Photo file: Duta Besar China untuk Indonesia Wang Lutong.(ANTARA/Nabil Ihsan)
JAKARTA, ARAHKITA.COM – Hubungan ekonomi Indonesia dan China terus menunjukkan penguatan. Salah satu indikatornya terlihat dari semakin eratnya kerja sama antara Bank Indonesia (BI) dan People's Bank of China (PBOC) atau Bank Sentral China.
Duta Besar China untuk Indonesia, Wang Lutong, menilai kolaborasi yang semakin mendalam antara kedua bank sentral memberikan kontribusi nyata terhadap pertumbuhan ekonomi sekaligus menjaga stabilitas keuangan kedua negara.
“Kerja sama keuangan antara China dan Indonesia terus mengalami pendalaman dan telah membuahkan hasil yang signifikan. Kerja sama ini berkontribusi positif dalam mendorong kemakmuran ekonomi dan menjaga stabilitas keuangan,” ujar Wang dalam keterangan tertulis Kedutaan Besar China di Jakarta, Jumat (13/6).
Penguatan hubungan tersebut menjadi salah satu hasil penting dalam Pertemuan Gubernur Bank Sentral Indonesia-China yang berlangsung pada Kamis (11/6) dalam kerangka Joint Working Program (JWP).
Dalam pertemuan itu, kedua pihak berhasil mencapai empat kesepakatan strategis yang diyakini akan semakin memperkuat konektivitas sistem keuangan Indonesia dan China.
Salah satu kesepakatan yang dicapai adalah penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) mengenai pembentukan Renminbi Clearing Arrangement. Skema ini diharapkan dapat memperlancar transaksi perdagangan dan investasi yang menggunakan mata uang China, renminbi.
Selain itu, terdapat pula MoU trilateral antara PBOC, Bank Indonesia, dan Hong Kong Monetary Authority (HKMA) terkait penguatan transaksi menggunakan mata uang lokal atau Local Currency Transaction (LCT).
Kerja sama lainnya mencakup implementasi sistem pembayaran berbasis kode QR lintas batas antara Indonesia dan China. Inisiatif ini memungkinkan masyarakat kedua negara melakukan transaksi pembayaran digital dengan lebih mudah saat berkunjung ke negara mitra.
Tak hanya itu, Bank Mandiri juga resmi bergabung sebagai partisipan langsung dalam Cross-Border Interbank Payment System (CIPS), sebuah infrastruktur pembayaran internasional berbasis renminbi yang berada di bawah pengelolaan PBOC.
Menurut Wang, perkembangan positif di sektor keuangan tersebut berjalan seiring dengan meningkatnya hubungan perdagangan dan investasi antara Indonesia dan China dalam beberapa tahun terakhir dikutip Antara.
Berdasarkan data pemerintah Indonesia, investasi langsung China ke Indonesia sepanjang 2025 mencapai sekitar 7,5 miliar dolar Amerika Serikat.
Sementara itu, data dari pihak China menunjukkan bahwa nilai perdagangan bilateral kedua negara pada 2025 mencapai rekor tertinggi sebesar 167,49 miliar dolar AS. Angka tersebut menjadi pencapaian bersejarah karena untuk pertama kalinya nilai perdagangan Indonesia-China melampaui 150 miliar dolar AS dalam satu tahun.
Capaian tersebut semakin menegaskan posisi China sebagai mitra dagang terbesar Indonesia selama 13 tahun berturut-turut. Selain itu, China juga konsisten berada dalam tiga besar sumber investasi asing langsung terbesar di Indonesia selama satu dekade terakhir.
Wang optimistis penguatan kerja sama sektor keuangan akan semakin mempermudah arus perdagangan dan investasi kedua negara. Dengan dukungan sistem pembayaran yang semakin terintegrasi, aktivitas bisnis lintas negara diharapkan menjadi lebih efisien dan kompetitif.
Ke depan, kerja sama Indonesia-China diperkirakan tidak hanya berkembang di sektor perdagangan dan investasi konvensional, tetapi juga merambah berbagai bidang strategis yang tengah tumbuh pesat, seperti ekonomi digital, kecerdasan buatan (AI), hingga industri kendaraan listrik.
Penguatan kolaborasi di berbagai sektor tersebut diyakini akan semakin memperkokoh hubungan ekonomi kedua negara sekaligus memperluas peluang pertumbuhan bagi pelaku usaha dan investor di masa mendatang.