Sabtu, 15 Agustus 2026

Potensi Energi Surya Indonesia Capai 3.294 GW, Analis: Bisa Jadi Magnet Investasi Energi Bersih


 Potensi Energi Surya Indonesia Capai 3.294 GW, Analis: Bisa Jadi Magnet Investasi Energi Bersih Panel surya terpasang di atap Stasiun Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Senin (6/7/2026), untuk digunakan sebagai pembangkit listrik tenaga surya. ANTARA/HO-KAI Purwokerto

JAKARTA, ARAHKITA.COM – Indonesia memiliki peluang besar menjadi tujuan utama investasi energi bersih berkat potensi energi surya yang mencapai sekitar 3.294 gigawatt (GW). Besarnya potensi tersebut dinilai mampu mendorong pertumbuhan ekonomi, membuka lapangan kerja baru, sekaligus mempercepat target transisi energi nasional.

Analis dari Institute for Energy Economics and Financial Analysis (IEEFA), Putra Adhiguna, mengatakan saat ini kebutuhan utama bukan lagi mencari minat investor, melainkan mempercepat realisasi proyek energi bersih.

"Saat ini fokusnya adalah investasi lebih cepat untuk menyediakan energi bersih yang juga dicari oleh banyak industri strategis dan investor untuk menciptakan lapangan kerja," kata Putra kepada ANTARA di Jakarta, Jumat (10/7/2026).

Menurutnya, minat investor terhadap proyek Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) sebenarnya sudah cukup tinggi. Tantangan terbesar justru terletak pada kepastian jadwal pengadaan proyek oleh PLN sehingga investasi dapat segera direalisasikan.

Komitmen pemerintah untuk membangun tambahan kapasitas pembangkit listrik hingga 100 GW juga dinilai sebagai sinyal positif bagi pelaku usaha. Apalagi jika proyek-proyek tersebut dapat mulai berjalan dalam kurun 12 hingga 24 bulan mendatang.

Indonesia Masih Tertinggal di ASEAN

Putra menilai percepatan pembangunan PLTS penting untuk meningkatkan daya saing Indonesia di kawasan Asia Tenggara. Saat ini, kapasitas PLTS nasional masih tertinggal dibandingkan sejumlah negara besar di ASEAN.

"Kapasitas PLTS kita terendah di antara lima negara besar ASEAN sehingga kita harus mengejar ketertinggalan," ujarnya dikutip Antara.

Meski demikian, kondisi tersebut justru menunjukkan ruang pertumbuhan yang masih sangat besar. Dengan kebijakan yang tepat, Indonesia berpeluang menjadi salah satu pasar energi surya terbesar di kawasan.

Solusi Listrik untuk Wilayah Terpencil

Selain menopang kebutuhan industri, PLTS juga dinilai mampu memperluas akses listrik di daerah-daerah terpencil. Jika dipadukan dengan teknologi penyimpanan energi berupa baterai, pembangkit surya dapat mengurangi ketergantungan pada pembangkit diesel yang biaya operasionalnya jauh lebih mahal, terutama pada malam hari.

Namun, Putra mengingatkan bahwa keberhasilan proyek PLTS tidak hanya bergantung pada pembangunan awal, tetapi juga harus disertai perencanaan pemeliharaan yang berkelanjutan selama lima hingga sepuluh tahun ke depan.

Kebijakan Pemerintah Perlu Konsisten

Putra berharap pemerintah tetap konsisten menjalankan target pengembangan energi surya sebagaimana tercantum dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) serta komitmen pembangunan tambahan kapasitas pembangkit sebesar 100 GW.

Ia juga menilai pemerintah perlu mengevaluasi kembali kebijakan harga Domestic Market Obligation (DMO) batu bara agar tetap memberikan kepastian usaha bagi pelaku industri tanpa membebani masyarakat melalui kenaikan tarif listrik.

Dengan dukungan kebijakan yang konsisten, kepastian proyek, dan iklim investasi yang kondusif, potensi energi surya Indonesia diyakini dapat menjadi salah satu penggerak utama pertumbuhan ekonomi hijau dalam beberapa tahun mendatang.

Editor : Patricia Aurelia

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Ekonomi Terbaru