Loading
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto (kiri) dan Wakil Perdana Menteri Singapura sekaligus Menteri Perdagangan dan Industri Gan Kim Yong (kanan) saat konferensi pers di Jakarta, Selasa (9/6/2026) (ANTARA/Bayu Saputra)
JAKARTA, ARAHKITA.COM – Hubungan ekonomi Indonesia dan Singapura terus menunjukkan tren positif. Kedua negara sepakat memperkuat kerja sama strategis yang mencakup investasi, ekonomi digital, energi hijau, hingga pengembangan teknologi pertanian sebagai bagian dari upaya menghadapi tantangan ekonomi global yang semakin dinamis.
Komitmen tersebut kembali ditegaskan dalam Pertemuan Menteri ke-16 Six Bilateral Economic Working Groups Ministerial Meeting (6WG MM) yang berlangsung di Jakarta. Pertemuan tersebut dipimpin oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto bersama Wakil Perdana Menteri Singapura sekaligus Menteri Perdagangan dan Industri, Gan Kim Yong.
Salah satu fokus utama kerja sama kedua negara berada di kawasan Batam, Bintan, dan Karimun (BBK) yang selama beberapa tahun terakhir berkembang menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru di wilayah perbatasan Indonesia.
Menurut Airlangga, kawasan BBK berhasil mencatatkan investasi sebesar US$5,7 miliar sepanjang 2025, meningkat dibandingkan tahun sebelumnya. Pencapaian tersebut menjadi indikator kuat bahwa kawasan ini semakin menarik bagi investor internasional.
“Kerja sama di BBK terus berkembang dan menjadi salah satu pilar penting hubungan ekonomi Indonesia dan Singapura,” ujarnya dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa (9/6/2026).
FTZ Batam dan Nongsa Digital Park Terus Berkembang
Pemerintah Indonesia juga terus memperluas cakupan Kawasan Perdagangan Bebas (Free Trade Zone/FTZ) Batam. Jika sebelumnya hanya mencakup delapan pulau, kini wilayah FTZ diperluas menjadi 22 pulau guna membuka lebih banyak peluang investasi dan aktivitas ekonomi.
Selain itu, Nongsa Digital Park akan terus dikembangkan untuk mendukung pertumbuhan sektor ekonomi digital. Kawasan ini diproyeksikan menjadi salah satu pusat inovasi teknologi dan industri digital yang mampu menarik investasi baru dari berbagai negara.
Tidak hanya di Batam, pengembangan kawasan industri juga dilakukan melalui perluasan tahap kedua Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kendal. Area KEK tersebut akan bertambah sekitar 1.000 hektare guna mengakomodasi masuknya investasi baru sekaligus menciptakan lebih banyak lapangan pekerjaan.
Proyek Energi Hijau Masuk Tahap Strategis
Kerja sama Indonesia dan Singapura juga semakin erat dalam bidang energi terbarukan. Salah satu proyek unggulan yang sedang berjalan adalah pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) hasil kolaborasi antara Sembcorp dan PT Sumber Energi Surya Nusantara (SESNA).
Proyek tersebut ditargetkan selesai pada tahun depan dan diproyeksikan menjadi salah satu PLTS skala utilitas terbesar di Indonesia. Kapasitas pembangkit mencapai 200 megawatt (MW) dan didukung sistem penyimpanan energi baterai berkapasitas 80 megawatt hour (MWh).
Kehadiran proyek ini dinilai penting untuk mendukung target transisi energi nasional sekaligus memperkuat kerja sama kedua negara dalam pengembangan ekonomi hijau.
BBK Disiapkan Jadi Pusat Ekonomi Digital Regional
Dalam pernyataan bersama, Indonesia dan Singapura menegaskan bahwa kawasan BBK sedang diarahkan menjadi pusat ekonomi digital regional melalui berbagai proyek investasi teknologi dan pusat data.
Sejumlah proyek yang tengah dikembangkan antara lain perluasan KEK Nongsa, pembangunan pusat data oleh DayOne dan PT Equator Gate System di Batam, serta investasi pusat data DCI Indonesia di Bintan.
Untuk mempercepat transformasi tersebut, kedua negara juga akan melakukan studi bersama mengenai sektor teknologi di kawasan BBK. Kajian ini bertujuan mengidentifikasi peluang investasi baru sekaligus menghasilkan rekomendasi konkret guna mendorong pertumbuhan ekonomi kawasan secara berkelanjutan.
Singapura Tetap Jadi Investor Terbesar
Di tengah ketidakpastian ekonomi global dan meningkatnya tensi geopolitik, Singapura menegaskan komitmennya sebagai mitra strategis Indonesia.
Wakil Perdana Menteri Singapura Gan Kim Yong menyatakan bahwa investasi Singapura di Indonesia tetap menunjukkan performa kuat sepanjang 2025 dengan nilai mencapai sekitar US$17,4 miliar.
Menurutnya, perkembangan kawasan Batam, Bintan, dan Karimun memperlihatkan momentum pertumbuhan yang menjanjikan melalui berbagai investasi baru, termasuk sektor teknologi dan ekonomi digital.
“Singapura tetap berkomitmen menjadi mitra yang bernilai dan dapat diandalkan bagi Indonesia,” katanya dikutip Antara.
Kolaborasi Pertanian Modern Dimulai
Selain investasi dan teknologi, kedua negara juga memperluas kerja sama di sektor pertanian. Mulai Juni 2026, Indonesia dan Singapura akan menjalankan Program Pengembangan Petani Muda yang berfokus pada peningkatan kapasitas generasi muda dalam bidang teknologi pertanian atau agri-tech.
Program ini diharapkan mampu memperkuat ketahanan pangan sekaligus mendorong lahirnya inovasi pertanian modern yang lebih produktif dan berkelanjutan.
Dengan penguatan kerja sama di berbagai sektor strategis, Indonesia dan Singapura menunjukkan komitmen untuk membangun kemitraan ekonomi yang tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan investasi, tetapi juga transformasi digital, energi bersih, dan pembangunan sumber daya manusia di masa depan.