Indonesia Berpeluang Jadi Hub Industri Baja Asia Tenggara, Investasi dan Hilirisasi Kian Menguat


 Indonesia Berpeluang Jadi Hub Industri Baja Asia Tenggara, Investasi dan Hilirisasi Kian Menguat Direktur Utama PT Krakatau Steel (Persero) Tbk sekaligus Chairman Indonesian Iron & Steel Industry Association (IISIA) Akbar Djohan memberikan pemaparan dalam ajang "Mysteel 2026: 1st Southeast Asia Steel Industry Summit", di Jakarta, Kamis (2/7/2026). ANTARA/HO-Krakatau Steel

JAKARTA, ARAHKITA.COM – Indonesia dinilai memiliki peluang besar untuk berkembang menjadi pusat investasi sekaligus hub pertumbuhan industri baja di Asia Tenggara. Prospek tersebut didukung oleh fundamental ekonomi yang kuat, meningkatnya konsumsi baja nasional, serta derasnya investasi di sektor hilirisasi.

Ketua Indonesian Iron & Steel Industry Association (IISIA), Akbar Djohan, mengatakan Asia Tenggara kini menjadi salah satu kawasan dengan prospek pertumbuhan industri baja paling menjanjikan di dunia. Sebagai negara dengan ekonomi terbesar di ASEAN, Indonesia berada pada posisi strategis untuk menarik investasi sekaligus memperkuat kerja sama di sektor besi dan baja.

"Asia Tenggara kini menjadi salah satu kawasan dengan prospek pertumbuhan industri baja paling menjanjikan di dunia. Sebagai ekonomi terbesar di ASEAN, Indonesia memiliki peluang besar menarik investasi sekaligus memperkuat kemitraan strategis di sektor besi dan baja," ujar Akbar dalam keterangannya di Jakarta, Jumat (3/7/2026).

Akbar yang juga Direktur Utama PT Krakatau Steel (Persero) Tbk menjelaskan, Indonesia semakin menarik sebagai tujuan investasi jangka panjang. Hal tersebut ditopang oleh pertumbuhan konsumsi baja domestik yang terus meningkat serta kinerja ekspor yang semakin membaik sehingga memperkuat daya saing industri baja nasional di pasar global.

Menurutnya, perkembangan tersebut menjadi sinyal positif bahwa industri baja Indonesia memiliki fondasi yang semakin kuat untuk bersaing di tingkat regional maupun internasional.

Namun demikian, Akbar mengingatkan bahwa tantangan global masih membayangi industri baja. Ketidakpastian ekonomi dunia, dinamika geopolitik, hingga percepatan transisi menuju industri rendah karbon menuntut seluruh pelaku industri untuk memperkuat kolaborasi.

Hal itu disampaikannya saat menjadi pembicara dalam ajang Mysteel 2026: 1st Southeast Asia Steel Industry Summit di Jakarta.

"Tidak ada satu negara, satu perusahaan, maupun satu organisasi pun yang dapat menghadapi transformasi ini sendirian," katanya dikutip Antara.

Ia menegaskan, masa depan industri baja akan sangat ditentukan oleh kemampuan seluruh pemangku kepentingan dalam berbagi pengetahuan, mendorong inovasi, membangun kemitraan strategis, serta memperkuat kepercayaan antar pelaku industri.

Selain itu, Akbar menilai penciptaan level playing field yang sehat menjadi syarat penting agar industri baja dapat berkembang secara berkelanjutan. Di saat yang sama, percepatan transisi menuju green steel juga perlu dilakukan melalui sinergi antara pemerintah, industri, lembaga keuangan, penyedia teknologi, hingga sektor energi.

Melalui penyelenggaraan forum internasional tersebut, IISIA berharap lahir berbagai kemitraan strategis dan investasi baru yang mampu memperkuat daya saing industri baja Indonesia. Langkah ini juga diharapkan mendukung agenda hilirisasi serta transformasi industri nasional yang menjadi bagian dari visi pembangunan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

Dengan kombinasi pasar domestik yang terus tumbuh, posisi strategis di kawasan ASEAN, dan komitmen terhadap industri hijau, Indonesia dinilai memiliki modal kuat untuk menjadi pemain utama sekaligus pusat pertumbuhan industri baja di Asia Tenggara dalam beberapa tahun mendatang.

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Ekonomi Terbaru