Greenpeace Dorong Investasi Syariah Ramah Lingkungan, Soroti Batu Bara yang Dinilai Tak Sejalan dengan Prinsip Islam


 Greenpeace Dorong Investasi Syariah Ramah Lingkungan, Soroti Batu Bara yang Dinilai Tak Sejalan dengan Prinsip Islam Kepala Proyek Ummah For Earth dari Greenpeace Indonesia Riska Rahman dalam diskusi investasi keuangan syariah dalam kemaslahatan bumi dan masyarakat, di Jakarta, Rabu (15/7/2026). ANTARA/Fitra Ashari

JAKARTA, ARAHKITA.COM – Investasi syariah dinilai memiliki peluang besar menjadi motor penggerak ekonomi hijau di Indonesia. Namun, Greenpeace Indonesia menilai penerapan prinsip syariah tidak cukup hanya berfokus pada aspek halal, melainkan juga harus memperhatikan prinsip thayyib atau kemaslahatan bagi manusia dan lingkungan. Dengan pendekatan tersebut, investasi syariah diharapkan mampu mendukung transisi energi bersih sekaligus menjaga keberlanjutan ekonomi nasional.

Kepala Proyek Ummah For Earth Greenpeace Indonesia, Riska Rahman, mengatakan pembiayaan syariah yang mengedepankan aspek keberlanjutan akan memberikan manfaat yang jauh lebih luas. Selain membantu menjaga lingkungan, pendekatan tersebut juga berdampak positif terhadap kesehatan masyarakat dan produktivitas ekonomi.

"Kami melihat perlu adanya pemberdayaan bagi umat Muslim untuk ikut terlibat dalam aksi-aksi iklim dan lingkungan. Tujuannya bukan hanya memberikan manfaat bagi umat Islam, tetapi juga seluruh masyarakat dunia," ujar Riska dalam diskusi tentang investasi keuangan syariah untuk kemaslahatan bumi dan masyarakat di Jakarta, Rabu (15/7/2026).

Menurut Riska, Indonesia memiliki posisi yang sangat strategis untuk memimpin transformasi tersebut. Sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia, Indonesia memiliki potensi besar dalam mengembangkan ekonomi dan keuangan syariah yang berorientasi pada pembangunan berkelanjutan.

Dalam kesempatan itu, Greenpeace Indonesia bersama Greenpeace Timur Tengah dan Afrika Utara serta Global Ethical Finance Initiative meluncurkan sebuah makalah yang menawarkan pendekatan baru dalam penyaringan investasi syariah. Usulan tersebut menekankan bahwa penilaian investasi sebaiknya tidak hanya melihat status halal, tetapi juga mempertimbangkan prinsip thayyib, yakni apakah suatu investasi memberikan manfaat dan tidak menimbulkan kerusakan bagi masyarakat maupun lingkungan dikutip Antara.

Salah satu fokus utama makalah tersebut adalah mengevaluasi posisi investasi batu bara dalam keuangan syariah. Greenpeace menilai penggunaan batu bara bertentangan dengan nilai-nilai dasar syariah karena berdampak terhadap lingkungan, kesehatan masyarakat, dan keberlanjutan kehidupan.

Dalam kajiannya, Greenpeace Indonesia menyebut batu bara menjadi salah satu penyumbang terbesar emisi karbon dari sektor bahan bakar fosil. Selain memperparah krisis iklim, penggunaan batu bara juga dinilai memicu berbagai dampak ekonomi dan kesehatan yang akhirnya menjadi beban bagi negara.

"Batu bara masih masuk dalam daftar positif keuangan syariah, padahal dampak negatifnya bertentangan dengan prinsip-prinsip etis syariah yang menjunjung tinggi keberlanjutan, tanggung jawab sosial, pelestarian kehidupan, lingkungan, dan harta, serta prinsip pencegahan bahaya (dharar)," kata Riska.

Sebagai solusi, makalah tersebut juga memperkenalkan Darurah Scorecard, sebuah panduan yang dapat digunakan ulama, dewan fatwa, dan lembaga keuangan syariah untuk mengevaluasi investasi batu bara secara transparan dan bertahap sesuai kondisi masing-masing negara.

Greenpeace berharap inovasi dalam sistem keuangan syariah mampu membuka lebih banyak ruang pembiayaan bagi aksi iklim berbasis masyarakat, pengembangan energi bersih, serta berbagai proyek pembangunan berkelanjutan.

Langkah tersebut diyakini tidak hanya mempercepat pencapaian target transisi energi Indonesia, tetapi juga meningkatkan daya saing ekonomi nasional di tengah berkembangnya investasi hijau di tingkat global.

"Harapannya kita bisa ikut mengupayakan Indonesia mencapai target iklimnya, sekaligus mendorong inovasi fatwa dalam keuangan syariah agar tercipta masa depan yang lebih hijau bagi kita dan generasi mendatang," tutup Riska.

Editor : Patricia Aurelia

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Ekonomi Terbaru