Neraca Perdagangan Indonesia Defisit, Ekonom Soroti Nikel dan Perikanan Jadi Andalan Ekspor Baru


 Neraca Perdagangan Indonesia Defisit, Ekonom Soroti Nikel dan Perikanan Jadi Andalan Ekspor Baru Arsip foto - Nelayan menata ikan tuna hasil tangkapan di atas kapal saat bersandar di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Sendang Biru, Kabupaten Malang, Jawa Timur. ANTARA FOTO/Irfan Sumanjaya/agr

JAKARTA, ARAHKITA.COM – Setelah mencatat surplus selama enam tahun berturut-turut, neraca perdagangan Indonesia akhirnya mengalami defisit pada Mei 2026. Kondisi ini dinilai menjadi momentum bagi Indonesia untuk memperkuat komoditas ekspor bernilai tambah, terutama produk olahan nikel dan sektor perikanan.

Direktur Eksekutif Center of Economics and Law Studies (CELIOS), Bhima Yudhistira, menilai kedua sektor tersebut memiliki peluang besar untuk memperbaiki kinerja perdagangan Indonesia di tengah ketidakpastian ekonomi global.

"Bila ingin memperbaiki neraca perdagangan, dua sektor yang paling potensial adalah olahan nikel berkualitas dan perikanan," ujar Bhima kepada ANTARA di Jakarta, Minggu (5/7/2026).

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan neraca perdagangan Indonesia mengalami defisit sebesar 1,61 miliar dolar AS pada Mei 2026. Angka tersebut mengakhiri tren surplus yang telah berlangsung selama 72 bulan berturut-turut sejak Mei 2020.

Nikel Harus Naik Kelas

Menurut Bhima, Indonesia tidak cukup hanya menjadi eksportir bahan baku atau produk olahan sederhana. Industri nikel perlu menghasilkan produk dengan standar lingkungan yang lebih tinggi agar mampu menembus pasar premium seperti Eropa dan Amerika Serikat.

Ia menekankan pentingnya penerapan standar produksi rendah karbon, sistem ketertelusuran (traceability), serta pemenuhan berbagai regulasi internasional seperti Carbon Border Adjustment Mechanism (CBAM) dan standar London Metal Exchange (LME).

Dengan demikian, pasar ekspor Indonesia tidak lagi bergantung pada satu negara tujuan saja, melainkan semakin beragam.

Selain itu, Indonesia juga didorong memanfaatkan berbagai perjanjian perdagangan internasional, termasuk Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA), untuk memperluas akses pasar produk hilirisasi nikel.

Bhima menilai diplomasi perdagangan harus difokuskan pada peningkatan nilai tambah produk, bukan sekadar mengejar volume ekspor.

"Indonesia perlu memperkuat hilirisasi di sektor menengah sehingga ekspor tidak lagi bergantung pada ekspansi tambang. Dengan kuota produksi yang ada, nilai produk di pasar internasional justru bisa meningkat," jelasnya dikutip Antara.

Perikanan Masih Menyimpan Potensi Besar

Selain nikel, sektor perikanan juga dinilai belum dimanfaatkan secara optimal sebagai penggerak ekspor nasional.

Meski menunjukkan tren pertumbuhan positif, kontribusi perikanan terhadap total ekspor Indonesia masih relatif kecil. Padahal, Indonesia memiliki kekayaan sumber daya laut yang sangat besar.

Bhima menyebut berbagai produk seperti rumput laut, tuna, dan hasil perikanan lainnya memiliki peluang besar memasuki pasar Pakistan, India, Eropa hingga kawasan Asia Tengah.

Namun, agar memiliki daya saing lebih tinggi, Indonesia perlu memperkuat investasi pada cold storage, industri pengolahan ikan, dan hilirisasi sektor perikanan.

Dengan begitu, produk yang diekspor bukan lagi ikan mentah, melainkan produk olahan yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi.

Kurangi Ketergantungan pada Batu Bara dan Sawit

Bhima juga mengingatkan agar Indonesia mulai mengurangi ketergantungan terhadap komoditas ekspor tradisional seperti batu bara dan minyak sawit yang sangat rentan terhadap gejolak harga dunia.

Diversifikasi ekspor melalui hilirisasi nikel dan penguatan industri perikanan dinilai menjadi langkah strategis agar struktur perdagangan Indonesia lebih kuat, berkelanjutan, dan mampu bersaing di pasar global.

Dengan mengedepankan nilai tambah, standar lingkungan, serta perluasan pasar ekspor, Indonesia berpeluang membalikkan kembali kinerja neraca perdagangan dalam jangka panjang.

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Ekonomi Terbaru