IHSG Dibuka Melemah, Investor Waspadai Sentimen Global dan Watchlist S&P Indonesia


 IHSG Dibuka Melemah, Investor Waspadai Sentimen Global dan Watchlist S&P Indonesia Arsip foto Pengunjung melintas di depan layar pergerakan Indeks Harga Saham GArsip foto - Pengunjung melintas di depan layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jakarta, Jumat (10/4/2026). ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/nym/pri. (ANTARA FOTO/MUHAMMAD ADIMAJA)

JAKARTA, ARAHKITA.COM – Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali dibuka di zona merah pada perdagangan Rabu (8/7/2026). Pelemahan ini terjadi di tengah meningkatnya kekhawatiran pelaku pasar terhadap sejumlah sentimen global, mulai dari tekanan di Wall Street, lonjakan harga minyak dunia, hingga memanasnya kembali konflik geopolitik di Timur Tengah. Di sisi lain, perhatian investor juga tertuju pada masuknya Indonesia ke dalam watchlist klasifikasi pasar S&P Dow Jones Indices 2027 yang dinilai dapat memengaruhi arus investasi asing.

Pada pembukaan perdagangan, IHSG turun 2,32 poin atau 0,04 persen ke level 5.984,18. Sementara itu, indeks saham unggulan LQ45 juga melemah 0,48 poin atau 0,08 persen menjadi 594,44.

Tim Riset Lotus Andalan Sekuritas menilai investor saat ini cenderung mengambil sikap hati-hati. Masuknya Indonesia ke dalam watchlist S&P Dow Jones Indices 2027 dinilai berpotensi meningkatkan kehati-hatian investor asing apabila tidak diikuti perbaikan aksesibilitas pasar modal Indonesia.

Dari pasar global, sentimen negatif datang dari kombinasi pelemahan bursa saham Amerika Serikat, kenaikan harga minyak mentah, serta meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah. Situasi semakin memanas setelah Amerika Serikat kembali melancarkan serangan terhadap Iran sekaligus mencabut izin ekspor minyak negara tersebut.

Kondisi itu mendorong harga minyak dunia melonjak. Minyak Brent naik sekitar 3 persen ke level 74,16 dolar AS per barel, sedangkan minyak WTI menguat hampir 3 persen menjadi 70,44 dolar AS per barel.

Dengan berbagai sentimen tersebut, Lotus Andalan Sekuritas memperkirakan IHSG masih berpotensi bergerak dalam fase konsolidasi dengan kecenderungan hati-hati. Meski demikian, fundamental ekonomi domestik yang relatif solid dinilai masih mampu membatasi tekanan jual yang lebih besar.

Dari dalam negeri, terdapat sejumlah faktor yang tetap memberikan optimisme. Pertumbuhan kredit perbankan tercatat meningkat 11,51 persen secara tahunan (year on year/yoy), sementara dana pihak ketiga (DPK) tumbuh 13,47 persen (yoy). Kualitas aset perbankan juga dinilai tetap terjaga dengan baik.

Sementara itu, dari Amerika Serikat, data ekonomi menunjukkan sinyal yang beragam. Defisit perdagangan pada Mei 2026 melebar menjadi 77,6 miliar dolar AS, di saat indeks optimisme ekonomi mengalami perbaikan dan ekspektasi inflasi masyarakat naik menjadi 3,7 persen.

Data tersebut memperkuat pandangan bahwa bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve, masih akan berhati-hati dalam menentukan waktu pelonggaran kebijakan suku bunga.

Fokus investor kini tertuju pada publikasi risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC Meeting Minutes) yang diharapkan memberikan petunjuk mengenai arah kebijakan suku bunga The Fed. Hasil risalah tersebut diperkirakan akan menjadi salah satu penentu volatilitas pasar keuangan global dalam waktu dekat dikutip Antara.

Pada perdagangan sebelumnya, mayoritas bursa Eropa bergerak melemah. Indeks Euro Stoxx 50 turun 1,24 persen, DAX Jerman melemah 0,37 persen, dan CAC 40 Prancis terkoreksi 0,51 persen. Sementara itu, FTSE 100 Inggris masih mampu menguat 0,13 persen.

Di Wall Street, pergerakan indeks juga cenderung bervariasi. Dow Jones Industrial Average naik 0,25 persen, S&P 500 menguat 0,45 persen, sedangkan Nasdaq Composite terkoreksi 1,77 persen.

Adapun pada perdagangan Rabu pagi, mayoritas bursa Asia ikut bergerak melemah. Indeks Nikkei turun 0,64 persen, Shanghai Composite melemah tipis 0,03 persen, dan Kospi terkoreksi 1,69 persen. Hanya Strait Times Singapura yang masih mencatat kenaikan 0,22 persen.

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Ekonomi Terbaru