OJK Nilai IHSG Masih Menarik, Didukung Valuasi Murah dan Kinerja Emiten yang Membaik Judul Alternatif:


 OJK Nilai IHSG Masih Menarik, Didukung Valuasi Murah dan Kinerja Emiten yang Membaik Judul Alternatif: Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi (kanan) dalam Rapat Kerja (Raker) bersama Komisi XI dalam Pengantar KEM-PPKF RAPBN Tahun Anggaran 2027 di Gedung DPR RI, Jakarta, Rabu (10/6/2026). (ANTARA/Rizka Khaerunnisa)

JAKARTA, ARAHKITA.COM – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai pasar saham Indonesia masih memiliki prospek yang menarik. Salah satu indikatornya terlihat dari posisi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang saat ini didukung oleh valuasi saham yang relatif rendah dibandingkan rata-rata historis maupun pasar regional.

Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi, mengatakan kondisi tersebut semakin diperkuat oleh membaiknya kinerja emiten serta meningkatnya kepercayaan investor terhadap pasar modal Indonesia.

Dalam Rapat Kerja bersama Komisi XI DPR RI di Jakarta, Rabu, Friderica menjelaskan bahwa pergerakan IHSG kini semakin sejalan dengan indeks acuan global yang diterbitkan oleh MSCI dan FTSE Russell. Menurutnya, hal ini menunjukkan bahwa berbagai reformasi yang dilakukan regulator mulai mendapat respons positif dari pelaku pasar.

"Pasar mulai memberikan apresiasi terhadap berbagai upaya perbaikan yang dilakukan untuk meningkatkan kualitas dan daya saing pasar modal Indonesia," ujarnya.

Kinerja Emiten Jadi Penopang Utama

Selain faktor valuasi, OJK melihat fundamental perusahaan-perusahaan tercatat di Bursa Efek Indonesia juga menunjukkan perkembangan yang menggembirakan.

Sepanjang kuartal pertama 2026, banyak emiten mencatat peningkatan pendapatan dan profitabilitas. Tren positif tersebut dinilai menjadi salah satu fondasi penting yang dapat menjaga optimisme investor terhadap pasar saham domestik dalam jangka menengah hingga panjang.

Perbaikan kinerja korporasi ini sekaligus memberikan sinyal bahwa sektor usaha masih mampu bertahan dan berkembang di tengah berbagai tantangan ekonomi global.

Investor Pasar Modal Terus Bertambah

Di sisi lain, pasar modal Indonesia juga ditopang oleh basis investor domestik yang semakin besar. OJK mencatat jumlah investor pasar modal meningkat signifikan dalam beberapa tahun terakhir.

Jika pada 2023 jumlah investor tercatat sekitar 12,17 juta orang, maka per April 2026 angkanya melonjak menjadi 26,49 juta investor. Dari jumlah tersebut, sebanyak 26,43 juta merupakan investor individu atau ritel.

Pertumbuhan ini menunjukkan minat masyarakat terhadap instrumen investasi di pasar modal terus meningkat. Kehadiran investor ritel yang dominan juga dinilai menjadi salah satu faktor yang memperkuat ketahanan pasar keuangan nasional.

Namun demikian, Friderica mengingatkan bahwa tantangan berikutnya adalah meningkatkan partisipasi investor aktif. Hingga April 2026, jumlah investor aktif harian tercatat sekitar 448 ribu orang atau baru sekitar 1,69 persen dari total investor yang terdaftar.

Karena itu, OJK akan terus mendorong peningkatan literasi keuangan, memperkuat perlindungan investor, serta mengembangkan berbagai produk pasar modal yang lebih beragam dan inklusif.

Pengawasan Diperkuat Hadapi Ketidakpastian Global

Selain fokus pada pengembangan pasar modal, OJK juga terus memperkuat pengawasan sektor jasa keuangan melalui pendekatan yang lebih antisipatif atau forward-looking.

Langkah tersebut dilakukan melalui pelaksanaan stress test secara berkala dan pemantauan terhadap berbagai indikator penting, seperti risiko likuiditas, permodalan, kualitas aset, hingga konsentrasi risiko.

Menurut Friderica, OJK secara berkelanjutan melakukan penilaian terhadap ketahanan sektor jasa keuangan dalam berbagai skenario tekanan ekonomi yang mungkin terjadi.

Di tengah dinamika global dan tekanan terhadap nilai tukar rupiah, kondisi industri perbankan nasional juga dinilai masih berada dalam kondisi sehat. Rasio intermediasi valuta asing tetap terjaga, sementara posisi devisa neto perbankan masih berada di bawah batas regulasi yang ditetapkan.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa eksposur risiko nilai tukar di sektor perbankan masih dapat dikendalikan dengan baik dikutip Antara.

Fokus Dorong Pertumbuhan Ekonomi Nasional

Ke depan, OJK menegaskan akan terus mendukung percepatan pertumbuhan ekonomi nasional melalui berbagai program prioritas di sektor jasa keuangan.Fokus utama diarahkan pada penguatan fungsi intermediasi, perluasan akses pembiayaan, pendalaman pasar keuangan, serta penguatan ekosistem pembiayaan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Selain itu, OJK juga mendorong pengembangan ekonomi hijau melalui implementasi keuangan berkelanjutan dan nilai ekonomi karbon.

Transformasi digital di sektor keuangan, penguatan industri keuangan syariah, peningkatan literasi dan inklusi keuangan, hingga perlindungan konsumen juga menjadi agenda strategis yang terus dikembangkan.

Friderica menegaskan bahwa penegakan hukum akan tetap dilakukan secara konsisten guna menjaga integritas sektor jasa keuangan.

Melalui berbagai langkah tersebut, OJK berharap sektor jasa keuangan Indonesia tidak hanya mampu menjaga stabilitas di tengah ketidakpastian global, tetapi juga menjadi motor penggerak pertumbuhan ekonomi nasional yang lebih inklusif, berkelanjutan, dan berdaya saing.

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Ekonomi Terbaru