IHSG Dibuka Menguat, Optimisme Saham AI dan Meredanya Ketegangan Timur Tengah Angkat Sentimen Pasar. (Antaranews)
JAKARTA, ARAHKITA.COM – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengawali perdagangan Senin (13/7/2026) di zona hijau. Pelaku pasar mulai kembali percaya diri setelah sentimen positif dari sektor kecerdasan buatan (AI) menguat di pasar global. Di saat yang sama, meredanya kekhawatiran terhadap konflik Timur Tengah ikut memberikan ruang bagi investor untuk kembali masuk ke pasar saham.
IHSG dibuka naik 10,36 poin atau 0,17 persen ke level 5.934. Sementara Indeks LQ45 juga bergerak positif dengan kenaikan tipis 0,01 persen ke posisi 589,28.Head of Research Kiwoom Sekuritas, Liza Camelia Suryanata, mengatakan peluang penguatan IHSG masih terbuka selama indeks mampu bertahan di atas area 5.900–5.882.
Menurutnya, apabila level tersebut mampu dipertahankan, IHSG berpotensi melanjutkan technical rebound dengan target menuju 5.948 hingga 6.000, bahkan dapat menguji area 6.100–6.220 jika berhasil menembus batas atas kanal pergerakan.
Baca juga:
IHSG Ditutup Menguat Jelang Akhir Pekan, Sentimen Damai AS-Iran dan Proyeksi IMF Jadi PenopangSebaliknya, apabila IHSG kembali turun di bawah 5.900, indeks berpotensi menguji area support di kisaran 5.839–5.805.
Optimisme AI Kembali Menghidupkan Pasar Global
Baca juga:
IHSG Ditutup Menguat Jelang Akhir Pekan, Sentimen Damai AS-Iran dan Proyeksi IMF Jadi PenopangDari pasar internasional, sentimen positif datang dari kembali menguatnya optimisme terhadap industri kecerdasan buatan.
Hal itu dipicu oleh lonjakan harga saham SK Hynix yang ditutup naik sekitar 13 persen di atas harga penawaran umum perdana (IPO) pada debut perdagangannya di Nasdaq, Amerika Serikat.
Selain itu, investor global juga mulai melakukan penyesuaian portofolio menjelang musim laporan keuangan kuartal II-2026. Konsensus pasar memperkirakan laba perusahaan dalam indeks S&P 500 tumbuh sekitar 24 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu, terutama ditopang oleh perusahaan teknologi dan AI.
Geopolitik Timur Tengah Masih Dipantau
Meski sentimen AI mendominasi, perkembangan geopolitik tetap menjadi perhatian investor.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan negaranya masih membuka peluang melanjutkan pembicaraan dengan Iran meskipun gencatan senjata yang disepakati pada Juni 2026 telah berakhir.
Menurut Liza, meredanya harga minyak dunia turut membantu menenangkan kekhawatiran pasar terhadap potensi lonjakan inflasi akibat konflik di kawasan Timur Tengah.
Investor Menunggu Data Inflasi AS
Fokus investor kini juga tertuju pada rilis data inflasi Amerika Serikat periode Juni 2026 yang dinilai akan menjadi petunjuk penting bagi arah kebijakan moneter bank sentral AS, The Fed.
Pasar juga akan mencermati kesaksian Gubernur The Fed Kevin Warsh di hadapan House Committee on Financial Services untuk mencari sinyal mengenai prospek suku bunga ke depan.
Dari Dalam Negeri, Restitusi Pajak Turun
Di dalam negeri, realisasi restitusi pajak sepanjang semester I-2026 mencapai Rp171,2 triliun, turun 31,5 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.Penurunan tersebut terutama berasal dari berkurangnya restitusi Pajak Penghasilan (PPh) Badan sebesar 40 persen dan restitusi Pajak Pertambahan Nilai (PPN) Dalam Negeri sebesar 29,7 persen.
Sejumlah analis menilai perlambatan restitusi ini mengindikasikan adanya penundaan pencairan guna menjaga arus kas pemerintah.Meski strategi tersebut membantu likuiditas fiskal dalam jangka pendek, kondisi itu juga berpotensi mengurangi likuiditas dunia usaha apabila pencairan restitusi terus tertunda.
Pemerintah Perbesar Pembiayaan APBN
Pemerintah juga menaikkan outlook pembiayaan APBN 2026 menjadi Rp734,3 triliun, lebih tinggi dari target awal Rp689,1 triliun.
Hingga semester pertama, realisasi pembiayaan telah mencapai Rp452 triliun atau sekitar 65,6 persen dari target awal.
Kementerian Keuangan menjelaskan langkah tersebut merupakan strategi front loading, yaitu mempercepat pembiayaan sejak awal tahun untuk mengantisipasi ketidakpastian pasar global dikutip Antara.
Dengan kondisi pasar obligasi domestik yang mulai stabil dan masih tersedianya Saldo Anggaran Lebih (SAL) sekitar Rp255 triliun, pemerintah dinilai memiliki ruang untuk mengurangi penerbitan utang pada semester kedua tahun ini.
Ke depan, pembiayaan APBN tetap akan difokuskan pada instrumen berdenominasi rupiah, sedangkan penerbitan obligasi global dilakukan secara oportunistis sesuai kondisi pasar.
Bursa Global Bergerak Beragam
Pada perdagangan Jumat (10/7), bursa saham Eropa bergerak bervariasi. Indeks FTSE 100 Inggris dan CAC 40 Prancis ditutup menguat, sementara Euro Stoxx 50 dan DAX Jerman melemah tipis.
Sementara itu, Wall Street berhasil mencatatkan penguatan. Indeks S&P 500, Nasdaq Composite, dan Dow Jones Industrial Average seluruhnya ditutup di zona hijau.
Di kawasan Asia pada perdagangan Senin pagi, pergerakan bursa juga masih beragam. Hang Seng menguat, sedangkan Nikkei, Shanghai Composite, dan Strait Times bergerak melemah, mencerminkan sikap hati-hati investor menunggu data ekonomi global berikutnya.