Ilustrasi - Suasana SPBU di Rest Area KM 57A Jalan Tol Jakarta–Cikampek yang mulai melayani penyaluran Biosolar B50. (ANTARA/HO-Jasa Marga)
JAKARTA, ARAHKITA.COM – Program mandatori biodiesel B50 dinilai tidak hanya memperkuat ketahanan energi nasional, tetapi juga memberi manfaat besar bagi perekonomian Indonesia. Salah satu dampak yang paling nyata adalah berkurangnya impor bahan bakar minyak (BBM), khususnya solar, sehingga mampu memperbaiki neraca perdagangan nasional.
Di tengah harga solar dunia yang masih tinggi akibat gangguan pasokan global, penggunaan biodiesel berbasis sawit dinilai menjadi langkah strategis untuk menghemat devisa negara sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap energi impor.
Pengamat ekonomi Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Andry Satrio, mengatakan setiap liter Fatty Acid Methyl Ester (FAME) yang digunakan dalam campuran biodiesel B50 dapat menggantikan satu liter solar fosil.
Menurutnya, dengan harga distilat dunia yang saat ini berada di kisaran 138 dolar AS per barel, penghematan yang diperoleh mencapai sekitar 0,80 hingga 0,87 dolar AS untuk setiap liter solar yang berhasil digantikan.
"B50 membantu neraca perdagangan dengan cara memotong impor BBM. Setiap liter FAME menggantikan satu liter solar fosil," ujar Andry saat dihubungi Antara di Jakarta, Senin (13/7/2026) dikutip Antara.
Harga Solar Dunia Masih Tinggi
Andry menjelaskan, nilai penghematan tersebut semakin besar karena harga solar dunia masih berada pada level yang tidak normal.
Meski harga minyak mentah telah turun ke kisaran 72 dolar AS per barel, harga solar belum ikut terkoreksi. Kondisi ini dipicu oleh terganggunya pasokan produk distilat di kawasan Selat Hormuz, salah satu jalur perdagangan energi paling penting di dunia.
Akibatnya, selisih harga antara minyak mentah dan produk olahannya atau crack spread melonjak hingga 70–75 persen dari harga satu barel minyak mentah. Padahal, pada awal tahun angkanya masih sekitar 27 persen.
Prabowo Dorong Pengembangan Biodiesel hingga B100
Sementara itu, Presiden Prabowo Subianto menegaskan pemerintah tidak akan berhenti pada implementasi B50. Ia meminta para ilmuwan dan perguruan tinggi terus mengembangkan riset energi terbarukan agar Indonesia mampu meningkatkan penggunaan biodiesel ke tingkat campuran yang lebih tinggi.
Menurut Prabowo, pemerintah bahkan telah membahas peluang menuju B100 bersama jajaran menterinya. Namun, untuk saat ini penerapan B50 dinilai sudah memberikan manfaat yang sangat besar, terutama dalam mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor solar.
Presiden menegaskan, keberhasilan menjalankan program B50 merupakan bagian dari strategi nasional untuk mewujudkan kemandirian energi, sekaligus memastikan sumber daya alam Indonesia dapat dimanfaatkan sebesar-besarnya demi kesejahteraan masyarakat.