Loading
Ketua Umum Asosiasi Maskapai Penerbangan Nasional Indonesia atau Indonesian National Air Carriers Association (INACA) Denon Prawiraatmadja menyampaikan sambutan dalam peluncuran buku Indonesia Aviation Outlook 2026 di Jakarta, Rabu (3/6/2026). ANTARA/Harianto
JAKARTA, ARAHKITA.COM – Pasar domestik dinilai masih menjadi tulang punggung sekaligus kekuatan terbesar bagi industri penerbangan Indonesia. Dengan jumlah penduduk lebih dari 270 juta jiwa dan kebutuhan mobilitas yang terus meningkat, sektor penerbangan nasional memiliki peluang besar untuk terus berkembang dan berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi.
Ketua Umum INACA, Denon Prawiraatmadja, mengatakan pasar penerbangan domestik tidak hanya berfungsi sebagai pendukung aktivitas ekonomi nasional, tetapi juga menjadi peluang strategis bagi seluruh pelaku industri penerbangan, baik maskapai berjadwal maupun nonberjadwal.
Menurut Denon, Indonesia masih termasuk salah satu pasar penerbangan paling menjanjikan di kawasan Asia. Kondisi geografis sebagai negara kepulauan, ditambah pertumbuhan ekonomi dan mobilitas masyarakat yang terus meningkat, menjadikan transportasi udara sebagai kebutuhan penting bagi masyarakat maupun dunia usaha.
Ia mengungkapkan bahwa sebelum pandemi COVID-19, jumlah perjalanan penumpang udara di Indonesia mencapai sekitar 190 juta perjalanan setiap tahun. Dari jumlah tersebut, sekitar 80 persen berasal dari pasar domestik.
Data tersebut menunjukkan besarnya potensi pasar dalam negeri yang selama ini menjadi penopang utama industri penerbangan nasional. Selain memperkuat konektivitas antardaerah, sektor ini juga berperan penting dalam mendorong aktivitas ekonomi, perdagangan, pariwisata, hingga investasi di berbagai wilayah Indonesia.
Denon menilai besarnya pasar domestik memberikan ruang yang luas bagi maskapai untuk memperluas jaringan penerbangan, membuka rute baru, serta meningkatkan kualitas layanan kepada masyarakat.
Lebih jauh, industri penerbangan juga memiliki dampak ekonomi yang signifikan. Sektor ini disebut mendukung lebih dari 6 juta lapangan kerja dan memberikan kontribusi sekitar 62,6 miliar dolar Amerika Serikat terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia.
“Angka tersebut menunjukkan betapa pentingnya tata kelola industri penerbangan nasional yang sehat dan berkelanjutan,” ujarnya saat peluncuran buku Indonesia Aviation Outlook 2026 di Jakarta, Rabu (3/6/2026).
Dorong Efisiensi dan Daya Saing Industri
Selain menyoroti besarnya potensi pasar domestik, INACA juga kembali mengusulkan berbagai kebijakan strategis untuk meningkatkan daya saing industri penerbangan nasional.
Salah satu usulan yang terus diperjuangkan adalah pemberian insentif perpajakan nol persen untuk impor suku cadang pesawat. Kebijakan tersebut dinilai dapat membantu menekan biaya operasional maskapai yang selama ini masih cukup tinggi.
Menurut Denon, pembahasan mengenai insentif tersebut bukan hal baru. INACA telah memperjuangkannya selama lebih dari satu dekade melalui berbagai forum bersama pemerintah dan pemangku kepentingan terkait.
Dengan biaya operasional yang lebih efisien, maskapai diyakini akan memiliki ruang lebih besar untuk meningkatkan kualitas layanan, memperluas jaringan penerbangan, serta memperkuat kondisi keuangan perusahaan.
Ia menambahkan bahwa keberhasilan kebijakan tersebut membutuhkan dukungan lintas kementerian, termasuk Kementerian Perhubungan, Kementerian Perindustrian, Kementerian Perdagangan, dan Kementerian Keuangan.
Optimistis Sambut Indonesia Emas 2045
INACA meyakini bahwa dengan penguatan pasar domestik, dukungan regulasi yang tepat, serta kolaborasi seluruh pemangku kepentingan, industri penerbangan Indonesia akan terus tumbuh dan menjadi salah satu penggerak utama ekonomi nasional dikutip Antara.
Potensi pasar yang besar, kebutuhan konektivitas yang tinggi, serta posisi strategis Indonesia sebagai negara kepulauan dinilai menjadi modal kuat untuk membangun industri penerbangan yang sehat, kompetitif, dan mampu bersaing di tingkat global.
Seiring langkah menuju visi Indonesia Emas 2045, sektor penerbangan diharapkan tidak hanya menjadi sarana transportasi, tetapi juga katalisator pembangunan ekonomi yang mampu menghubungkan peluang dan pertumbuhan di seluruh penjuru negeri.