan Suku Bunga Bank Indonesia Pekerja mengamati layar digital pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan IHSG. (Net)

JAKARTA, ARAHKITA.COM – Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan masih bergerak terbatas atau sideways pada perdagangan Rabu (22/7/2026). Pelaku pasar memilih bersikap wait and see sambil menanti hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang akan menentukan arah kebijakan suku bunga acuan.

Pada pembukaan perdagangan, IHSG menguat 25,99 poin atau 0,41 persen ke level 6.366,01. Sementara itu, indeks saham unggulan LQ45 naik 1,77 poin atau 0,28 persen ke posisi 638,41.

Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata, menjelaskan secara teknikal IHSG berpeluang menguji level resistance di 6.377.

"Jika berhasil ditembus, IHSG berpotensi melanjutkan penguatan menuju area 6.398 hingga 6.459. Namun bila gagal melewati level tersebut, aksi ambil untung berpotensi membawa indeks turun ke area support 6.286–6.257," ujarnya dikutip Antara.

Pasar Menanti Keputusan BI

Fokus utama investor hari ini tertuju pada keputusan Bank Indonesia terkait suku bunga acuan atau BI-Rate.

Saat ini BI-Rate berada di level 5,75 persen, setelah dinaikkan tiga kali sepanjang 2026 dengan total kenaikan 100 basis poin.

Pandangan ekonom pun masih terbagi. Sebagian memperkirakan BI akan mempertahankan suku bunga, sementara kelompok lainnya memproyeksikan kenaikan sebesar 25 basis poin menjadi 6,00 persen sebagai respons terhadap kondisi ekonomi dan stabilitas nilai tukar.

PFII Diharapkan Tarik Dana Family Office

Dari dalam negeri, perhatian juga mengarah pada pembahasan pembentukan Pusat Finansial Internasional Indonesia (PFII) yang tengah dimatangkan pemerintah bersama DPR.

PFII diproyeksikan menjadi pusat keuangan internasional sekaligus menarik investasi dari family office global.

Berdasarkan kajian, sekitar 3,2 triliun dolar AS aset saat ini dikelola oleh family office di berbagai negara. Sekitar 65 persen di antaranya diperkirakan sedang mencari tujuan investasi baru akibat meningkatnya ketidakpastian geopolitik dunia.

Menurut Liza, keberadaan PFII diharapkan mampu meningkatkan arus modal asing melalui dukungan regulasi yang kompetitif serta infrastruktur keuangan yang memadai, sehingga memperkuat posisi Indonesia sebagai pusat investasi kawasan.

Laporan Keuangan Emiten Teknologi Jadi Sorotan

Dari pasar global, sentimen positif masih datang dari berlanjutnya pemulihan saham-saham sektor semikonduktor setelah sebelumnya mengalami tekanan akibat aksi ambil untung pada sektor kecerdasan buatan (AI).

Investor kini mengalihkan perhatian ke musim laporan keuangan kuartal II-2026. Kinerja perusahaan teknologi besar seperti Alphabet, Intel, dan Texas Instruments dinilai menjadi indikator penting untuk melihat prospek belanja AI dan keberlanjutan pertumbuhan sektor teknologi.

Meski prospek jangka panjang AI masih dinilai menjanjikan, pelaku pasar tetap mencermati tingginya belanja modal perusahaan teknologi serta potensi keuntungan yang dapat dihasilkan dari investasi tersebut.

Selain itu, minimnya rilis data ekonomi dan memasuki masa blackout period komunikasi The Fed membuat pergerakan pasar global lebih banyak dipengaruhi oleh laporan kinerja perusahaan.

Geopolitik dan Tarif AS Kembali Memanas

Di sisi lain, ketegangan geopolitik kembali meningkat.

Konflik antara Amerika Serikat dan Iran dilaporkan terus berlanjut. Iran disebut menyerang kapal tanker di Selat Hormuz serta pangkalan militer AS di kawasan tersebut, sementara kelompok Houthi yang didukung Iran mengumumkan embargo maritim terhadap Arab Saudi. Kondisi ini meningkatkan kekhawatiran terhadap pasokan energi global.

Ketidakpastian juga datang dari kebijakan perdagangan Amerika Serikat. Pemerintahan Presiden Donald Trump menetapkan tarif tambahan sebesar 50 persen terhadap sejumlah produk impor asal Kanada, mulai dari anggur hingga semen.

Menurut Liza, kebijakan tersebut kembali memicu kekhawatiran terhadap hubungan dagang kedua negara meski pemerintah AS menegaskan langkah tersebut tidak berkaitan dengan kebakaran hutan di Kanada, melainkan menyangkut kebijakan perdagangan dan sektor pertanian.

Bursa Global Ditutup Menguat

Pada perdagangan Selasa (21/7), mayoritas bursa saham global berakhir di zona hijau.

Di Eropa, Euro Stoxx 50 naik 0,90 persen, FTSE 100 Inggris menguat 0,58 persen, DAX Jerman bertambah 0,66 persen, dan CAC 40 Prancis naik 0,28 persen.Wall Street juga mencatat penguatan. Indeks S&P 500 naik 0,90 persen ke 7.507,32, Nasdaq Composite menguat 1,30 persen menjadi 25.837,21, sedangkan Dow Jones Industrial Average bertambah 0,70 persen ke 52.223,93.

Sementara itu, bursa Asia pada perdagangan pagi ini bergerak bervariasi. Nikkei naik 1,67 persen, Shanghai Composite menguat 0,40 persen, Kospi melonjak 5,22 persen, sedangkan Straits Times Singapura melemah 0,46 persen.

Dengan kombinasi sentimen domestik dan global tersebut, arah pergerakan IHSG dalam jangka pendek diperkirakan masih sangat bergantung pada keputusan suku bunga Bank Indonesia serta respons investor terhadap perkembangan ekonomi dan geopolitik internasional.

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Ekonomi Terbaru