Direktur Biomassa PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) Hokkop Situngkir. ANTARA/HO-PT PLN EPI
JAKARTA, ARAHKITA.COM – Pengembangan bioenergi di Indonesia tidak hanya menjadi bagian penting dari upaya transisi menuju energi yang lebih bersih, tetapi juga berpotensi membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat. PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) memperkirakan sektor ini mampu menciptakan hingga 150 ribu lapangan kerja dalam tiga hingga empat tahun ke depan.
Direktur Biomassa PLN EPI, Hokkop Situngkir, mengatakan pemanfaatan biomassa secara lebih luas di sektor ketenagalistrikan dapat memberikan dampak signifikan dari sisi ekonomi, sosial, maupun lingkungan.
Menurutnya, jika penggunaan biomassa di pembangkit listrik mampu mencapai 10 juta ton per tahun, maka nilai ekonomi yang dihasilkan dapat mencapai sekitar Rp11 triliun. Selain itu, langkah tersebut juga berpotensi mengurangi emisi karbon hingga 12 juta ton CO2 dan membuka peluang kerja bagi sekitar 150 ribu orang.
Baca juga:
BBM Subsidi Tetap Aman untuk Rakyat Kecil, Ini Strategi Energi Prabowo Hadapi Krisis Global“Pengembangan biomassa bukan hanya soal energi, tetapi juga menciptakan aktivitas ekonomi baru yang melibatkan masyarakat di berbagai daerah,” ujarnya dalam Seminar Series #3 bertema Utilisasi BioEnergy di PLN untuk Mendukung Ketahanan Energi Indonesia di Institut Teknologi PLN, Jakarta.
Biomassa Jadi Solusi Transisi Energi yang Cepat
Hokkop menjelaskan, biomassa menjadi salah satu solusi yang dapat diterapkan dengan cepat dalam proses transisi energi melalui program co-firing di Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU).
Melalui skema ini, sebagian penggunaan batu bara digantikan dengan biomassa yang berasal dari limbah pertanian, perkebunan, kehutanan, hingga limbah organik lainnya.
Baca juga:
Jerman dan Indonesia Perkuat Kemitraan Perdagangan, Investasi, dan Transisi Energi BerkelanjutanIa menegaskan bahwa bioenergi tidak dimaksudkan untuk menggantikan energi fosil secara total dalam waktu singkat. Sebaliknya, biomassa berfungsi sebagai jembatan transisi yang memungkinkan pengurangan emisi secara bertahap tanpa mengganggu keandalan pasokan listrik nasional.
Saat ini PLN telah menerapkan teknologi co-firing biomassa di 52 PLTU yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia.Sepanjang tahun 2025, pemanfaatan biomassa mencapai sekitar 2,35 juta ton dan berhasil menurunkan emisi sebesar 2,57 juta ton CO2 ekuivalen.
Manfaatkan Beragam Limbah Menjadi Energi
PLN juga telah memanfaatkan sedikitnya 14 jenis biomassa sebagai bahan bakar alternatif. Berbagai bahan tersebut memiliki nilai kalor rata-rata 3.152 kkal per kilogram.
Sumber biomassa yang digunakan antara lain cangkang kelapa sawit, sekam padi, bonggol jagung, serbuk gergaji, limbah kayu, hingga limbah rumah tangga yang telah diolah menjadi bahan bakar.
Pemanfaatan limbah tersebut tidak hanya membantu mengurangi ketergantungan pada batu bara, tetapi juga memberikan nilai tambah ekonomi bagi sektor pertanian dan perkebunan.
Potensi Biomassa Indonesia Masih Sangat Besar
Indonesia memiliki potensi biomassa yang sangat melimpah. Berdasarkan data PLN EPI, potensi biomassa nasional mencapai sekitar 83,4 juta ton per tahun.Sebagian besar potensi tersebut berada di Sumatera dengan kapasitas sekitar 42,8 juta ton per tahun, disusul Kalimantan sebesar 18,9 juta ton dan Pulau Jawa sekitar 13,1 juta ton per tahun.
Meski demikian, tingkat pemanfaatan bioenergi nasional masih tergolong rendah. Saat ini konsumsi bioenergi Indonesia baru mencapai 0,35 gigajoule per kapita per tahun, jauh di bawah potensi yang tersedia yang mencapai 6,5 gigajoule per kapita per tahun.
Hokkop menilai tantangan utama saat ini adalah membangun rantai pasok biomassa yang terintegrasi sehingga sumber daya yang melimpah tersebut dapat dimanfaatkan secara optimal.
“Indonesia memiliki sumber daya biomassa yang sangat besar. Tantangannya adalah bagaimana membangun ekosistem pasok yang terintegrasi agar mampu memberikan nilai tambah ekonomi bagi masyarakat sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional,” katanya.
Kembangkan Biogas dan Biohidrogen
Selain biomassa, PLN EPI juga mulai mengembangkan sumber energi terbarukan lainnya, termasuk biogas dan biohidrogen.
Salah satu proyek yang sedang dikembangkan adalah pemanfaatan gas metana yang berasal dari limbah cair kelapa sawit atau Palm Oil Mill Effluent (POME). Gas tersebut dapat diolah menjadi sumber energi alternatif yang berpotensi menggantikan sebagian penggunaan gas alam.
Menurut Hokkop, pemanfaatan metana memiliki manfaat ganda karena mampu menghasilkan energi sekaligus mengurangi emisi gas rumah kaca yang berdampak besar terhadap pemanasan global.
AI Digunakan untuk Kelola Rantai Pasok Biomassa
Untuk mendukung pengembangan bioenergi yang lebih efisien, PLN EPI juga tengah mengembangkan sistem digital berbasis kecerdasan buatan (AI).Teknologi ini akan digunakan untuk memantau rantai pasok biomassa dan operasional co-firing di berbagai wilayah Indonesia sehingga proses distribusi dan pemanfaatan biomassa dapat berjalan lebih efektif.
Di sisi lain, pengembangan biomassa juga membuka peluang usaha baru mulai dari pengumpulan bahan baku, pengolahan biomassa, logistik, hingga pengembangan teknologi energi terbarukan.
Karena itu, PLN EPI terus mendorong keterlibatan petani, kelompok usaha desa, koperasi, pelaku UMKM, hingga generasi muda untuk terlibat dalam rantai pasok biomassa nasional.
Menurut Hokkop, transaksi bisnis biomassa di Indonesia menunjukkan tren yang semakin positif dan berpotensi menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru yang menjanjikan bagi masyarakat di berbagai daerah.