Sekelompok orang berjalan melewati roket putih besar dengan logo Space X berwarna biru tertulis di atasnya. (Getty Images)
JAKARTA, ARAHKITA.COM – Perusahaan teknologi antariksa milik Elon Musk, SpaceX, berhasil mengumpulkan dana sebesar US$75 miliar atau sekitar Rp1.200 triliun menjelang debutnya di pasar saham. Langkah ini menjadi salah satu penawaran umum perdana (IPO) yang paling dinanti sekaligus berpotensi menjadi yang terbesar dalam sejarah pasar modal dunia.
Dalam dokumen yang diajukan kepada Komisi Sekuritas dan Bursa Amerika Serikat (SEC), SpaceX mengungkapkan telah menjual saham senilai US$75 miliar dengan harga US$135 per lembar saham. Angka tersebut sesuai dengan proyeksi yang sebelumnya disampaikan perusahaan.
Dengan harga tersebut, valuasi awal SpaceX diperkirakan mendekati US$1,8 triliun atau sekitar Rp29.000 triliun. Jika nilai pasar itu bertahan atau bahkan meningkat setelah perdagangan dimulai, SpaceX akan langsung masuk jajaran perusahaan publik paling bernilai di dunia.
Valuasi fantastis tersebut juga semakin memperkuat posisi Elon Musk sebagai orang terkaya di dunia. Bahkan, sejumlah analis memperkirakan kekayaan Musk berpotensi menembus angka US$1 triliun, menjadikannya triliuner pertama dalam sejarah modern.
Pada tahap awal, SpaceX hanya melepas sekitar 5 persen dari total saham yang tersedia. Setelah perdagangan dibuka di bursa, harga saham akan ditentukan oleh mekanisme pasar berdasarkan permintaan investor dan jumlah saham yang beredar.
Baca juga:
Rumor Merger SpaceX dan Tesla Kian Menguat, Elon Musk Disebut Siapkan Langkah Besar ke NasdaqMinat investor terhadap saham SpaceX diperkirakan sangat tinggi. Tidak hanya dana investasi besar, investor ritel juga disebut antusias untuk menjadi bagian dari perusahaan yang selama ini dikenal sebagai pelopor industri antariksa komersial dan kecerdasan buatan (AI).
Beberapa analis bahkan menilai harga US$135 per saham masih memiliki ruang kenaikan. Perusahaan pialang global Oppenheimer, misalnya, memperkirakan harga saham SpaceX dapat mencapai US$190 per saham setelah resmi diperdagangkan.
Salah satu calon investor, Peta Cooper, seorang penulis iklan berusia 43 tahun asal Cornwall, Inggris, mengaku tertarik menambah saham SpaceX ke dalam portofolionya.
"Saya sangat menyukai industri antariksa. SpaceX memiliki rekam jejak yang luar biasa dalam hal inovasi dan peluncuran," ujarnya.
Meski memperkirakan harga saham akan mengalami fluktuasi, Cooper mengaku berencana menyimpan investasinya dalam jangka panjang.
Namun, tidak semua pihak memandang IPO SpaceX dengan optimistis. Sejumlah ekonom dan analis mengingatkan bahwa valuasi perusahaan saat ini sudah memasukkan ekspektasi pertumbuhan yang sangat besar di masa depan.
Ekonom yang pernah bekerja di NASA, Sinead O'Sullivan, menyebut investasi di SpaceX sebagai taruhan besar terhadap masa depan teknologi dan AI.
"Ada begitu banyak harapan yang dibebankan pada satu perusahaan dan satu harga saham. Saya percaya Elon Musk mampu mengeksekusi inovasi teknologi, tetapi saya belum tentu yakin harga saham saat ini sepenuhnya mencerminkan nilai masa depan yang akan tercipta," katanya.
Sementara itu, Chief Operating Officer SpaceX, Gwynne Shotwell, mengatakan perusahaan sebenarnya tidak selalu berencana melakukan IPO. Namun, menurutnya, saat ini merupakan waktu yang tepat untuk membuka akses kepemilikan kepada publik.
Selama beberapa tahun terakhir, kata Shotwell, banyak masyarakat dan investor yang menyatakan minat untuk memiliki saham SpaceX.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa perusahaan tetap berfokus pada visi jangka panjang dan pengembangan teknologi masa depan, bukan sekadar mengejar hasil kuartalan.
Meski telah menjadi perusahaan publik, Elon Musk diperkirakan tetap akan memegang kendali dominan atas SpaceX.
Struktur kepemilikan saham yang dimiliki Musk membuatnya menguasai sekitar 85 persen hak suara perusahaan. Dengan posisi tersebut, ia tetap menjadi pengambil keputusan utama dalam berbagai kebijakan strategis perusahaan.
Sejumlah pengamat tata kelola perusahaan menilai struktur tersebut memberikan keleluasaan besar bagi Musk, tetapi juga menghadirkan risiko bagi investor karena pengambilan keputusan menjadi sangat terpusat.
SpaceX sendiri memiliki hubungan erat dengan sejumlah perusahaan lain yang terafiliasi dengan Musk, termasuk perusahaan kecerdasan buatan xAI dan platform media sosial X yang sebelumnya dikenal sebagai Twitter.
Saat ditanya mengenai struktur kepemimpinan perusahaan, Shotwell menegaskan bahwa hingga saat ini belum ada sosok lain yang dianggap mampu memimpin SpaceX seperti Elon Musk.
Di balik valuasi fantastis yang kini diraih SpaceX, perjalanan perusahaan tersebut tidak selalu mulus.
Tom Mueller, karyawan pertama SpaceX yang kini mendirikan perusahaan antariksa Impulse Space, mengenang masa-masa awal ketika mesin roket perusahaan sering mengalami kegagalan dan ledakan saat pengujian.
Namun berbagai kegagalan tersebut akhirnya membuahkan hasil ketika SpaceX berhasil mencapai orbit pada 2008, sebuah pencapaian yang kemudian mengubah industri antariksa global.
Seperti dilaporkan dan dikutip BBC, Mueller menyebut perkembangan SpaceX selama dua dekade terakhir sebagai perjalanan yang luar biasa. Menurutnya, perusahaan yang dulu kerap diragukan kini telah berkembang menjadi salah satu kekuatan terbesar dalam industri teknologi dunia.
Keberhasilan IPO ini pun dipandang sebagai tolok ukur bagi perusahaan teknologi bernilai tinggi lainnya, termasuk OpenAI dan Anthropic, yang disebut-sebut tengah mempertimbangkan langkah serupa untuk masuk ke pasar saham dalam waktu dekat.