Direktur Operasi PGE Andi Joko Nugroho dalam ajang The 5th ITB International Geothermal Workshop (IIGW) 2026 dengan tema “New Horizons in Geothermal: Beyond Conventional Boundaries” yang dilaksanakan di Bandung, Jawa Barat, Senin (13/07/2026). ANTARA/HO-PGE
JAKARTA, ARAHKITA.COM – Energi panas bumi dinilai akan menjadi salah satu penopang utama ketahanan energi Indonesia di masa depan. Di tengah meningkatnya kebutuhan energi bersih, Indonesia memiliki modal besar berupa potensi panas bumi sekitar 24 gigawatt (GW), terbesar kedua di dunia.
Momentum 100 tahun perjalanan pengembangan panas bumi di Indonesia pun menjadi pengingat bahwa sumber energi ramah lingkungan ini bukan hanya menyimpan potensi besar, tetapi juga memiliki peran strategis dalam mendukung swasembada energi dan pertumbuhan ekonomi nasional.
Direktur Operasi PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE), Andi Joko Nugroho, mengatakan satu abad perjalanan panas bumi di Indonesia telah membuktikan kontribusinya sebagai fondasi penting bagi ketahanan energi nasional.
"Seratus tahun perjalanan panas bumi Indonesia membuktikan bahwa energi panas bumi telah menjadi salah satu fondasi penting ketahanan energi nasional," kata Andi dalam keterangannya di Jakarta, Rabu (15/7/2026).
Menurut Andi, sejarah pengembangan panas bumi di Indonesia dimulai dari survei manifestasi panas bumi di Kamojang yang kemudian dilanjutkan dengan pengeboran eksplorasi pertama pada 1926. Dari titik awal tersebut, Indonesia kini berkembang menjadi salah satu produsen listrik panas bumi terbesar di dunia.
Dengan potensi mencapai sekitar 24 GW, panas bumi dinilai menjadi aset strategis untuk memperkuat ketahanan sekaligus mewujudkan swasembada energi nasional dalam jangka panjang.
Selain mampu menghasilkan listrik bersih selama 24 jam tanpa bergantung pada cuaca, panas bumi juga dinilai memiliki peran penting dalam mendukung pertumbuhan industri hijau yang membutuhkan pasokan energi stabil dan rendah emisi.
Menjawab peluang tersebut, PGE terus memperluas pemanfaatan energi panas bumi. Tidak hanya untuk pembangkit listrik, perusahaan juga mengembangkan pemanfaatan langsung (direct use) bagi sektor pertanian dan industri, sekaligus mengembangkan green hydrogen sebagai bagian dari ekosistem energi rendah karbon.
"Ke depan, fokus PGE adalah mempercepat inovasi teknologi, memperluas pemanfaatan panas bumi di luar sektor kelistrikan, serta memperkuat kolaborasi agar potensi besar yang dimiliki Indonesia dapat memberikan manfaat yang semakin luas bagi masyarakat dan perekonomian nasional," ujar Andi dikutip Antara.
Di sisi operasional, PGE juga mempercepat transformasi digital melalui berbagai inovasi teknologi, termasuk digitalisasi dan teknologi pengujian sumur panas bumi. Langkah ini dilakukan untuk meningkatkan akurasi data, efisiensi operasional, sekaligus mempercepat proses pengambilan keputusan dalam pengembangan lapangan panas bumi.
Andi menegaskan, percepatan pengembangan panas bumi tidak dapat dilakukan sendiri. Kolaborasi lintas sektor menjadi faktor penting agar potensi besar yang dimiliki Indonesia dapat dimanfaatkan secara optimal.
Melalui penguatan inovasi, kolaborasi, serta diversifikasi pemanfaatan energi panas bumi, PGE optimistis mampu memperkuat posisinya sebagai world-leading geothermal producer sekaligus geothermal centre of excellence.
Ke depan, perusahaan juga akan terus mengoptimalkan aset yang telah dimiliki, memperluas ekspansi bisnis, serta menciptakan berbagai sumber pendapatan baru melalui inovasi dan pengembangan pemanfaatan energi panas bumi.